//
you're reading...
Ekonomi Politik

Berapa Harga Minyak Yang Pantas, Ulasan Pak Kurtubi ahli Minyak


Harga Pokok Bensin Rp 4.500 Per Liter

Bagaimana sih etung2ngan harga minyak? Kita walaupun bukan orang Migas tapi harus ngerti karena kita kita konsumen Migas. dikutip dari Jawa Pos, today 6 Dec 08.
Ganti Acuan MOPS dengan Biaya Pokok

JAKARTA – Terus melandainya harga minyak mentah dunia harus dijadikan momentum untuk menata kembali formulasi penghitungan harga bahan bakar minyak (BBM). Harga minyak sendiri, untuk jenis light sweet, pada perdagangan Jumat (5/12) di NYMEX, menuju level USD 40,8 per barel untuk pengiriman Januari 2009. Sementara untuk minyak jenis brent menuju level USD 39,7 per barel.

Pengamat perminyakan Kurtubi mengemukakan, tahun depan pemerintah mesti mengubah pola penghitungan harga keekonomian BBM. Ini agar harga BBM bisa lebih murah dan mencukupi rasa keadilan bagi publik.

Kurtubi yang alumnus Colorado School of Mines, AS, itu menyarankan pemerintah agar melaksanakan dua langkah terkait pengelolaan harga BBM di masa depan. “Pertama, ubah penghitungan BBM yang selama ini menggunakan MOPS plus alpha,” ujar Kurtubi di Jakarta kemarin (6/12). “Ubah dengan menggunakan biaya pokok BBM yang dikeluarkan Pertamina,” sambungnya.

MOPS (Mean of Platts Singapore) adalah patokan harga jual BBM yang ditetapkan lebih tinggi sekitar USD 10 dari harga minyak mentah di pasar internasional. Jadi, dengan acuan penutupan perdagangan Jumat lalu bahwa harga minyak mentah mencapai USD 40,8 per barel, maka harga patokan MOPS sekitar USD 50,8 per barel.

Sementara, alpha adalah komponen biaya tambahan yang diambil dari biaya yang telah dikeluarkan untuk proses produksi, seperti ongkos pengolahan dan distribusi. Selain itu, ada komponen margin (keuntungan) dari pemerintah untuk Pertamina dan SPBU. Tahun ini, alpha ditetapkan di level 9 persen. Dalam APBN 2009, ditetapkan di posisi 8 persen dari usul semula 8,36 persen.

Menurut Kurtubi, dengan menggunakan biaya pokok Pertamina, harga BBM bisa lebih rendah. Akhirnya, hal itu bisa menghemat biaya subsidi energi yang harus dikeluarkan negara. “Kan terdapat BBM yang untuk DMO (domestic market obligation, kewajiban memasok batas tertentu produksi guna keperluan di tanah air, Red), yang merupakan minyak mentah dari kontraktor ke Indonesia, jadi lebih murah,” jelas direktur Center for Petroleum and Energy Studies itu.

Menurut perhitungan Kurtubi, biaya pokok BBM adalah Rp 4.500 per liter. Itu sudah termasuk pajak penjualan (PPN) dan pajak bahan bakar kendaraan bermotor. “Juga sudah termasuk margin yang diambil pelaku usaha. Itu artinya subsidi sudah nol. Karena itu, harga premium harus diturunkan Rp 1.000 lagi menjadi Rp 4.500 per liter,” jelasnya.

Sementara itu, harga solar juga diturunkan Rp 1.000 menjadi Rp 4.500 per liter. Dengan penghitungan biaya pokok tersebut, sambung dia, semua pihak diuntungkan, karena sudah mendapatkan porsi masing-masing. “Pertamina nggak akan rugi, meski tidak bisa mencetak laba fantastis seperti saat ini,” ujarnya.

Meski dari sisi korporasi profitabilitas Pertamina akan menurun, efek dengan penghitungan tersebut akan dirasakan masyarakat secara keseluruhan. “Akhirnya, yang untung negara, pemerintah, karena perekonomian masyarakat membaik,” jelasnya.

Per kuartal ketiga 2008, Pertamina membukukan laba Rp 24,9 triliun. Itu diakibatkan melambungnya harga minyak mentah dunia. Salah satu instrumen yang menguntungkan adalah semakin tinggi harga minyak semakin tinggi pula besaran alpha yang diterima perusahaan perminyakan pelat merah itu. Demikian juga sebaliknya. “Harga minyak mentah tinggi, alpha yang diterima Pertamina juga makin tinggi. Kalau harga minyak USD 120 per barel, alpha 8 persen itu kan sudah sangat banyak. Ke depan ini kinerjanya (Pertamina) akan melambat,” jelasnya.

Namun, Kurtubi menegaskan, Pertamina tidak akan rugi sebagaimana kekhawatiran sejumlah pihak ketika besaran alpha untuk 2009 diturunkan menjadi 8 persen. “Tidak akan rugi. Kalau pakai penghitungan biaya pokok, nggak akan rugi, karena biaya (produksi) kan diganti. Ingat, biaya pokok itu sudah termasuk margin,” ujar Kurtubi. “Sekali lagi, tidak akan rugi, tapi tidak tidak akan laba (sebesar) itu,” sambungnya.

Dengan menggunakan penghitungan biaya pokok Pertamina, sambung dia, harga BBM yang mengarah ke harga keekonomian juga bisa semakin fleksibel, seperti halnya mengikuti patokan MOPS. Pertamina, sebagai pelaku usaha bisnis minyak dari hulu hingga hilir, tinggal menyesuaikan besaran komponen biaya produksinya.

Langkah kedua yang harus dilakukan, sambung dia, segera menetapkan batas atas dan batas bawah harga BBM, baik premium (bensin) maupun solar. “Harga premium saat ini Rp 4.500 per liter dengan melihat harga minyak mentah. Jika nanti harga minyak mentah naik menjadi USD 80-90 per berel, terapkan batas atas harga (premium) di posisi Rp 6 ribu per liter,” tuturnya. Dia memprediksi harga minyak tidak akan melonjak secara signifikan. “Artinya, batas atas premium nggak boleh dari Rp 6 ribu per liter,” ujarnya.

Secara terpisah, Wakil Ketua Panitia Anggaran DPR Harry Azhar Azis mengatakan, meski harga minyak mentah terus menurun, pemerintah tidak bisa langsung mengalihkan dana alokasi subsidi BBM yang sudah dianggarkan pada APBN 2009 sebesar Rp 57,6 triliun. “Yang tidak terpakai lagi itu tidak bisa serta merta dialihkan ke pos lain. Harus dirinci dulu, dibicarakan dengan DPR,” ujar mantan ketua umum PB HMI itu kemarin (6/12).

“Semua dana yang dikeluarkan sudah ada alokasi posnya masing-masing. Menggesernya bisa menjadi kasus hukum,” sambung doktor ekonomi lulusan Oklahoma State University, AS, itu.

Dia menyarankan agar dana itu tetap masuk pada pos dana cadangan fiskal dan energi untuk mengantisipasi jika harga minyak kembali melonjak pada tahun depan. “Maksimum 75 persen (dari total subsidi BBM) dimasukkan ke dana cadangan,” ujarnya.

Harry menghitung, berdasarkan posisi harga minyak mentah saat ini, ada kelebihan dana Rp 2.400 per liter yang bisa dihemat untuk seluruh BBM yang masuk dalam kerangka subsidi, yaitu bensin, solar, dan mitan. “Jika dibagi 3 jenis itu, berarti penurunan bisa Rp 700-an lagi. Premium yang sudah diturunkan Rp 500, bisa turun lagi Rp 700, menjadi Rp 4.800,” hitungnya.

Dia menyatakan, mestinya pemerintah lebih dulu menurunkan harga solar daripada premium untuk lebih menggairahkan dunia usaha. “Ya, tapi itu keputusan politik pemerintah untuk lebih mengutamakan masyarakat perkotaan.”

Kurtubi setuju bila pemerintah tetap mencadangkan dana subsidi. “Tapi, nggak sebesar saat ini (Rp 57,6 triliun, Red). Yang diperlukan hanya Rp 20 triliun.”

Pengusaha Dukung

Kamar Dagang dan Industri (Kadin) mengapresiasi rencana pemerintah menurunkan harga solar dan premium awal Januari nanti. Kadin menilai stimulus itu dibutuhkan agar pertumbuhan ekonomi tidak merosot jauh.

“Penurunan harga BBM akan memberi efek ganda, yakni meningkatkan daya beli masyarakat serta efisiensi usaha. Dampaknya positif terhadap sektor riil dan pertumbuhan ekonomi,” ujar Ketua Komite Tetap Fiskal dan Moneter Kadin Bambang Soesatyo di Jakarta kemarin (6/12).

Sebelumnya, Kadin memprediksi tanpa stimulus penurunan harga BBM, pertumbuhan ekonomi tahun depan hanya 4,5 persen. Artinya, pengusaha meyakini target pertumbuhan ekonomi di APBN 2009 sebesar 6 persen tidak tercapai. Kadin juga memprediksi perekonomian baru akan pulih 2010.

Meski demikian, Kadin meminta penurunan harga BBM bersubsidi tidak sebatas upaya pencitraan politik, seperti penurunan Rp 500 per liter pada awal Desember lalu. Karena hanya turun sekitar 8 persen, tidak ada dampak terhadap biaya di sektor transportasi.

Agar efeknya maksimal, Kadin mendesak pemerintah menurunkan harga premium Rp 1.500 per liter sehingga menjadi Rp 4.000 per liter dan menurunkan harga solar Rp 1.000 per liter sehingga menjadi Rp 4.500 per liter. “Dengan penurunan harga BBM rata-rata 20 persen, biaya di sektor transportasi akan turun signifikan,” katanya.

Selain menurunkan harga BBM, Kadin mendesak pemerintah memperluas proteksi industri dalam negeri dari serbuan barang impor. Bila pagar tidak segera diperketat, Kadin yakin para produsen di Tiongkok yang kehilangan pasar tradisional di Amerika Serikat dan Eropa akan mengincar pasar Indonesia. “Sulit kita berharap jadi tuan di rumah sendiri kalau pemerintah tidak bisa membendung produk dari Tiongkok. Barang legal saja murah, apalagi yang ilegal,” tegas Bambang.

Pemerintah juga diharapkan segera menggenjot belanja agar perekonomian domestik tetap berjalan dan pasar kerja terjaga. “Dengan terjaganya penyerapan kerja dan daya beli, mereka dapat membeli produk kami,” katanya.

Kadin menegaskan, langkah konkret harus diambil pemerintah karena tahun depan adalah tahun politik yang sedikit-banyak menghambat masuknya investasi. Meski demikian, dia yakin belanja partai politik akan menambah perputaran uang di masyarakat. (eri/noe/kim)

About 3setiyanto

Lahir di lereng lawu, Dekat kebun Teh dan Kopi tapi barubelajar cara menikmati Teh dan Kopi

Diskusi

Belum ada komentar.

tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 475,381 hits

my facebook

terbanyak dibaca

%d blogger menyukai ini: