//
you're reading...
Ekonomi Politik

CITIGROUP AMERIKA GOYANG , BAGAIMANA CITIBANK DI INDONESIA


[ Selasa, 25 November 2008 ]
Suntikkan Dana Lebih dari Rp 3.600 Triliun, Amerika Selamatkan Citigroup
NEW YORK – Pemerintah AS kembali harus menggunakan ratusan miliar dolar uang rakyat mereka untuk menyelamatkan perusahaan keuangan yang terancam ambruk. Kali ini, dana talangan (bailout) lebih dari USD 300 miliar disuntikkan ke Citigroup Inc, bank terbesar kedua AS yang juga menjadi induk bank penerbit kartu kredit terbesar di Indonesia, Citibank.

Mengutip situs Bloomberg, dana setara Rp 3.600 triliun tersebut diluncurkan setelah harga saham Citigroup terjun bebas sampai 60 persen pekan lalu. Terjungkalnya saham bank yang berkantor pusat di New York itu dipicu aksi nasabah yang menarik dananya secara besar-besaran di tengah ketidakstabilan keuangan perusahaan.

Nilai pasar Citigroup jatuh menjadi USD 20,5 miliar pada Jumat (21/11). Padahal, pada 2006, nilai pasar raksasa keuangan yang berumur 196 tahun tersebut mencapai USD 270 miliar.

Departemen Keuangan AS akan menanamkan dana tunai USD 20 miliar di bank yang memiliki 200 juta nasabah di seluruh dunia itu. Bersama Federal Deposit Insurance Corp (asuransi tabungan federal), Depkeu juga memberi jaminan hingga USD 306 miliar untuk pinjaman serta saham berisiko yang ada dalam tanggungan Citigroup. Paket bantuan tersebut diumumkan setelah bank itu mendapat suntikan dana USD 25 miliar dari pemerintah bulan lalu.

Suntikan dana beruntun tersebut akan diambil dari paket bantuan sektor finansial bernilai USD 700 miliar yang disepakati pemerintah dan kongres bulan lalu. Sebelumnya, dalam upaya menstabilkan sistem finansial, pemerintah AS telah membantu Bear Stearns, Fannie Mae, Freddie Mac, dan American International Group (AIG).

Depkeu, Federal Reserve (bank sentral AS), serta Federal Deposit Insurance Corp menyatakan sepakat mengambil kebijakan bersama untuk menstabilkan pasar keuangan dan memulihkan pertumbuhan ekonomi. ”Dengan transaksi ini, pemerintah AS mengambil langkah yang diperlukan untuk memperkuat sistem finansial dan melindungi pembayar pajak AS serta ekonomi AS,” ujar ketiga badan itu dalam satu pernyataan bersama kemarin.

”Kami akan terus mendayagunakan kemampuan kami untuk melindungi kekuatan dunia perbankan kita dan mendorong proses perbaikan serta risiko manajemen,” lanjut pernyataan bersama itu.

Dari penggelontoran dana tunai dan penjaminan tersebut, pemerintah AS akan memperoleh USD 27 miliar saham preferred dan dividen 8 persen.

Tidak seperti syarat pemberian dana talangan ke perusahaan-perusahaan raksasa keuangan sebelumnya, kali ini pemerintah AS tidak merombak jajaran direksi. Direktur Utama Vikram Pandit yang baru menjabat pada Januari 2008 dan direksi lainnya tetap berada di posisinya. Namun, pemerintah berhak membuat keputusan dalam pemberian kompensasi untuk mereka.

Keputusan pemerintah AS menyelamatkan Citigroup itu sudah diduga banyak pengamat. Institusi keuangan tersebut terlalu besar untuk dibiarkan bangkrut. Citigroup memiliki aset senilai USD 2 triliun dan operasinya menggurita di lebih dari 100 negara di dunia, termasuk Indonesia. Perusahaan berlogo payung merah itu juga mempekerjakan lebih dari 374.000 karyawan di seluruh dunia.

”Jika pemerintah melepas Citigroup, akan menjadi gejolak finansial yang lebih parah,” ujar Nader Naeimi, strategist AMP Capital Investors, perusahaan pengelola dana USD 85 miliar di Sydney.

Minggu lalu, CEO Citigroup Vikram Pandit mengumumkan rencana pengurangan 52.000 karyawan, di luar rencana PHK 23.000 tenaga kerja yang diumumkan sebelumnya. Citigroup rugi lebih dari USD 20 miliar selama satu tahun ini akibat krisis global dan merugi dalam empat kuartal terakhir. Ini adalah kerugian terburuk sejak Great Depression pada awal 1930.

Dalam setahun, harga saham Citigroup amblas sampai 83 persen. Akibatnya, bank yang didirikan pada 1812 tersebut tidak bisa membayar dividen lebih dari 1 persen setiap kuartal. Saat ini, dividen yang disetujui sebesar 16 persen per saham. Jika dua tahun lalu menjadi perusahaan keuangan dengan nilai pasar terbesar di dunia, kini Citigroup tergelincir ke urutan kelima.

Upaya Vikram dan tiga direksi membeli 1,3 juta saham untuk meyakinkan pasar, dan pengumuman rencana pangeran Alwaleed bin Talal, salah satu pemegang saham terbesar, menambah kepemilikan saham, tetap tidak mampu menghentikan terpuruknya harga saham.

Meski kinerjanya merosot tajam, Vikram Pandit dan Chief Financial Officer Gary Crittenden menegaskan bahwa mereka tidak berencana menutup perusahaan. ”Perusahaan masih memiliki modal yang kuat dan posisi likuiditas yang masih mantap dipicu keunikan sistem waralaba globalnya,” ujar Pandit, mantan bankir Morgan Stanley, yang dikritik keras karena gagal memperbaiki kinerja bank yang dipimpinnya.

Imbas ke Indonesia

Apakah gonjang-ganjing Citigroup akan berimbas ke anggota grupnya di Indonesia? Direktur Citi Indonesia Ditta Amahorseya memastikan bahwa jaringan Citigroup di Indonesia dalam kondisi stabil dan sehat. ”Bisnis kami berjalan seperti biasanya,” ujarnya kepada koran ini tadi malam.

Saat ini, Citi mempunyai 20 cabang retail banking dan 71 Citifinancial di Indonesia. ”Kondisi kami masih sehat. Rasio modal (CAR) kami 20,69 persen. Jauh dari batas minimum ketentuan bank sentral (8 persen, Red). ROE 27,27 persen dan ROA 4,82 persen. Jadi, tetap kuat,” tegasnya.

Karena itu, dia meminta agar tidak ada kekhawatiran berlebihan terhadap kondisi Citi Indonesia terkait dengan permasalahan yang sedang dihadapi Citigroup. ”(Citi) Indonesia memang tidak imun terhadap kondisi yang terjadi di tataran global. Tapi, secara umum likuiditas kami sangat oke,” ujarnya.

Terkait dengan kemungkinan rasionalisasi di Citi Indonesia yang mempekerjakan 5.000 karyawan, perempuan berkacamata tersebut menyatakan belum ada kepastian. ”Rasionalisasi belum ada. Yang jelas, kami patuh pada apa yang terjadi di grup kami. Namun, kalau bicara jumlah, sebenarnya angka rasionalisasi itu sangat kecil untuk skala global,” tuturnya.

Dia menuturkan, angka rasionalisasi di Citigroup sebenarnya bukan murni PHK karena imbas krisis. ”Rencana rasionalisasi itu tidak murni semuanya (hasil PHK imbas krisis). Ada yang memang sudah mau pensiun, ada yang pindah. Kalau angka pastinya, rasionalisasi itu sangat kecil,” tegasnya. (AP/eri/kim)

About 3setiyanto

Lahir di lereng lawu, Dekat kebun Teh dan Kopi tapi barubelajar cara menikmati Teh dan Kopi

Diskusi

Belum ada komentar.

tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 475,145 hits

my facebook

terbanyak dibaca

%d blogger menyukai ini: