//
you're reading...
Ekonomi Politik

Kembali ke sunnatullah Bisnis (Bact to real bisnis)


Saya bukanlah seorang praktisi bisnis tapi saya tertarik ide2 pak dahlan iskhan tentang bagaimana seharusnya berbisnis itu. Bukan hanya jual belli angka2 di pasar modal atau valas tetapi real dilapangan bener2 menghasilkan sesuatu atau menjuall sesuatu yang wujud bukan maya seperti yang searang marak… Hidup Pak Dahlan..
[ Senin, 27 Oktober 2008 Jawa Pos]
Dahlan Iskan : Kembalilah ke Sunatullah Bisnis

SURABAYA – Krisis finansial seharusnya menjadi momentum bagi pemilik modal untuk kembali ke sunatullah bisnis. Apa itu? Bekerja dalam arti yang sebenarnya. Pengusaha harus kembali ke kantor, mengamati angka, bekerja, mengeluarkan keringat, dan mengerjakan sesuatu yang ada wujudnya.

“Jadi bukan hanya transaksi di atas kertas atau layar komputer,” kata Dahlan Iskan, chairman/ CEO Jawa Pos Group, pada seminar bisnis PW Muhammadiyah Jatim kemarin.

Kata Dahlan, ada yang harus dikritisi dari krisis keuangan saat ini. Yaitu transaksi derivatif yang kebablasan. Ini adalah penyebab krisis yang utama. Karena transaksi produk turunan tersebut tidak ditopang dengan underlying asset yang memadai.

“Jadi, ini seperti transaction without delivery,” katanya di depan dua ratus pengusaha, profesional, dan tokoh Muhammadiyah Jatim itu.

Iming-iming keuntungan pada kontrak derivatif, kata Dahlan, memang menggiurkan. Jika bisnis di sektor riil mampu mencetak laba 25 persen sudah sangat bagus, gain dari transaksi turunan produk keuangan itu rata-rata melampaui 30 persen.

“Coba, ada nggak yang menjalankan bisnis di sektor riil bisa menghasilkan laba di atas 25 persen?” tanya Dahlan kepada peserta seminar.

Seorang peserta, Sutrimo, mengacungkan jari. Dari atas panggung, Dahlan pun mendatangi pria asal Tulungagung yang duduk di bangku deretan belakang itu. “Apa usaha Anda?” tanya Dahlan.

“Kacang goreng. Labanya bisa mencapai 30 persen jika bahan baku murah seperti sekarang,” jawab Trimo.

“Berarti, itu bergantung momentum. Tidak setiap saat mendapat keuntungan seperti itu,” kata Dahlan.

Pada seminar yang dimoderatori M. Nadjikh, Presdir PT Kelola Mina Laut (KML), Dahlan mengatakan ke depan hanya ada dua pilihan. Merelakan bisnis dikuasai oleh transaksi yang tidak riil. Atau kembali sektor riil dan mengatur transaksi derivatif.

“Misalnya dibuat aturan jika selama ini suatu produk keuangan turunannya bisa sampai 13 tingkat, dikurangi sampai lima tingkat saja. Pasti tidak akan ada lagi orang yang serakah,” katanya.

Namun, kata dia, negara-negara kapitalis tak akan setuju karena mereka telah terbiasa menikmati laba besar dan hidup mewah dari produk keuangan dan derivatifnya.

Ibaratnya, kata dia, seperti menerbangkan layang-layang kini saatnya untuk mengulur benang. Yang paling penting adalah bisa terbang dan tak jatuh dengan terus waspada terhadap kondisi angin. ”Jika kondisi angin sudah kembali normal saatnya untuk bekerja lebih keras lagi,” imbuh Dahlan.

Namun, dia mengingatkan agar tak meninggalkan layang-layang ke kamar kecil. Karena tertinggal sedikit saja dari perkembangan dunia perekonomian akan berbahaya. ”Saya telah mengatakan inilah saatnya menyalip di tikungan. Atau dengan kata lain, ketika ada banyak yang akan jatuh, kita harus bertahan,” ujarnya.(luq/fan)

About 3setiyanto

Lahir di lereng lawu, Dekat kebun Teh dan Kopi tapi barubelajar cara menikmati Teh dan Kopi

Diskusi

Belum ada komentar.

tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 475,480 hits

my facebook

terbanyak dibaca

%d blogger menyukai ini: