//
you're reading...
macem - macem

Flu Babi Penanggulangan, Bahaya dan Penularannya


Dari Jawapos tentang Flu Babi

Setelah Lumpuhkan Meksiko, Wabah Flu Babi Ancam Dunia

JENEWA – Influenza alias flu sebenarnya bukanlah penyakit asing, bahkan ia relatif gampang disembuhkan. Namun, mulai kemarin (25/4), munculnya flu babi di Meksiko -setelah jenis-jenis flu ganas lain, seperti flu burung dan flu Singapura- menyebabkan banyak pihak mulai cemas.

Tadi malam, pimpinan Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, penyebaran flu babi di Meksiko dan mulai masuk Amerika Serikat itu berpotensi menjadi pandemi (wabah) dunia. ”Flu babi memiliki potensi pandemi karena menginfeksi orang,” kata Direktur Jenderal WHO Margaret Chan dari Jenewa, Swiss.

Sampai tadi malam, virus flu babi baru mewabah di Meksiko. Akibatnya, pemerintah setempat memutuskan untuk menutup sementara fasilitas publik seperti sekolah, museum, perpustakaan, dan bioskop untuk mencegah penyebaran virus. Pemerintah juga membagikan masker dan aktif melakukan pembersihan di area-area publik.

Semua kegiatan publik, mulai konser musik, pertandingan olahraga, sampai pertemuan social, dilarang diadakan sampai sepuluh hari ke depan. Tercatat 70 orang meninggal akibat flu babi dan 1.004 penduduk terserang. Flu babi tak hanya menyerang Meksiko, namun juga menyerang delapan orang di Texas dan California, AS, tetapi berhasil disembuhkan.

Para ilmuwan mengkhawatirkan virus flu baru itu sulit diberantas karena kombinasi material genetik dari babi, burung, dan manusia, yang efeknya lebih ganas dan masif daripada virus flu burung. Menilik dari sejarah, wabah flu mematikan di dunia pernah terjadi pada 1918-1819***. Saat itu, 40 juta orang di seluruh dunia tewas. Pandemi juga terjadi pada 1957 dan 1968 yang dipicu wabah flu Hongkong.

Apakah flu babi juga menyebar ke Indonesia? Kita bisa berlega hati karena Departemen Kesehatan (Depkes) menyatakan flu babi yang menjangkiti Meksiko belum masuk ke Indonesia. Namun, Depkes bersikap waspada dan berkoordinasi dengan WHO untuk mengantisipasi segala kemungkinan.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan (P2PL) Departemen Kesehatan (Depkes) Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, selain berkoordinasi dengan WHO, Depkes juga melakukan berbagai langkah lain. Di antaranya, Depkes tengah mengumpulkan data dan kajian ilmiah tentang penyakit tersebut dari berbagai sumber. ”Depkes mempersiapkan kemungkinan pemeriksaan laboratorium untuk flu babi ini,” imbuh Tjandra.

Selain itu, Depkes juga telah mengedarkan surat kewaspadaan dini ke Dinas Kesehatan dan Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) di seluruh Indonesia. ”Sore ini (kemarin) Dirjen P2PL rapat mengumpulkan seluruh KKP se-Indonesia untuk meningkatkan alertness (kewaspadaan). Kebetulan semua sedang berkumpul di Makassar mengikuti simulasi pandemi flu burung,” terang Tjandra. Menurut dia, flu babi belum pernah ditemukan di Indonesia dan sejauh ini belum ada laporan adanya penduduk yang sakit akibat flu ganas itu.

Kepala Pelaksana Harian Komisi Nasional Flu Burung dan Pendemi Influenza, Bayu Krisnamurthi mengatakan pihaknya tak tinggal diam. “Kami terus mengontak CDC [Centers for Disease Control and Prevention] Atlanta dan Kedutaan Besar RI di Meksiko,” kata Bayu.

Keterangan sementara, kata Bayu, flu babi yang menyerang Meksiko disebabkan oleh flu semusim. “Virus yang menyerang masih keluarga dengan virus flu burung, yakni H1N1,” kata dia. Jika ternyata benar bahwa virus tersebut berjenis H1N1, kata Bayu, justru jadi pertanyaan besar.

“Mengapa bisa menyebabkan kematian?” ujar dia. Padahal virus H1N1 sangat mudah diatasi. “Dengan obat flu biasa sudah dilumpuhkan,” tambah dia.

Saat ini, yang bisa dilakukan komisi, adalah menunggu informasi dan perkembangan flu babi. Ditambahkan Bayu, pihaknya sudah melakukan simulasi penanganan flu burung. Hari ini simulasi dilaksanakan di Makassar, Sulawesi Selatan. “Tapi itu tak ada hubungannya dengan terjadinya wabah flu babi,” tambah dia.(AP/kit/kim)

Sabtu, 02 Mei 2009 , 13:56:00

Penularan Flu Babi Lewat Batuk dan Bersin

JAKARTA – Pandemi flu babi, atau sekarang disebut virus H1N1, kini sudah menjalar di 13 negara. Virus ganas itu pun sudah menembus wilayah Asia, terbukti sudah ditemukan kasus di Hongkong. Masyarakat Indonesia harus meningkatkan kewaspadaan. Mirip flu biasa, virus flu babi juga sangat gampang menular dari manusia ke manusia.

Direktur Jenderal (Dirjen) Pengendalian Penyakit Departemen Kesehatan, Prof Candra Yoga menjelaskan, virus ini dengan mudah ditularkan penderita melalui batuk dan bersin.

“Biasanya yang sakit flu itu batuk atau bersin. Dari percikan ludah saja bukan tidak mungkin virus itu menular ke orang yang sedang berada dekat dengan kita,” ujar Candra Yoga pada diskusi bertema ‘Bahaya Flu Babi’ di Jakarta, Sabtu (2/5).

Namun demikian, Candra menjelaskan, tidak otomatis orang yang dekat dengan penderita flu babi ini bakal tertulari. Tertular atau tidaknya seseorang tergantung dari kondisi orang tersebut, virusnya, dan lingkungan sekitar. “Kalau daya tahan tubuh kuat, virusnya lemah, lingkungan baik, maka sulit tertular. Sebaliknya, bila daya tahan tubuh lemah, virusnya kuat, dan lingkungan buruk, maka akan gampang tertular,” ulasanya.

Depkes sendiri sudah mengkampanyekan gerakan pencegahan dengan cara yang mudah. Pertama, masyarakat harus dibiasakan untuk cuci tangan pakai sabun, atau dikenal sebagai gerakan CTPS. Kata Candra, CTPS secara ilmiah sudah terbukti mencegah penularan virus. “Logika gampangnya, kalau ada virus nempel di tangan, lantas tangan dipakai gosok-gosok hidung, maka virus bakal masuk,” ucap Candra. Dia berpesan, CTPS ini dilakukan sebelum memasak, sebelum dan sesudah makan, atau pun sebelum memegang bayi.

Kedua, masyarakat yang sedang terkena flu agar menggunakan masker sehingga tidak menulari orang lain. “Kalau di luar negeri, sudah biasa itu orang naik bus pun pakai masker,” ucapnya. Ketiga, bila mengalami batuk disertai panas dalam tiga hari belum sembuh, agar segera berobat ke dokter. (sam/JPNN)

Flu Burung Lebih Berbahaya Katimbang Flu Babi

KESRA– 28 APRIL: Menkes Siti Fadilah Supari menyatakan bahwa virus flu burung (H5N1) jauh lebih berbahaya dari virus flu babi (H1N1) terutama untuk wilayah tropis seperti Indonesia. Pasalnya, diprediksi virus H1N1 tidak akan mampu hidup di daerah tropis karena biasanya virus ini hidup di daerah empat musim.

”Masyarakat Indonesia tak perlu panik. Di Meksiko dan Amerika Serikat marak kasus flu babi saat musim dingin, di saat musim semi dan panas virus itu tak dapat bertahan,” ujar Menkes kepada pers, Selasa (28/4).

Menurut Menkes, virus H5N1 jauh lebih berbahaya dari H1N1 bisa terlihat dari data-data yang sudah ada. ”Jika diibaratkan, 100 penderita flu babi kemungkinan meninggal adalah 6 orang, sementara 100 penderita flu burung kemungkinan meninggal bisa mencapai 80 orang,” jelasnya.

Lebih jauh Menkes menyatakan penyakit flu babi (swine flu) adalah penyakit influenza yang disebabkan oleh virus influenza A subtipe H1N1 yang dapat ditularkan melalui binatang, terutama babi. ”Secara umum penyakit ini mirip dengan influenza (Influenza Like Illness-ILL, red),” cetusnya.

Dengan maraknya flu babi di Meksiko dan AS, kata Menkes Departemen Kesehatan (Depkes) telah melakukan langkah-langkah untuk kewaspadaan dan pencegahan agar tidak menyebar ke Indonesia. Di Indonesia, lanjut dia, jumlah babi sebenarnya tak terlalu banyak karena lebih dari 85 persen penduduk Indonesia adalah Muslim. ”Selain itu kami juga meminta stop impor daging babi,” jelasnya.

Adapun langlah-langkah yang dilakukan Depkes, ujar Menkes, adalah memasang 10 thermal scanner untuk mendeteksi suhu badan di terminal kedatangan bandara internasional. Kemudian mengaktifkan kembali sekitar 80 sentinel untuk surveillance ILI dan Pneumonia, baik dalam bentuk klinik dan virologi.

”Kemudian menyediakan obat-obatan yang berhubungan dengan penanggulangan flu babi pada dasarnya adalah oseltamivir yang sama untuk H5N1,” tegasnya.

Langkah-langkah lainnya, kata Menkes, adalah menyiapkan 100 rumah sakit rujukan yang sudah ada dengan kemampuan untuk menangani kasus flu babi. Lalu menyiapkan kemampuan laboratorium untuk pemeriksaan H1N1 di berbagai laboratorium flu burung yang sudah ada. Menyebarluaskan informasi ke masyarakat luas dan menyiagakan kesehatan melalui desa siaga. Kemudian simulasi penanggulangan pandemi influenza yang baru dilakukan pekan lalu di Makassar.

”Ini juga merupakan upaya nyata persiapan pemerintah menghadapi berbagai kemungkinan kejadian luar biasa atau public health emergency international concern (PHEIC) seperti flu babi,” jelasnya.

Penularan lebih cepat

Menjangkitnya flu babi lebih mengkhawatirkan dibandingkan flu burung. Pakar Epidemiologi dari Australian National University (ANU), Profesor Paul Kelly, menyatakan flu babi memiliki tingkat kematian lebih rendah dibandingkan flu burung. Namun ia mengingatkan penyebaran flu babi lebih cepat.

Flu burung, kata dia, masih relatif tak terlalu cepat penyebarannya sebab perpindahan virus antarmanusia sulit terjadi. Sedangkan flu babi penularannya tinggi.”Flu burung terbatas dan tak terjadi seperti flu babi sekarang ini. Ini benar-benar sangat mengkhawatirkan,” katanya kepada radio ABC, Selasa (28/4).

Menurut Kelly, flu babi nampaknya disebabkan oleh virus yang selama bertahun-tahun kehadirannya dikhawatirkan oleh para pakar epidemiologi. Ini merupakan kombinasi dari virus dari berbagai binatang yang dengan mudah berpindah di antara manusia. Penularannya terjadi dengan cepat.

Menurut pakar biosekuriti dari Curtin University, Perth, Profesor John Mackenzie, ancaman flu terakhir ini kemungkinan disebabkan oleh virus yang merupakan kombinasi dari paling tidak dua tipe virus babi dan satu gen virus burung. Ia mengatakan pada hari-hari mendatang akan menjadi masa yang krusial.

Terutama, kata Mackenzie, saat menentukan apakah dunia telah menghadapi sebuah pandemik. ”Saya kira, kita berada dalam kondisi abu-abu di mana kita tidak tahu apakah ini akan menjadi sebuah pandemik atau tidak,” katanya. (ro/hr)

Sumber: DISINI

About 3setiyanto

Lahir di lereng lawu, Dekat kebun Teh dan Kopi tapi barubelajar cara menikmati Teh dan Kopi

Diskusi

Belum ada komentar.

tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 475,331 hits

my facebook

terbanyak dibaca

%d blogger menyukai ini: