//
you're reading...
Ekonomi Politik

Dampak Krisis Financial USA terhadap Indonesia (kumpulan artikel)


Rupiah Lemah, Perbankan Masih Aman

BANK Indonesia (BI) berpendapat pelemahan rupiah saat ini belum menekan ketahanan perbankan nasional.

Ini karena aturan penempatan valuta asing (valas) sudah dilaksanakan oleh perbankan. Berbeda dengan krisis 1997, BI kini juga telah mengetahui pencatatan valas perbankan.”Kami tidak melihat bahwa seperti tahun 1997, banyak eksposure yang tidak tercatat. Kami (sekarang) mengetahui,” kata Deputi Gubernur Senior BI Miranda Swaray Goeltom di Kantor Depkeu kemarin (10/10).

Nilai tukar rupiah kemarin sempat menembus Rp 9.860 per USD. Di pasar antarbank, rupiah bahkan sempat menembus Rp 10.000 per USD.

Miranda mengatakan pelemahan rupiah yang terjadi saat ini masih sejalan dengan beberapa mata uang lainnya. “Tentunya kami tetap waspada dan terus menjaga agar tidak terjadi pergerakan gejolak yang terlalu besar,” katanya.

Bank sentral meminta pasar tidak panik menghadapi situasi saat ini. “BI masih ada di sini, we care,” katanya.

Namun turbulensi di pasar finansial saat ini terjadi di seluruh dunia.

Bank sentral akan terus memantau perkembangan ekonomi global, dan berusaha agar dampaknya bisa seminimal mungkin. “Bahwa akan kena dampak rasanya sulit untuk dihindarkan. Tapi kita mencoba terus untuk meminimalkan,” kata Miranda.Guncangan di pasar global ini juga belum bisa dilihat dampaknya bagi perbankan saat ini. “Karena pengaruh terhadap bank jangka waktunya masih satu sampai dua bulan baru akan terlihat,” katanya.

(sof/fan)

Menakar dampak krisis finansial global

oleh : Fauzi Ichsan (Senior Vice President, Standard Chartered Bank)

Lama saya mengira bahwa krisis ekonomi terparah yang pernah saya alami adalah krisis moneter (krismon) Asia pada tahun 1997/9.

Ternyata dampak krismon Asia kalah jauh dibandingkan dengan krisis finansial yang melanda dunia sekarang. Sewaktu krismon Asia, setidaknya ada ‘surga aman’ atau ‘safe heaven’ bagi para investor global, yaitu di Amerika Serikat, Eropa dan Jepang.

Investor bisa menjual saham dan surat utangnya di Indonesia, Thailand dan Korea (walau rugi) yang mengalami krisis, dan membeli saham di bursa New York dan London. Sekarang, negara safe heaven pun mengalami krisis ekonomi yang parah. Investor kesulitan mencari safe heaven untuk memarkir dananya dan, karena pasar saham, surat utang dan komoditas semuanya anjlok, ‘cash is king again.

Seberapa parah krisis finansial dunia ini? Patokan ada. Lehman Brothers, Bear Stearns, Merrill Lynch, AIG, Freddie Mac dan Fannie Mae, sebagai lembaga finansial raksasa AS, selamat menghadapi resesi ekonomi AS paska serangan teroris tahun 2001. Mereka selamat manghadapi resesi ekonomi dunia akibat embargo minyak OPEC tahun 1973 dan selamat menghadapi dua perang dunia.

Mereka juga selamat menghadapi resesi ekonomi dunia tahun 1930-an yang sering disebut ‘the great depression”, akibat krisis keuangan AS pada 1929.

Namun, mereka tidak selamat menghadapi krisis kredit pembelian rumah (KPR) subprime di AS pada 2007/2008. Artinya, terpuruknya beberapa lembaga keuangan terbesar di dunia tersebut adalah indikasi bahwa permasalahan ekonomi AS dan dunia sekarang memang jauh lebih parah dari perkiraan kita sebelumnya.

Solusi global

Kepanikan investor dunia pun semakin parah. Bursa saham terjun bebas. Sejak awal 2008, bursa saham China anjlok 57%, India 52%, Indonesia 41% (sebelum kegiatannya dihentikan untuk sementara), dan zona Eropa 37%. Sementara pasar surat utang terpuruk, mata uang negara berkembang melemah dan harga komoditas anjlok, apalagi setelah para spekulator komoditas minyak menilai bahwa resesi ekonomi akan mengurangi konsumsi energi dunia.

Di AS, setelah melihat bursa saham Wall Street terus melorot, akhirnya kongres menyetujui program penyelamatan sektor keuangan (troubled asset recovery program- TARP) US$700 miliar yang diajukan oleh pemerintah. Namun, karena lamanya negosiasi politik antara pemerintah dan kongres, investor kecewa melihat politikus di Washington tidak memiliki sense of crisis.

Krisis pasar modal (saham dan surat utang) global sebetulnya hanya memengaruhi investor pasar modal. Tetapi krisis perbankan global bisa mempengaruhi sektor riil ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Intinya, sektor perbankan AS sedang terpuruk, kekurangan modal, dan (melihat banyaknya lembaga keuangan yang bangkrut) enggan meminjamkan dolarnya, termasuk ke bank-bank internasional di Eropa dan Asia.

Akibatnya, perbankan internasional kekurangan dolar untuk memberi pinjaman ke para pengusaha dunia, yang membutuhkan dolar untuk investasinya (untuk impor mesin, bahan baku, dan sebagainya), termasuk di Indonesia.

Suka atau tidak dolar AS tetap merupakan mata uang inti dalam dunia usaha. Akibatnya, walaupun suku bunga bank sentral AS (atau Fed Funds Target Rate) sudah diturunkan ke 1,5%, suku bunga London Inter-Bank Offer Rate (LIBOR), sebagai patokan suku bunga yang digunakan oleh pelaku ekonomi, melonjak tajam.

Inilah skenario buruk dunia keuangan: macetnya sistem pembayaran dan penyaluran kredit global sebagai ‘oksigen untuk napasnya dunia bisnis’. Suku bunga bank sentral bisa rendah, tetapi suku bunga kredit untuk pelaku bisnis, kalaupun bisa dapat pinjaman, sangat tinggi karena perbankan ketakutan meminjamkan dananya. Adalah lumpuhnya sektor perbankan global, bukan anjloknya pasar saham, yang sebetulnya bisa melumpuhkan pertumbuhan ekonomi dunia secara perlahan.

Akhirnya, bank sentral dunia mengerti betapa pentingnya melakukan kebijakan yang terkoordinasi. Tujuh bank sentral (termasuk US Federal Reserve, European Central Bank, Bank of England dan Bank of Canada) memangkas suku bunganya 0,5%. Ini merupakan yang pertama kalinya kebijakan suku bunga bank sentral dilakukan secara bersamaan dalam skala yang besar.

Apakah ini cukup? Tentu tidak. Kebijakan terkoordinasi bank sentral dan pemerintah dunia selebihnya harus ditujukan untuk memenuhi tiga sasaran. Pertama, memulihkan kembali sistem perbankan dan pembayaran global yang lumpuh agar sirkulasi dana internasional bisa normal kembali – dan bank bisa memberi kredit lagi.

Kedua, mengeluarkan aset bermasalah (terutama surat utang KPR subprime) dari perbankan AS dan memperbesar modal perbankan agar lebih bisa memberi kredit dalam jumlah yang bisa mendukung pertumbuhan ekonomi.

Ketiga, bank sentral dunia harus berani terus menurunkan suku bunga (untuk membantu meringankan bunga kredit) dan, yang lebih penting, pemerintah harus memperbesar belanjanya untuk pembangunan infrastruktur dan memberi stimulus ekonomi – karena investor swasta enggan berinvestasi dalam krisis likuiditas.

Apakah kebijakan yang dibutuhkan akan dilakukan? Jawabannya ya. Apakah akan berhasil? ‘Fifty-fifty’, mungkin ya, mungkin tidak, karena kebijakan ekonomi berskala global belum pernah dilakukan dalam sejarah, tetapi risiko terjadinya resesi ekonomi dunia yang parah akan lebih besar kalau bank sentral dan pemerintah dunia tidak melakukan apa-apa.

Kalau berhasil, kapan hasilnya akan kelihatan? Paling cepat dua tahun. Artinya, resesi ekonomi AS dan Eropa akan lebih parah (sementara pertumbuhan ekonomi dunia melambat) pada 2009, sebelum pulih pada 2010. Kenapa? Karena titik terburuk ekonomi AS dan Eropa belum tercapai: misalnya, turunnya harga properti AS (pemicu krisis subprime) belum berakhir (jumlah rumah yang belum terjual masih terlalu banyak), pabrik masih melakukan PHK masal dan masih banyak bank yang harus bangkrut.

Selain itu, dampak stimulus kebijakan moneter dan fiskal memang makan waktu lebih dari satu tahun. Kalau ekonomi dunia baru pulih 2010, kapan pasar saham global pulih? Paling cepat semester 1, 2009, karena pasar saham biasanya menguat 6-9 bulan sebelum sektor riil ekonomi pulih.

Dampak di Indonesia

Dampak resesi ekonomi AS dan Eropa terhadap Indonesia tentunya negatif, tetapi karena net-ekspor (ekspor dikurang impor) hanya menggerakkan sekitar 8% dari produk domestik bruto (PDB) Indonesia, maka dampaknya relatif kecil dibandingkan dengan negara tetangga yang ketergantungan ekspornya ke AS besar, misalnya Hong Kong, Singapura, dan Malaysia.

Seperti pada 2001/2002, atau terakhir kali AS mengalami resesi, ada tiga negara di Asia yang tidak terlalu terpukul ekonominya: China, India, dan Indonesia. Ketiga negara ini memiliki penduduk yang banyak sehingga belanja masyarakatnya merupakan motor penggerak ekonomi yang kuat. Untuk ekonomi Indonesia, dampak negatif kenaikan harga bahan bakar minyak sebesar 125% pada 2005 jelas lebih besar dari pada dampak resesi ekonomi AS.

Namun demikian, krisis finansial global dan lumpuhnya sistem perbankan global yang berlarut akan berdampak sangat negatif terhadap Indonesia, karena pembiayaan kegiatan investasi di Indonesia (baik oleh pengusaha dalam maupun luar negeri) akan terus menciut, penyerapan tenaga kerja melambat dan akibatnya daya beli masyarakat turun-yang akhirnya akan menurunkan pertumbuhan ekonomi.

Maka, sangatlah penting bagi bank sentral dunia untuk secepatnya memulihkan sistem perbankan dunia.

Washington

– Dampak krisis finansial yang kini sedang melanda Amerika Serikat (AS) bisa semakin serius. China, yang kini merupakan negara dengan cadangan terbesar di dunia sekaligus pemegang surat utang terbesar kedua AS, menyatakan kesiapannya untuk mengatasi krisis.Perdana Menteri China Wen Jiabao mengingatkan, krisis di AS bisa memberi dampak yang lebih serius kepada masyarakat internasional. Ia juga mengingatkan perlunya kerjasama untuk mengatasi krisis tersebut.

“Gejolak finansial yang masih berlanjut, sesungguhnya telah memberi dampak pada banyak negara dan dampaknya kemungkinan menjadi lebih serius,” kata Wen seperti dikutip dari AFP, Kamis (25/9/2008).

“Untuk mengatasi masalah ini, kita semua harus membuat semua usaha secara bersama,” kata Wen dalam pidatonya di depan PBB.

Presiden AS, George Walker Bush yang juga menghadiri telah menelepon Presiden China Hu Jintao untuk menjelaskan tentang masalah krisis finansial termasuk rencana penyelamatan bernilai US$ 700 miliar.

Menurut laporan media China, Presiden Hu mengatakan kepada Bush bahwa China menyambut baik rencana Washington untuk menstabilkan pasar finansial AS dan berharap bisa sukses.

PM Wen menambahkan, China juga siap untuk membantu masyarakat internasional yang kemungkinan terkena dampak dari krisis di AS. Ia menekankan, saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk ‘permusuhan’ dan ‘penuh prasangka’.

“China sebagai negara berkembang besar yang bertanggung jawab, siap untuk bekerja dengan komunitas internasional lain untuk memperkuat kerjasama, membagi kesempatan, memenuhi tantangan dan berkontribusi secara harmonis untuk mencapai pertumbuhan dunia yang berkesinambungan,” katanya lagi.

China kini tercatat sebagai negara paling besar dan paling cepat pertumbuhan ekonominya.

China memiliki cadangan devisa hingga US$ 1,8 triliun dan sebagian besar diinvestasikan dalam surat berharga AS.Congressional Research Service dalam laporannya di bulan Januari mengungkapkan, China kemungkinan memegang sekitar surat berharga AS senilai US$ 700 miliar per Juni 2006.

China menjadi pemegang surat berharga terbesar AS setelah Jepang

» Ekonomi & Bisnis – Finansial & Perbankan


Print Kirim Ke Teman

Kamis, 09 Oktober 2008 11:42 WIB

Krisis Keuangan AS Peluang Indonesia Jadi Mandiri

MEDAN–MI:

Krisis keuangan yang kini dialami Amerika Serikat (AS) harus dapat dimanfaatkan Indonesia untuk belajar lebih mandiri dan tidak lagi terlalu tergantung dengan negara adidaya tersebut.Menurut pengamat sosial Ansari Yamamah di Medan,Sumatra Utara, Kamis (9/10), Indonesia perlu mengalihkan orientasi pasar bisnis ke Timur Tengah dan negara Asia lainnya seperti Jepang dan China.

Sistem perekonomian Indonesia, ujarnya, selama ini selalu dibayang-bayangi oleh kekuatan AS yang memang memiliki kemampuan dan pengaruh besar dalam industri internasional. Oleh karena itu, krisis keuangan yang dialami negeri Paman Sam itu harus dijadikan peluang oleh Indonesia untuk melepaskan diri dari kungkungan negara yang menganut sistem ekonomi kapitalisme tersebut.

Ia mengatakan, Indonesia perlu mengalihkan orientasi utama pasar ekspornya dengan memaksimalkan kerjasama dengan negara-negara Timur Tengah seperti Mesir, Arab Saudi, Syria, Qatar dann Kuwait serta negara-negara Asia seperti Jepang, China dan Korea yang juga memiliki peluang pasar yang menjanjikan.

Indonesia tinggal menerapkan kebijakan yang mempermudah birokrasi dan meringankan pajak sehingga pelaku usaha, khususnya usaha kecil dan menengah (UKM), dapat berpartisipasi dalam meningkatkan ekspor nasional.

Apabila kebijakan tersebut dapat diterapkan, krisis keuangan yang dialami AS tidak akan memberikan pengaruh bagi perekonomian nasional.

Indonesia juga dapat menjadi bangsa yang mandiri sehingga tidak terus dibayang-bayangi dan terkungkung nama besar AS, kata alumni Leiden University Belanda itu. (Ant/OL-01)

Antisipasi Dampak Krisis Finansial AS
BI Diminta Berhati-hati

Jakarta-Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) meminta Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas moneter dan sektor keuangan domestik agar selalu berhati-hati dalam kebijakan mereka. Kehati-hatian itu terkait upaya mengantisipasi dampak krisis finansial AS dan menciptakan keyakinan pasar.
Direktur Perencanaan Makro Bappenas Bambang Prijambodo di Jakarta, Senin (29/9), mengatakan meski diperkirakan tidak berdampak signifikan, krisis AS tetap akan memberikan pengaruh pada perekonomian di dalam negeri.
Selain itu, kehati-hatian juga diperlukan mengingat sektor perbankan internasional, termasuk Indonesia, saat ini tengah menerapkan kebijakan moneter yang ketat (tight monetary policy-red) untuk mengantisipasi laju inflasi yang semakin cepat di masing-masing negara. “Tetapi intinya, selain masalah inflasi yang kalau pun turun tetapi tetap tinggi, ada gejolak eksternal lain yang saat ini masih dalam tahap resolusi, yaitu krisis keuangan di AS. Semua itu menuntut kebijakan otoritas moneter dan sektor keuangan kita tetap berhati-hati,” kata Bambang.
Menurut Bambang, langkah kehati-hatian sebaiknya diarahkan untuk mencermati perkembangan dari pengamanan kepercayaan sektor keuangan di tingkat global. Respons dari langkah kehati-hatian tersebut, katanya, akan terlihat dalam pengambilan keputusan suku bunga dan pengucuran pembiayaan.
Bambang menuturkan sebelum kejatuhan Lehman Brothers yang disusul meruginya American Insurance Group (AIG) di AS, tekanan ekonomi sektor keuangan berupa lonjakan harga komoditas sudah relatif stabil. Namun, kejatuhan Lehman Brothers dan AIG memunculkan kembali kekhawatiran krisis pada kalangan investor seperti perusahaan-perusahaan multinasional.
Kekhawatiran tersebut, kata dia, mendorong sebagian besar investor/perusahaan multinasional mulai menarik dana-dana jangka pendeknya di berbagai tempat, termasuk di Indonesia sejak awal September. “Ini sebenarnya yang mengakibatkan tekanan bagi rupiah,” katanya.
Kebijakan moneter ketat yang tengah dijalankan berbagai negara saat ini, tambahnya, menyebabkan terjadinya keterbatasan likuiditas di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Posisi perekonomian Indonesia secara keseluruhan sendiri, kata dia, masih berada dalam kondisi yang relatif aman karena masih ditopang pertumbuhan Asia yang masih cukup kuat dengan India dan China sebagai motor.

“Selama China dan India tidak terpukul, ekonomi Asia secara keseluruhan masih relatif aman. Kita sebagai negara yang memiliki sumber daya alam cukup baik–pola pertumbuhan Asia adalah mengolah sumber daya alam–maka hubungan yang berdampak positif bagi pertumbuhan ekonomi kita sebagai bagian dari negara-negara di Asia akan cukup kuat,” ujarnya.(ant)

Ketua Umum Hipmi Erwin Aksa Bicara Antisipasi Dampak Krisis Finansial

Sesalkan Kebijakan Bunga Tinggi, Siap Jika Harus PHK

Akankah krisis ekonomi 1997/1998 terulang? Gejalanya ke arah sana. Kurs rupiah terus melemah dan harga saham tak sekadar jatuh tapi runtuh. Bagaimana sikap dan antisipasi para pengusaha? Berikut petikan wawancara dengan Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Erwin Aksa kemarin:

Bagaimana Hipmi melihat krisis finansial global saat ini?

Menurut saya itu krisis finansial ini sudah dalam kategori sangat luar biasa. Bayangkan beberapa lembaga keuangan besar seperti Lehman Brothers, AIG, mengalami kebangkrutan dalam waktu yang tidak terlalu lama. Ada apa ini? Beberapa sudah di-take over. Meski begitu kita menilai gejolak ekonomi di Amerika Serikat belum terasa di Indonesia. Setidaknya hingga akhir tahun.

Apakah pemerintah kelihatan terlalu ketakutan menghadapi gejolak krisis finansial AS itu?

Saya pikir memang begitu. Kita melihat pemerintah terlalu reaktif menghadapi krisis finansial di Amerika Serikat itu. Yang kita sesalkan Bank Indonesia memutuskan untuk menaikkan BI rate di tengah kondisi seperti ini. BI rate naik 25 basis poin, sementara negara lain seperti Australia justru menurunkan hingga 100 basis poin utnuk menggerakkan sektor riil. Padahal semua orang tahu, kenaikan BI rate itu akan membebani pengusaha.

Apa yang seharusnya dilakukan pemerintah untuk meredam gejolak ini?

Biasa-biasa sajalah seperti tidak ada apa-apa. Tetapi tetap sikapi segala perubahan dengan sebaik mungkin sehingga keputusan pemerintah tetap baik bagi semuanya termasuk pengusaha. Kalau memang sejak awal pemerintah ingin fokus menggerakkan sektor riil ya sudah fokus aja. Yang lain nanti dulu. Yang pasti kita menilai pemerintah terlalu reaktif dalam menghadapi masalah ini.

Bagaimana sikap Hipmi menghadapi situasi yang tidak kondusif seperti ini, apakah akan ada efisiensi?

Pasti kita akan melakukan efisiensi kalau situasinya seperti ini. Bisa jadi itu kita lakukan dengan melakukan pemutusan hubungan kerja atau PHK. Itu sudah menjadi konsekuensi kalau daya saing produk kita terus berkurang sementara biaya produksi meningkat.

Belum lagi kita terserang produk-produk yang dialihkan dari Amerika Serikat ke Indonesia. Ini yang harus diantisipasi.Bagaimana cara untuk mengamankan produk dalam negeri dari serangan produk asing?

Bea Cukai harus bekerja ekstra keras untuk mencegah hal itu terjadi (masuknya produk asing secara ilegal). Memang kecenderuangannya akan ada peningkatan karena mereka pasti pasar yang potensial selain Amerika dan Indonesia merupakan pasar yang potensial karena penduduknya besar. Tapi pemerintah bisa juga menaikkan tarif impor terhadap produk-produk tertentu supaya tidak banyak yang masuk. Produk tekstil dan sepatu yang saya pikir paling banyak mendapat tekanan.

Sampai kapan situasi seperti ini akan berlangsung?

Dampak buruk krisis finansial Amerika Serikat ini bisa saja dipercepat (selesainya, Red) asal pemerintah tidak panik. Langkah-langkah antisipasi sedang dilakukan dan dikaji. Yang penting bagaiamana menjaga agar produk dalam negeri mampu berkompetisi dengan produk impor. Kalau perlu beri insentif untuk mengurangi efek suku bunga tinggi. Buat saja Inpres, Perpres atau apa sajalah untuk memberikan dorongan bagi pengusaha.

Apakah perlu ada proteksi terhadap industri dalam negeri supaya tidak terimbas krisis ini?

Tentu saja perlu karena produk kita daya saingnya masih lemah. Apalagi menghadapi produk Tiongkok yang murah karena mendapat subsidi bunga kredit perbankan untuk perusahaan yang produknya diekspor. Kita juga minta supaya penyerapan dana APBN juga dipercepat untuk menggerakkan sektor riil. Saat ini penyerapan APBN masih sangat rendah.

Alasannya banyak instansi pemerintah takut menggelar tender karena ada KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi)?

Itu yang harus diubah paradigmanya. Justru KPK, kepolisian harus dilibatkan supaya dengan paradigma yang sama yaitu untuk meningkatkan pembangunan. Kalau tender berjalan dengan baik maka penyerapan APBN akan optimal. Ini memang masih perlu disatukan bahasanya antara KPK, polisi dan aparat pemerintah agar tidak takut menyelenggarakan tender.

(wir/fan)

Empat Jurus Atasi Krisis

SBY Kumpulkan Pelaku Ekonomi

JAKARTA – Situasi pasar keuangan global diperkirakan masih tidak menentu hingga tahun depan, bahkan sampai beberapa tahun mendatang. Namun, perekonomian domestik dan APBN 2008 diperkirakan masih aman. Karena itu, pemerintah dan bank sentral kini lebih fokus mengantisipasi dampak krisis finansial pada 2009.

”Perekonomian 2008 secara makro akan dijaga. Namun, kita tidak mengurangi kewaspadaan. Sedangkan 2009 dan 2010 adalah masa kritikal,” kata Plt Menko Perekonomian Sri Mulyani Indrawati. Pernyataan tersebut disampaikan kepada pemimpin redaksi media massa setelah rapat koordinasi membahas dampak krisis finansial global terhadap perekonomian dan APBN di Jakarta kemarin (5/10).

Rapat itu diikuti menteri-menteri ekonomi Kabinet Indonesia Bersatu. Hadir pula Gubernur Bank Indonesia (BI) Boediono dan Deputi Gubernur Senior BI Miranda Swaray Goeltom. Sri Mulyani mengakui, dampak krisis finansial yang dipicu AS tidak bisa dielakkan lagi. “Untuk Indonesia, jalur yang dilihat sisi neraca pembayaran. Ini berdampak pada policy keseluruhan,” kata Sri Mulyani yang juga menjabat menteri keuangan.

Pemerintah, lanjut dia, tetap menginginkan aliran modal masuk ke Indonesia. Ketika capital inflow melalui pasar modal berkurang, itu diharapkan bisa terkompensasi dari aliran dana lainnya. Di antaranya, menggenjot ekspor yang mendongkrak neraca perdagangan dan penanaman modal asing langsung (FDI).

Keinginan tersebut akan dipenuhi dengan sejumlah langkah. Langkah konvensional dilakukan dengan memberikan insentif kepada dunia usaha. Di sini, PP No 1/2007 tentang insentif pajak bagi usaha dan daerah tertentu akan diimplementasikan. Paket kebijakan ekonomi lawas melalui Inpres 5/2008 juga terus dijalankan. “Paket ekonomi tidak perlu direvisi. Tapi, memang harus dibuatkan prioritas,” ujarnya.

Kebijakan nonkonvensional juga dilakukan melalui pemangkasan defisit APBN. Sebab, pembiayaan melalui penerbitan surat utang makin sulit dilakukan. Selain situasi masih tak menentu, likuditas di pasar global akan mengering. Apalagi, setelah pemerintah AS menganggarkan dana program penyelamatan darurat senilai USD 700 miliar (sekitar Rp 6.440 triliun). Selain dari pajak yang dibayar rakyat AS, dana tersebut bakal dicarikan dari penerbitan obligasi di pasar.

Langkah lainnya adalah melaksanakan program jaring pengaman sosial yang tidak konsumtif sehingga mampu menciptakan lapangan kerja.

Upaya lain adalah dengan menjaga stabilitas harga pangan dan energi. “Ketahanan pangan berhubungan dengan hajat hidup orang banyak. Jadi, ini akan diakselerasi,” kata Menkeu.

Boediono menambahkan, krisis finansial global kali ini berbeda dengan krisis ekonomi 1997. Selain episentrumnya berada di AS, tekanan dari aset beracun (toxic asset) yang menjadi pemicu krisis tidak banyak berada di tanah air. Meski demikian, bank sentral tetap waspada dan terus memantau dampak bagi ekonomi domestik.Kewaspadaan harus tetap ada karena situasi masih tidak menentu dalam enam bulan hingga setahun mendatang.

Koordinasi antara pemerintah dan BI diharapkan bisa memperkuat daya tahan ekonomi domestik. “Saya optimistis, BI dan pemerintah bisa menghadapi. Kita harapkan sektor lain menyatu, termasuk dunia usaha. Karena ini menyangkut rumah kita,” jelasnya.Kondisi perbankan saat ini juga masih lebih kuat dibandingkan 2007. Hingga Agustus, rasio kecukupan modal (CAR) rata-rata 16 persen, jauh di atas ambang minimal 8 persen. Kredit bermasalah (NPL) pun hanya 3,95 persen, di bawah batas toleransi 5 persen. “Ini bekal kita menghadapi krisis dunia,” imbuh Boediono.

Kredit juga tumbuh cepat di kisaran 36 persen. Pertumbuhan kredit itu diharapkan tetap mendukung laju ekonomi dan inflasi yang wajar.

Andalkan Domestik

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono siang ini (6/10) mengumpulkan para pelaku ekonomi di gedung utama Sekretariat Negara. Mereka yang diundang, antara lain, BI, Kadin, perbankan nasional, pimpinan BUMN, pengusaha swasta, pengamat ekonomi, dan pemimpin media massa.

Juru Bicara Kepresidenan Andi A. Mallarangeng mengatakan, presiden akan memberikan pemaparan tentang langkah-langkah antisipasi pemerintah menghadapi gejolak ekonomi di Amerika.

”Krisis di AS bisa berdampak bagi Indonesia. Presiden ingin menjelaskan situasi yang terjadi, juga menjelaskan bahwa pemerintah sedang dan terus melakukan antisipasi,” kata Andi Mallarangeng kemarin (6/10).

Selain presiden, lanjut Andi, Sri Mulyani dan Boediono akan memberikan paparan. ”Kami akan menjelaskan apa yang diinginkan pemerintah dari para pelaku ekonomi. Sebaliknya, pemerintah juga ingin tahu apa yang diinginkan para pelaku ekonomi. Presiden akan meminta masukan dari mereka,” kata Andi.

Dengan pertemuan itu, kata Andi, pelaku ekonomi dan masyarakat bisa yakin bahwa fundamental ekonomi Indonesia cukup kuat dan kukuh menghadapi serangan krisis dari AS.

Dari Makassar, Wakil Presiden Jusuf Kalla yakin bahwa perekonomian domestik tidak akan banyak terganggu karena AS bukan negara tujuan utama ekspor Indonesia. ”Indonesia bukan Tiongkok atau India yang menjadikan Amerika sebagai pasar utama ekspornya. Lagi pula, ekspor kita ke Amerika didominasi sektor energi primer yang tidak terpengaruh ketatnya likuiditas di Amerika dan negara-negara maju lainnya,” ujar Kalla di sela open house di kediaman pribadinya tadi malam (5/10).

(sof/owi/noe/tom/iw/oki

Tak Akan Menjelma Jadi Krisis

Perdagangan Saham Batal Buka

Sabtu, 11 Oktober 2008 | 03:00 WIB

Jakarta, Kompas – Kejatuhan bursa saham dan nilai tukar rupiah yang terjadi dalam sepekan ini dinilai kecil kemungkinan menjelma menjadi krisis ekonomi berupa ambruknya perbankan dan sektor riil. Untuk meningkatkan kepercayaan pelaku pasar, pemerintah sebaiknya fokus menjaga daya beli masyarakat.

Demikian kesimpulan diskusi panel Kompas yang menghadirkan pengamat ekonomi Faisal Basri, Kepala Ekonom BNI Tony Prasetiantono, pengamat pasar modal dan perbankan Mirza Adityaswara, serta Ketua Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia Erwin Aksa Mahmud, Jumat (10/10) di Jakarta.

Para panelis menilai tingkat krisis yang dihadapi Indonesia sangat berbeda dengan Amerika Serikat (AS), Eropa, dan negara maju lainnya. Di AS, krisis telah merasuk ke semua sektor, mulai dari pasar modal, perbankan, hingga sektor riil.

Namun, di Indonesia krisis hanya terjadi di pasar modal. Krisis yang terjadi di pasar modal dinilai tidak mudah bertransmisi ke sektor lain mengingat kontribusi pasar modal dalam sistem keuangan Indonesia amat kecil.

Hal senada dikatakan Wakil Presiden Jusuf Kalla di tempat terpisah. Menurut Kalla, sebenarnya ekonomi tidak terlalu terpengaruh dengan ambruknya bursa dunia, seperti Wall Street. ”Perbedaannya, kita banyak menggantungkan pada ekonomi domestik. Seperti di AS, pengaruh bursa itu sampai 1,5 kali dari produk domestik bruto mereka. Kalau kita pengaruhnya hanya 20 persen. Jadi, jangan terlalu dirisaukan,” kata Wapres.

Faisal Basri mengingatkan, penyesuaian yang terjadi di pasar modal dan nilai tukar domestik merupakan hal wajar karena seluruh dunia terkena imbas krisis keuangan AS.

Penurunan ekonomi AS dan Eropa juga tak perlu dikhawatirkan mengingat peran mereka dalam perdagangan dunia makin menyusut. Sebagai gantinya, kini muncul kekuatan ekonomi baru, seperti China, India, dan Rusia.

Tony Prasetiantono menjelaskan, krisis keuangan global yang terjadi saat ini merupakan koreksi atas kesenjangan (gap) yang terjadi antara pertumbuhan sektor riil dan sektor finansial.

Koreksi berupa penurunan harga-harga di sektor finansial dan kenaikan harga-harga di sektor riil, seperti harga komoditas.

Mirza Adityaswara menambahkan, untuk meningkatkan kepercayaan diri para pelaku pasar, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) harus lebih fokus menjaga ketahanan sistem perbankan. Sebab, kehancuran sektor inilah yang sebenarnya dapat memicu krisis ekonomi.

Kondisi perbankan juga sangat menentukan pertumbuhan ekonomi. Investasi swasta dan konsumsi rumah tangga, yang selama ini menopang pertumbuhan ekonomi, amat mengandalkan kredit sebagai sumber pembiayaan.

Erwin Aksa Mahmud mengatakan, yang menjadi prioritas saat ini adalah menjaga daya beli masyarakat tidak turun agar ekonomi tetap tumbuh. Caranya, memberikan insentif kepada sektor riil dan menyetop kenaikan suku bunga.

Batal buka BEI

Jumat kemarin, pemerintah membatalkan rencana pembukaan kembali perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hal ini dilakukan karena otoritas bursa ingin melindungi emiten. Emiten perlu dilindungi dari kemungkinan keterpurukan nilai harga saham akibat sentimen negatif pasar terhadap kondisi keuangan global yang sedang krisis.

”Kami tidak ingin perusahaan Indonesia yang listed (terdaftar di BEI) menghadapi imbas yang tidak perlu, hanya karena masalah sistemik dari krisis keuangan global. Jadi, yang kami cari adalah waktu yang tepat (untuk membuka kembali bursa),” kata Menteri Keuangan sekaligus Pelaksana Jabatan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Sri Mulyani Indrawati.

Penyesatan

Sementara itu, Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-LK) mengakui adanya penyesatan informasi atas perdagangan sejumlah saham di BEI. Penyesatan informasi tersebut telah mengakibatkan harga saham sejumlah emiten jatuh di posisi yang cukup rendah.

”Memang ada pihak-pihak yang kami curigai sengaja memberikan informasi yang salah supaya harga saham jatuh, lantas nanti ada yang mau ambil. Saya tak mau bilang siapa karena tidak etis,” kata Ahmad Fuad Rahmany, Ketua Bapepam-LK, sambil menambahkan, pihak yang menyesatkan informasi di pasar modal itu ada yang berasal dari kalangan investor dan ada dari perusahaan sekuritas atau broker.

Menurut dia, Bapepam-LK akan memeriksa investor dan broker yang diduga telah melanggar peraturan pasar modal itu setelah situasi mereda.(FAJ/REI/HAR/OIN)

http://cetak.kompas.com/

Sabtu, 04 Oktober 2008 12:08 WIB

Metrotvnews.com, Jakarta: Pengamat ekonomi Iwan Jaya Azis menilai, program penyelamatan diperlukan untuk menyelamatkan perekonomian Amerika Serikat sekaligus mencegah krisis ekonomi global. Hal ini karena lembaga keuangan memainkan peranan penting dalam perekonomian suatu negara.

Sementara itu, ekonom dari Universitas Gajah Mada Yogyakarta Sri Adiningsih menilai, sampai sejauh ini Pemerintah Indonesia belum mempersiapkan langkah-langkah strategis untuk mengantisipasi dampak krisis finansial Amerika Serikat. Padahal, kata Adiningsih, bila krisis finansial Amerika Serikat tidak segera teratasi dampaknya terhadap perekonomian Indonesia bisa lebih buruk dibandingkan krisis ekonomi tahun 1998.

Suara yang sama diutarakan pengamat ekonomi Aviliani. Aviliani mengingatkan pasar dalam negeri agar tetap waspada. Menyusul persetujuan DPR Amerika Serikat atas penyelamatan dengan dana US$ 700 miliar itu, kata Aviliani, ada kemungkinan perusahaan-perusahaan Amerika akan menerapkan politik banting harga. Ini akan menghambat ekspor Indonesia.

Sementara Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia Mumamad Hidayat menilai, pengesahan RUU penyelamatan ekonomi Amerika Serikat bisa mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia ke Amerika Serikat. Hal ini karena dua sampai tiga tahun ke depan Amerika Serikat harus kerja keras untuk mengatasi krisis. Untuk itu, dunia usaha dan Pemerintah Indonesia harus segera mencari pasar alternatif.(DOR)

Rizal Ingatkan Dampak Krisis AS

Windi Widia Ningsih

Rizal Ramli
(inilah.com/Noerma)

INILAH.COM, Jakarta – Terjadinya krisis finansial yang dialami Amerika Serikat sangat berpengaruh pada pertumbuhan perekonomian Indonesia.

Untuk mengantisipasi adanya imbas terhadap perekonomian nasional akibat tekanan krisis keuangan global, maka Indonesia harus melakukan perubahan besar.

“Jelas ada pengaruhnya karena ekonomi Amerika adalah ekonomi yang sangat besar. Nah selama empat tahun terakhir kinerja makro Indonesia lumayan bagus. Tetapi karena tidak ada kaitanya dengan sektor rill, maka yang terjadi di Indonesia adalah pertumbuhan ekonomi yang tidak tampak menumbuhkan lapangan kerja,” ujar Ketua Komite bangkit Indonesia (KBI) Rizal Ramli, saat menemui Hariman Seregar, di klinik Spesialis Baruna Cikini, Jakarta, Kamis (25/9).

Menurut Rizal, sewaktu makroekonomi bagus saja, rakyat mengalami kesulitan dan pengangguran makin tinggi. Tak terbayang jika kondisi makroekonomi mengalami kemerosotan pada 2008 dan 2009.

Jika itu terjadi, kata mantan Menko Perekonomian di era Presiden KH Abdurrahman Wahid itu, maka neraca perdagangan dan ekspor Indonesia akan mengalami penurunan karena harga komoditas juga turun.

“Jadi yang terpenting buat rakyat adalah kalau kondisi makro bagus saja selama empat tahun terakhir, rakyat tidak dapat apa-apa, hidupnya makin sulit. Bagaimana jika kondisi makronya makin jelek, rakyat tentu akan semakin sulit,” tambahnya.

Untuk mengatasi dampak yang terjadi karena krisis finansial Amerika, maka pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, yang selama ini menganut paham neo liberal, harus melakukan perubahan agar rakyat terhindar dari kesulitan yang selama ini terjadi.

“Memang harus ada perubahan, dengan mimpi yang baru, jalan baru dan pemimpin baru, baru bisa ada perubahan yang berarti,” pungkasnya.[L2]

Tags : krisis keuangan as

Antisipasi Krisis, Perppu Disiapkan

Reni Herawati

Sri Mulyani
(inilah.com/Wirasatria)

INILAH.COM, Jakarta – Pemerintah akan segera mengajukan Peraturan Pengganti Undang-undang (Perppu) tentang kondisi krisis kepada DPR.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan Perppu tersebut nantinya akan menjadi pedoman bagi pemerintah untuk mengantisipasi krisis global yang mungkin merembet ke Indonesia.

“Mengingat situasi sangat kritikal, pemerintah akan menentukan atau melakukan berbagai proposal, di antaranya menyampaikan Perppu kepada DPR terhadap perubahan aturan perundang-undangan,” kata Menkeu saat jumpa pers di Gedung Depkeu, Jakarta, Kamis (9/10) malam.

Perubahan peraturan perundang-undangan tersebut, lanjut Menkeu, akan membuat BI, pemerintah, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), merespons atas persoalan yang sekarang muncul atau dalam suasana yang sifatnya khusus, yaitu terjadinya krisis di negara lain yang memicu penularan sentimen negatif.

Perppu itu bisa berhubungan dengan mekanisme penjaminan simpanan, kemudian mekanisme atau kriteria maupun persyaratan BI untuk melakukan support likuiditas kepada perbankan, jelasnya.

Perppu itu juga memuat Jaring Pengaman Sektor Keuangan (JPSK) dan LPS. Namun, menkeu mengaku masih melakukan evaluasi terkait rencana menaikkan jaminan LPS.

Menurutnya, dengan adanya Perppu itu, pemerintah, BI, LPS, dan Forum Stabilisasi Sektor Keuangan (FSSK) dapat mengambil keputusan dalam suasana yang lebih pasti.

Menkeu menambahkan pemerintah masih dalam proses pematangan Perppu pada DPR. Pasalnya, hal itu erat kaitannya dengan Undang-undang.

“Tujuannya melengkapi kemampuan pemerintah bersama BI untuk me-manage situasi ini,” paparnya.[L2]

Tags : krisis global, menkeu

Menkeu Terlihat Sekali Panik

Reni Herawati

Bambang Soesatyo

INILAH.COM, Jakarta – Pemerintah tampak sekali panik menghadapi tekanan kejatuhan bursa saham yang terimbas kejatuhan bursa global dan regional menyusul ambruknya sektor keuangan AS.

Batalnya keberangkatan Menkeu Sri Mulyani ke Dubai dan juga penutupan Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai sebagai sinyal atas kepanikan pemerintah terhadap krisis ekonomi global.

“Pemerintah minta rakyat jangan panik, tetapi pemerintah sendiri menjadi begitu sensitif dan mudah panik,” kata Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo melalui pesan singkatnya yang diterima INILAH.COM, Jumat (10/10).

Lebih lanjut Bambang menyebutkan bahwa kasus maju-mundur rencana membuka perdagangan BEI Jumat (10/10) ini mencerminkan otoritas bursa tidak akurat dan kurang cermat menghitung berbagai kemungkinan.

“Penutupan (BEI) Rabu berlatar belakang maraknya short selling dan gagal bayar emiten tertentu. Kita masih harus menunggu penjelasan tentang penyebab otoritas BEI menghentikan transaksi Jumat,” jelasnya.

Potensi anjloknya IHSG pada perdagangan Rabu (8/10), kata Bambang, sebenarnya sudah diprediksi sebelumnya, karena investor asing telah memberi sinyal untuk keluar dari BEI.

“Mengingat 60% portofolio saham di pasar modal kita berada dalam kontrol asing. Hengkangnya mereka akan merontokkan IHSG dalam sekejap,” urainya.

Mestinya, kata Bambang, suspensi BEI diperpanjang dan dibuka kembali setelah kecemasan pasar mereda.

“Idealnya, BEI dibuka lagi setelah pasar tenang dan rupiah menguat,” paparnya.[L2]

Tags : menkeu, krisis global

Manajemen Krisis Bisa Cegah Dampak Gejolak Finansial AS

Minggu, 21 September 2008 21:07

Asia sudah melewati krisis finansial terburuk 11 tahun silam. Krisis tersebut kini berulang di Amerika Serikat, dengan kondisi yang lebih buruk dan kompleks, serta dampak yang lebih luas.

Jakarta (Suaramedia) Kamar Dagang Indonesia mendesak pemerintah untuk segera membentuk Protokol Penanggulangan Krisis (PPK) atau Crisis Management Protocol (CMP). Langkah ini mendesak untuk menghalau dampak krisis keuangan yang tengah terjadi di AS sehingga krisis 1998 tak perlu terulang lagi.Demikian disampaikan Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Indonesia Bambang Soesatyo dalam pesan singkat yang diterima detikFinance, Minggu (21/9/2008). “Presiden harus segera mengambil langkah-langkah taktis antisipatif, sebagai bentuk pertahanan ekonomi negara. Dalam situasi seperti sekarang, idealnya kita sudah harus
memiliki crisis management protocol (CMP),” ujarnya.

Namun Bambang mengingatkan, PPK tak hanya harus segera dibentuk, tapi juga harus
diberi kewenangan karena PPK tidak bisa bekerja jika tak ada payung hukumnya.

Menurut Bambang, seharusnya Indonesia bisa belajar dari krisis moneter pada 1998 yang mematikan sektor perbankan. Maka kini, untuk menghadapi krisis finansial di AS pemerintah harus melindungi sistem perbankan dalam negeri.

“Maka dengan begitu publik menjadi yakin bahwa dana mereka di bank aman. Artinya, ini juga mencegah terjadinya rush,” sambungnya.Di sisi lain, pemerintah dan otoritas moneter juga diminta tetap menjaga kredibiitas. Salah satu caranya dengan menyebarkan infromasi kepada masyarakat mengenai aspek ketahanan negara.
“Sebarluaskan informasi tersebut secara intensif.

Misalnya, data tentang cadangan devisa negara serta kemampaun perbankan melayani penarikan dana masyarakat. Langkah mengerem laju pertumbuhan kredit sudah tepat karena likuiditas bank perlu dijaga. Usai Lebaran, pengetatan likuiditas di pasar dimulai lagi,” tambahnya.Ia juga menambahkan, BI jangan terlalu gegabah dalam merespons gejolak di pasar uang dalam negeri. Kalau hot money bergerak keluar (capital outflow), tidak seharusnya selalu direspons dengan intervensi melindungi rupiah. Baginya intervensi memang diperlukan, tapi harus terukur agar tidak menguras cadangan devisa.
“Tak ada salahnya jika rupiah menemukan keseimbangan baru di tengah ketidakpastian global sekarang ini,” pungkasnya.dkf )
[ Jawapos Selasa, 21 Oktober 2008 ]
Dampak Krisis, Anggaran Terpangkas Rp 14 Triliun

JAKARTA – Krisis keuangan global mulai mengancam anggaran Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). Yang paling gres, anggaran pendidikan 2009 yang dipatok 20 persen dari anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) terancam dipotong Rp 14 triliun. Sebab, terjadi defisit anggaran akibat krisis keuangan global.

Bukan hanya Depdiknas, kementerian atau lembaga lain akan mengalami hal yang sama. ”Rencananya, semua anggaran kementerian lembaga dipotong sekitar 20 persen. Jadi, anggaran Depdiknas yang sebelumnya triliun,” ujar Wakil Ketua Komisi X DPR Heri Akhmadi di Jakarta kemarin (20/10).

Namun, lanjut dia, pemerintah dan DPR menjamin pemotongan tersebut tidak akan dilakukan terhadap program-program strategis. ”BOS (bantuan operasional sekolah, Red) dan tunjangan guru tidak akan dipotong,”sekitar Rp 75 triliun akan dipotong Rp 14 triliun dan menjadi hanya Rp 61 tegasnya.

Sebagaimana diketahui, anggaran kementerian dan lembaga pada 2009 akan dipangkas 10-15 persen akibat defisit anggaran menyusul terjadinya krisis keuangan global. Padahal, seperti diketahui, tahun depan pemerintah berjanji memenuhi amanat UUD 1945 dengan membuat anggaran pendidikan minimal 20 persen dari APBN.

Saat berpidato tentang RAPBN 2009 dan nota keuangan di gedung DPR, 16 Agustus 2008, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan bahwa anggaran pendidikan dalam APBN 2009 akan berjumlah Rp 224 triliun. Hal itu termasuk tambahan anggaran pendidikan Rp 46,1 triliun pada nota keuangan tambahan. Sementara itu, perkiraan pagu sementara Depdiknas 2009 mencapai Rp 75 triliun.

Heri menyatakan, pemotongan tersebut susah diberlakukan bagi anggaran rutin seperti gaji guru. Sebab, anggaran rutin sudah masuk dalam dana alokasi umum (DAU). ”Kalau rencana itu direalisasikan, salah satunya adalah alokasi anggaran Ditjen Dikti (Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Red) akan dipotong lebih dari Rp 2 triliun. Pemotongan itu pun akan dibagi proporsional ke masing-masing ditjen,” ungkapnya.

Menteri Pendidikan Nasional (Mendiknas) Bambang Sudibyo meyakinkan bahwa Presiden SBY tetap berkomitmen mengalokasikan anggaran pendidikan 20 persen dari APBN. Karena itu, bila ada penghematan anggaran, program-program yang dinilai tidak terlalu mendesak akan dikorbankan. ”Program-program yang berprioritas rendah seperti seminar- seminar atau penelitian yang tidak mendesak akan ditunda dulu,” ujarnya.(zul/nw)

About 3setiyanto

Lahir di lereng lawu, Dekat kebun Teh dan Kopi tapi barubelajar cara menikmati Teh dan Kopi

Diskusi

25 thoughts on “Dampak Krisis Financial USA terhadap Indonesia (kumpulan artikel)

  1. Hey There. I discovered your blog the usage of msn. This is a really smartly written article. I’ll make sure to bookmark it and come back to learn more of your helpful information. Thanks for the post. I’ll definitely comeback.

    Posted by We took over this company... | Juli 21, 2012, 12:49 pm
  2. cukup membantu

    Posted by shari putri | Desember 24, 2010, 11:50 am
  3. betul banget krisis memang harus di hentikan!!!!!!! tapi priwe carane ya….

    Posted by rofiatul hasanah | Mei 15, 2009, 12:40 pm
  4. Ah apa hubungan Yesus Kristus dengan krisis, beliau sudah wafat kembali menghadap kepada Allah. Sedangkan Allahlah yang berkuasa.

    Posted by jack | April 30, 2009, 5:41 pm
  5. menurut saya masih bisa kok RI lepas dari krisis global asalkan semua rakyat dan pemerintah mendekatkan diri pd TUHAN YESUS KRISTUS

    Posted by Albert siahaan | April 30, 2009, 2:11 pm
  6. Nie artikel bagus banget!!
    coz’y ngebantu tugas nax2 skull kaya ujie..
    thank’s ea..
    tetap pertahankan!!

    Posted by F_uji | Februari 26, 2009, 8:39 pm
  7. Betul…. Sekali. Mari kitra mulai membenahi, dari tingkatan yang puaaaa….ling kueeee…cil sekalipun.

    Posted by Ibune Ayu | Januari 28, 2009, 2:11 am
  8. Assalamu alaikum. This is my first visit. Saya sedang cari artikel tentang global krisis dan dampak pada Indonesia untuk tugas kuliah dan saya diarahkan ke blog saudara. Nice eh bukan.. great artikel, bisa jadi tambahan pengetahuan.. terima kasih.. salam kenal..

    Posted by wahyuJK | Desember 12, 2008, 7:50 pm
  9. akibat kapitalisme yang sudah mengakar. akhirny kita semua yang kena imbas dari krisis global ini. namun sangat sayangkan kalau kita selalu berjibaku tangan terhadap negara-negara maju seperti amerika seritak. sudah saatnya kita bangun dengan kemandirian kita sebagai negara yang memiliki kekayaan alam yang sangat luas ini. bumi nusantara ini butuh SDM yang berkualitas. bukan untuk saling menuding siapa yang salah….!!!

    Posted by maftuhi_06 | Desember 10, 2008, 8:43 am
  10. mohon bantuannya untuk dapat membantu saya. Saya mencari artikel dengan tema pengaruh portofolio terhadap ekonomi secara makro ( ekonomi makro). Tolong bantuannya.
    Terima Kasih.

    Posted by bingz | November 25, 2008, 8:48 am
  11. seandainya, “kita semua” (masyarakat Indonesia), mau: 1. Kompak (tidak saling menyalahkan dan tidak ada lagi “kelompok” yang merasa paling benar). 2. Serius dan sungguh-sungguh untuk taat pada aturan dan hukum yg berlaku dinegeri ini. 3. Merasa malu (hina) berbuat salah. 4. Aparatur yang korup…ya sudahlah (maaf) dihukum mati saja. 5. dst.dst

    Posted by HENDY DAMANIK | November 1, 2008, 6:05 pm
  12. Iya betul mas Simon kita mbangun Negara sesuai bidangnya masing2.. Tapi pengetahuan umum yaa harus ngerti tha?.

    Posted by Tri Setiyanto | Oktober 28, 2008, 4:54 pm
  13. jangan cuma bikin artikel saja
    ayo bangun lagi buat bangsa

    Posted by simon | Oktober 28, 2008, 1:15 pm
  14. slm kenal juga

    Posted by Tri Setiyanto | Oktober 21, 2008, 10:22 am
  15. Bagus nih artikelnya. Buat pengetahuan tambahan. nice Post dan salam kenal.

    Posted by fantasyforever | Oktober 21, 2008, 5:42 am
  16. ini juga cocok untuk ilmu management ekonomi keluarga lho..

    Posted by Tri Setiyanto | Oktober 21, 2008, 1:09 am
  17. besar pasak dari pada tiang itu memang suatu hal yang perlu dihindari karena bisa menyebabkan kebangkrutan

    Posted by ikankoi | Oktober 20, 2008, 12:21 pm
  18. Thx.. ini sebuah postingan yang cukup jujur dan infomatif..

    Posted by yanti | Oktober 19, 2008, 4:47 pm
  19. Promosikan artikel anda di http://www.infogue.com. Telah tersedia widget shareGue dan pilihan widget lainnya serta nikmati fitur info cinema, game online & kamus untuk para netter Indonesia. Salam!
    http://fiskal-moneter.infogue.com/dampak_krisis_financial_usa_terhadap_indonesia_kumpulan_artikel_

    Posted by asuna17 | Oktober 16, 2008, 3:27 pm
  20. numpang info :
    Alat Pengubah Air Jadi Gas Ditemukan di Mampang
    silahkan ke :
    http://asahannews.wordpress.com/2008/10/16/alat-pengubah-air-jadi-gas-ditemukan-di-mampang/

    Posted by syahrizal pulungan | Oktober 16, 2008, 3:20 pm
  21. meneandakan kapitalisme yang bakalan hancur …

    Posted by Muda Bentara | Oktober 16, 2008, 12:53 pm
  22. Untung saya hidup di Indonesia yang terbiasa hidup miskin…

    Tapi, Miskin bukanlah kriminal

    Kriminal sesungguhnya adalah membuat orang lain miskin

    Posted by aditcenter | Oktober 16, 2008, 11:08 am
  23. sabar-sabar….

    Posted by Admin | Oktober 16, 2008, 10:50 am
  24. Jika orang Amerika Serika mengalami kemiskinan seperti di Indonesia sekarang ini, mereka tidak bisa membayangkannya, mereka menganggap sangat mengerikan. Kalau di orang Indonesia sudah terbiasa dengan kemiskinan, jadi lebih tahan.

    Posted by warno | Oktober 15, 2008, 7:24 pm
  25. artikel yg bagus..

    .^^v

    Posted by raram | Oktober 15, 2008, 3:06 pm

tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 475,381 hits

my facebook

terbanyak dibaca

%d blogger menyukai ini: