//
you're reading...
macem - macem

HIZB, FIRQAH, JAMAAH,Demokrasi dan pemilu


Laa Islama illa bil Jama’ah, tidak ada ISLAM itu jika tanpa Jamaah demikian kata sahabat Nabi Saw yang juga khalifah Ali bin Abi Thalib. Kalau kita menganggap sunah atau perbuatan Nabi dan Sahabat langsung adalah yang layak kita ikuti maka perkataan ini setara dengan Ucapan Rosulullah. Mungkin juga merupakan penjabaran kalimat atiullah waathiurrosul walulilamri mingkum dari Quranul Karim.

Sedangkan jamaah itu sendiri tidak bisa jalan sendiri2 tanpa ada yang mengarahkan. Minimum ada yang ngatur siapa bagian siapa. Misal saja kita pergi rame2 satu komplek ke Taman Safari. Apa jadinya rombongan se RT itu jika tidak ada koordinatornya, pasti deh kacau perjalanannya. Tempat ngumpul gak jelas, berangkat kapan juga gak tentu, naik apa kesana gak tau juga  pakai iuran atau kagak dsb.. Ini baru rombongan RT yang akan ke Taman Safari lha apalagi kalau membawa umat yang jumlahnya ribuan, jutaan bahkan ratusan juta. Sudah barang tentu tidak diperbolehkan seenaknya sendiri tanpa ada yang mengkoordinator. Tidak mungkinlah kita bisa mengontrol orang banyak tanpa ada koordiantor yang juga mengontrol sehingga urusan semua warganya lancar.

Kumpulan orang islam yang banyak untuk bertujuan menegakkan addien dan menyejahterakan warganya itulah Al Jamaah. Aljamaah tidak dikususkan untuk Islam dari bangsa tertentu, atau dari suku tertentu ataupun dari aliran tertentu bahkan tidak dikususkan dari pemahaman islam tertentu. Apalagi khusus dari partai tertentu. Seandainya negara ini negara islam semua warganya adalah masuk dalam Al  jamaah, tidak diijinkan membuat kubu atau firqh atau pecahan dari aljamaah, juga tidak diijinkan memberontak membuat pasukan atau kesatuan lain yang berseberangan dengan aljamaah. Maka dengan demikian semua firqah adalah melemahkan negara dan dihukumi sebagai makar dan boleh di basmi oleh negara. Dalam hal ini jika masyarakat tidak setuju dengan kekuasaan Amir maka sudah seharusnya menyampaikan nasihatnya jikan Amir tetap pada pendiriaanya maka Sabar adalah yang terbaik. Akan tetapi sepanjang perintah Amir tidak maksiat kepada ALloh maka wajiblah kita taat, “Laa thoata ila mahkluki fie maksiatillah”

Akan tetapi ternyata negara kita yang sebagian muslim ini bukanlah negara islam sehingga bingung lah aturan baku dalam islam. Setiap muslim boleh membuat hizb atau partai, setiap orang yang tidak suka terhadap hizbnya juga diijinkan membuat firqahnya hizb. Belum sampai Firqahnya Jamaah, tapi masih dalam hizb dan firqahnya hizb. Lalu dimana keberadaan AlJamaah di negeri ini? Semua orang sudah mempunyai hizb sendiri2 dan diperintahkan negara untuk memilihnya. Dan masing 2 hizb itu merasa bangga terhadap dirinya sendiri, bahkan seolah-olah hizbnya itulah agamanya. Sehingga dia tidak mempunyai lagi saudara seagama adanya saudara se-hizb, se partai se aliran. Kalau ada saudara islam lain yang celaka lihat dulu dari partai apa? Kalau ada saudara islam lain yang tertimpa bencana dimana dulu, disitu basis partai apa? Bahkan ketika kecelakaan dijalan wah baju yang dipakai warna apa?….

Dinegeri ini sangat rendah ketaatan pada Amir (Pemerintah) ya memang pada dasarnya bukan Amir tetapi kepala negara bukan Islam Indonesia. Kalau ada kebijakan pemerintah yang pada dasarnya niatannya untuk masyarakat maka hizb2 yang ada ramai2 mencari celah salahnya untuk bisa menggagalkan kebijakan itu yang akhirnya bisa menurunkan wibawa pemerintah (baca partai pendukung pemerintah) sehingga bisa memepengaruhi opini publik untuk pemilu mendatang. Setiap orang kayaknya berhak membangkang atau menolak aturan pemerintah, karena memang itu disahkan oleh agama baru global sekarang ini yaitu “agama Demokrasi”.

Sedemikaian parah hizb yang ada dan pertentangannya yang mana ini hasil rekaan negeri agama terbesar abad ini hingga menggerus nilai agama sebenarnya yang sudah melembaga ratusan tahun. Agama terbesar di abad ini adalah “Demokrasi”. Sehingga tidaklah komplit iman seseorang jika belum percaya kepada Demokrasi. Tidaklah komplit kamapanye dan dakwah jika tidak ditambah menjungjung nilai2 demokrasi. Dan ajaran “agama demokrasi” terpenting adalah VOTING. Sejak SD kita diajari voting walaupun sang guru lebih tahu kebenaran apa yang terbaik bagi siswanya, maka atas nama demokrasi pilihan terbanyak dikelaslah yang menjadi keputusan. Di arisan bapak-bapak di RT juga demikian, di PKK balai desapun sudah mulai diajarkan voting salah satu rukun iman Demokrasi ini.

Kayaknya pada tidak peduli isi dari peraturan sesuai sariah atau enggak (emangnya negeri kita negeri agama kah?) maka setiap pertentangan pendapat musti diselesaikan dengan voting. Menunjukkan aurat dimuka umum saja harus divoting termasuk melanggar apa tidak padahal jelas kalau dari segi sariah itu melanggar. Berjudi juga harus divoting untuk menjadi perda tentang larangannya padahal sudah jelas bagi agama ini larangannya. Trus pelacuran yanjg dimana dalam agama merupakan kejahatan terbesar maka dalam agama demokrasi harus di voting dulu atas kehalalan atau nharamnya bagi masyarakat… dan seterusnya.

Tanggal 9 April depan katanya juga akan diadakan voting terbesar di negeri ini untuk memilih wakil2nya yang katanya bisa membuat negeri ini lebih beradab sesuai dengan nilai2 agama baru global sekarang ini. Bayang kan seorang profesor doktor kyai haji yang hapal Alquran pendapatnya akan sama dengan seorang yang tidak tamat SD dan belum faham makna sebuah paragrap. Seorang bromocorah yang dipenjara sama nilai suaranya dengan pendeta yang taat berbagi kasih bagi kemanusiaan… mana nilai keadilan bagi manusia???

100 persen saya setuju jika voting dilakukan kusus bagi orang yang mengerti permasalahan, bukan untuk semua orang.

100 persen setuju jika tidak ada hizb dan firqah dalam umat islam yang ada Aljamaah dan saya pasti memilih Aljamaah ini sebagai partai saya.

100% setuju jika dinegara ini menerapkan demokrasi karena memang negeri ini bukan negara islam.

100% setuju jika ada orang yang berusaha menegakkan dienullah dengan cara yang benar yang diajarkan bukan oleh ajran agama selain islam termasuk “demokrasi”

100% tidak anti pemilu karena pemilu dikususkan bagi penganut faham Demokrasi

100% masih ingin hidup di negeri Indonesia yang sekarang bukanlah negara agama islam..

“waahh jan-jane apasih maksudmu kang?” kata kang darmo jualan srabi depan pasar..

“mbuh kang wong aku latihan ngetik wae kok mbok ajo dipikir nemen2” jawabku..

waallohua’lam bishowab.

About 3setiyanto

Lahir di lereng lawu, Dekat kebun Teh dan Kopi tapi barubelajar cara menikmati Teh dan Kopi

Diskusi

Belum ada komentar.

tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 475,480 hits

my facebook

terbanyak dibaca

%d blogger menyukai ini: