//
you're reading...
Ekonomi Politik

Mall = Vampire = Benalu?


Sukakah anda belanja ke Mall atau supermarket? jawabnya mesti YAA. Disamping harganya murah, tmpat ber AC, bisa cuci mata juga etc.

Tapi pernahkah anda berfikir efek secara ekonomi ketika bangunan MALL didirikan di daerah kabupaten? Pernahkah terlintas di benak anda beberapa puluh atau ratusan pedagang atau pemilik kios yang sudah puluhan tahun disekitar Mall akan gulung tikar atau menurun drastis volume perdagangannya? Pernahkah terlintas dipikiran anda kalau MALL itu laris keuntungan uang kita diambil pemilik MALL yang rata2 orang luar daerah bahkan milik orang ASING, sehingga dana itu tidak lagi berputar di daerah kabupaten lagi.. dan kalau dana di kabupaten tersedot keluar berarti ekonomi di kabupaten itu sulit, peluang usaha lain juga sulit dst.. efek DOMINO.

Berikut berita dari kompas penolakan seorang bupati untuk pendirian MALL yang harus ditiru bupati seluruh INDONESIA.

Mal Dilarang Masuk Sragen

Senin, 3 November 2008 | 02:03 WIB

SRAGEN, SENIN – Bupati Sragen Untung Wiyono menegaskan bahwa produk impor dan pembangunan pusat belanja modern akan dilarang masuk ke wilayah Kabupaten Sragen setidaknya sampai 20 tahun ke depan.

Ditemui usai rapat paripurna di Gedung DPRD Sragen Minggu (2/11), Untung menegaskan bahwa untuk bisa terbebas dari kemiskinan, salah satu upaya yang harus dilakukan Pemkab adalah dengan pengembangan produk lokal.

Menurutnya, sejauh ini produk lokal yang dimiliki Sragen tidak kalah kualitasnya bila dibanding dengan produk-produk yang dihasilkan dari luar negeri. “Sudah sejak dulu kami menginstruksikan kepada masyarakat untuk memakai produk lokal, seperti produk makanan lokal yang kaya protein dan tanpa bahan pengawet,” tegasnya.

Selain larangan masuknya produk impor itu, Untung juga melarang masuknya investor untuk mendirikan mal di wilayah Sragen.

Ia menyatakan, bahwa selama ini telah menolak beberapa investor yang akan masuk ke Sragen dengan tujuan pendirian supermarket maupun mal. “Sudah banyak investor yang ingin masuk ke sini (Sragen-red) untuk membangun mall tapi kami tolak. Setidaknya sampai 20 tahun ke depan kami menjamin Sragen akan bebas pembangunan mall,” ujarnya.

Untung juga menambahkan, secara umum arah kebijakan pemerintahannya adalah membangun dan mempertahankan pasar tradisional.

Keberadaan sektor riil yang ada di dalam pasar tradisional dinilai masih cukup tinggi dan harus dipertahankan. Jika Pemkab Sragen pihaknya membiarkan mall berdiri di tengah-tengah perkotaan jelas akan mematikan sedikitnya 2.000 pedagang yang ada di pasar tradisional.

Atas pertimbangan itu, Untung menyatakan menolak setiap investor yang berencana berinvestasi dengan membangun pusat perbelanjaan modern. “Saya jelas lebih memilih untuk menghidupkan 2.000 pedagang yang sudah ada ketimbang harus membangun mall yang hanya menguntungkan investor besar,” tutupnya.

About 3setiyanto

Lahir di lereng lawu, Dekat kebun Teh dan Kopi tapi barubelajar cara menikmati Teh dan Kopi

Diskusi

Belum ada komentar.

tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 475,330 hits

my facebook

terbanyak dibaca

%d blogger menyukai ini: