//
you're reading...
macem - macem

Binatangng Qurban dan Hukum syar’i nya


di ambil dari artikel yang ada di webnya BTIK FKIP uninus Bandung
diIBADAH QURBAN PDF Cetak E-mail
Oleh H.A. Saefurridjal, Drs
Rabu, 24 Desember 2008 18:17

A. PENDAHULUAN

Pada awalnya berqurban dalam Islam merupakan syari’at yang dibawa oleh nabi Ibrahim as., seperti yang termaktub dalam al-Qur’an surat as-Shaffat ayat 107 yang berbunyi :

HA/JFG (0(- 98JE
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar

Kemudian Allah swt. Memerintahkan kepada nabi Muhammad saw. untuk meneruskan syari’at tersebut setiap idhul Adha. Ibadah qurban mulai diyari’atkan pada tahun kedua hijrah, bersamaan dengan pensyari’atan zakat serta shalat idhul Fitri dan Idhul Adha. Pensyari’atan itu didasarkan pada Firman Allah swt. Dan Hadits Nabi saw.

B. PENGERTIAN

Qurban berasal dari bahasa Arab QORUBA yang berarti : dekat. Qurban berarti Pendekatan. Maksudnya ibadah qurban ini adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Dalam al-Qur’an, surat al-Kautsar ayat 2 Qurban dikenal dengan istilah NAHR yang artinya sembelihan, maksudnya menyembelih binatang ternak, seperti Domba/kambing, sapi/kerbau dan unta.

Dalam fiqh qurban dikenal dengan istilah UDHIYYAH, yang berasal dari kata Dluha yang berarti waktu ketika matahari sedang naik di pagi hari. Karena menyembelih binatang qurban dimulai ketika matahari naik di pagi hari (waktu Dluha).

Menurut istilah, Qurban berarti acara penyembelihan binatang ternak yang dilakukan pada hari raya haji, yaitu tanggal 10, 11, 12 dan 13 Dzulhijjah, yang bertujuan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

C. DASAR HUKUM

1. Al-Qur’an surat al-Kautsar ayat 2
B5D D1(C H’F-1
Maka dirikanlah shalat karena Tuhanmu dan sembelihlah binatang (qurban)

2. Al-Qur’an surat al-Hajj ayat 36 :
H’D(/F ,9DF’G’ DCE EF 49′ &1’DDG
Dan telah kami jadikan untuk kamu unta-unta itu sebahagian dari syi’ar Allah …

3. Hadits riwayat Ahmad dan ibnu Majah
EF H,/ 39) ADE J6- AD’ JB1(F E5D’F’
Barang siapa yang telah mempunyai kemapuan tetapi ia tidak berqurban, maka janganlah ia menghampiri tempat shalat kami.

4. Hadits riwayat at-Tirmidzi, ibnu Majah dan al-Hakim
Tidak ada amal keturunan Adam yang lebih disukai Allah pada hari Idhul Adha selain menyembelih qurban. Sesungguhnya binatang itu akan datang pada hari kiamat dengan tanduk, kuku, dan bulunya. Dan sesungguhnya darah qurban lebih dahulu tercurah karena Allah sebelum ia tercurah ke bumi, yang membuat jiwa menjadi senang.

5. Hadits riwayat jama’ah
Rasulullah saw. sendiri senantiasa berqurban dengan dua ekor domba pada setiap hari raya qurban; satu untuk dirinya dan satu lagi diniatkan bagi ummatnya.

6. Hadits riwayat jama’ah kecuali al-Bukhari
Apabila kelihatan hilal dzulhijjah, sedangkan salah seorang diantara kamu ingin berqurban, maka hendaklah ia menahan diri dari memotong bulu dan kuku (binatang kurban)nya.

7. Hadits riwayat Ahmad bin Hambal, al-Hakim dan Daruquthni
Ada tiga hal yang wajib atasku dan sunnah bagimu; Shalat witr, menyembelih qurban, dan shalat Dluha.

8. Hadits riwayat at-Tirmidzi
‘E1* (‘DF-1 HGH 3F) DCE
Saya diperintahkan menyembelih qurban dan qurban itu sunnah bagi kamu

9. Hadits Riwayat Daruquthni.
C*( 9DJ ‘DF-1 HDJ3 (H’,( 9DJCE
Diwajibkan kepadaku berqurban, dan tidak wajib atas kamu

D. HUKUMNYA

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan Ulama mengenai hukumnya berqurban; yaitu :

1. Menurut imam Abu Hanifah
Qurban itu wajib dilakukan satu kali dalam setahun bagi orang yang mampu, bernazar, atau orang yang sudah menyediakan/membeli binatang qurban. Hukum wajib ini didasarkan pada al-Qur’an no.1 dan hadits nabi saw. no. 3 diatas. Pada ayat itu digunakan fi’il amr (perintah) dan setiap perintah menunjukkan wajib. Dan hadits tersebut menyebutkan adanya ancaman Rasulullah saw., sehingga menunjukkan wajib, karena apabila sunnah tentu Nabi sw. tidak akan menyebutkan ancaman.

2. Menurut jumhur Ulama ( Madzhab Maliki, Syafi’i dan Hambali )
Qurban itu sunnah mu’akkad ( Sunnah yang dikuatkan ) dan makruh bagi orang yang mampu tetapi tidak melaksanakan qurban. Kendati demikian, Madzhab Maliki menyebutkan bahwa hukum sunnah itu hanya berlaku bagi orang selain jama’ah haji, sedangkan bagi jema’ah haji wajib menyembelih qurban di Mina. Dan Imam Abu Hanifah justru mentidak-sahkan qurban bagi jema’ah haji, karena mereka dalam keadaan bepergian (musafir).

Dasar hukum sunnah ini didasarkan pada hadits no.6, 7, 8, dan 9 diatas, dengan pemahaman, bahwa pada hadits no. 6 disitu ada kata-kata kamu ingin berqurban. Hal ini menunjukkan, bahwa orang yang ingin berqurban boleh melakukannya dan hukumnya sunnah. Sedangkan bagi orang yang tidak ingin melakukannya tidak dibebani dosa.

Madzhab Syafi’i, memahami al-Qur’an surat al-Kautsar ayat 2 diatas tidak sebagai wajib walaupun menggunakan kata perintah (amr), karena perintah tersebut tidak mengendaki pengulangan (Laa yaqtadit tiqraar).

E. SYARAT ORANG YANG BERQURBAN

Para fuqaha sepakat, bahwa syarat-syarat bagi orang yang melakukan qurban adalah Muslim, merdeka, baligh, berakal, penduduk tetap suatu wilayah dan mampu. Yang dimaksud mampu, menurut madzhab Hanafi berarti memiliki senisab zakat di luar kebutuhan sandang, pangan dan papan keluarganya. Sedangkan menurut madzhab Maliki berarti memiliki harta lebih dari kebutuhan primer dalam tahun itu. Dan madzhab Syafi’i mampu berarti ia memiliki harta seharga binatang qurban di luar kebutuhannya dan kebutuhan orang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Bagi madzhab Hambali menafsirkan kemampuan itu dengan kemungkinan mendapatkan harta seharga binatang qurban, sekalipun dalam bentuk utang, tetapi yang bersangkutan sanggup membayarnya.

F. SYARAT SAH

Syarat sah melakukan qurban adalah sebagai berikut :

1. Binatang qurban hendaknya tidak cacat, seperti rusak matanya, sakit, pincang, kurus yang tidak berdaya.
2. Binatang qurban telah mencapai umur tertentu; Bagi domba telah berumur satu tahun lebih atau telah berganti gigi, kambing telah berumur dua tahun lebih dan sapi atau kerbau telah berumur dua tahun lebih. Bagi sapi atau kerbau berlaku untuk 7 orang berdasarkan riwayat Jabir bin Abdullah yang mengatakan, bahwa Kami telah menyembelih qurban bersama Rasulullah saw. pada tahun Hudaibiyah, satu ekot unta untuk tujuh orang dan satu ekor sapi untuk tujuh orang. Sedangkan satu ekor domba/kambing untuk satu orang diqiaskan kepada denda (dam) meninggalkan wajib haji.
3. Qurban dilakukan pada waktu yang telah ditentukan; Yaitu mulai terbit fajar, sebaiknya setelah melaksanakan shalat idhul adha tanggal 10 sampai sebelum terbenam matahari tanggal 13 Dzulhijjah.

G. HAL-HAL YANG DISUNNAHKAN

1. Memilih binatang qurban yang gemuk
2. Mengikat binatang qurban beberapa hari menjelang idhul Adha sebagai syi’ar.
3. Tidak memotong kuku dan bulu binatang qurban sejak awal bulan Dzulhijjah.
4. Membaca basmallaah ketika menyembelih hewan qurban.
5. Membaca shalawat atas nabi saw. dengan tujuan mendekatkan diri kepada Allah swt.
6. Membaca takbir.
7. Berdo’a agar diterima qurbannya, dengan do’a misalnya
8. Binatang yang akan disembelih dihadapkan ke kiblat.
9. Melakukan penyembelihan qurbannya dengan tangannya sendiri bagi pria, sedangkan bagi wanita mewakilkan kepada pria.
10. Yang berkurban menghadiri penyembelihan kurbannya.
11. Menggunakan alat yang tajam.

H. MEMAKAN DAGING QURBAN

Madzhab Hanafi dan Syafi’i mewajibkan pembagian daging qurban nazar dan haram bagi orang yang bernazar memakannya. Karena hukum qurban nazar sama dengan nazar lainnya, tidak boleh diambil manfaat oleh yang bernazar. Tetapi madzhab Maliki dan Hambali membolehkan memakan sedikit saja dari daging qurbannya. Karena qurban nazar sama dengan qurban biasa, yang membolehkan yang berqurban memakan dagingnya.

Adapun mengenai qurban biasa, sepakat para fuqaha, bahwa daging qurban diberikan kepada; orang yang berqurban, kaum kerabat (walaupun orang kaya) dan untuk orang miskin.

I. LAIN-LAIN

Mengenai qurban bagi orang yang sudah meninggal, menurut Imam asy-Syafi’i tidak boleh, kecuali ada wasiat. Sedangkan menurut Madzhab Maliki makruh hukumnya kalau tidak ada wasiat. Dan menurut madzhab Hanafi dan Hambali tidak ada halangan untuk berqurban bagi orang yang sudah meninggal, sekalipun tidak ada wasiat, karena orang yang telah meninggal lebih mengharap bantuan berupa do’a dan sedekah dari saudaranya yang masih hidup. Rasulullah saw. sendiri pernah meletakkan pelepah-pelepah kurma basah di atas kuburan orang yang meninggal dunia dan menyatakan, bahwa hal itu memberi manfaat kepadanya (H.R.Bukhari dan Muslim)

Comments (0)
LAST_UPDATED2

Hakcipta © 2008 BTIK FKIP uninus Bandung

About 3setiyanto

Lahir di lereng lawu, Dekat kebun Teh dan Kopi tapi barubelajar cara menikmati Teh dan Kopi

Diskusi

One thought on “Binatangng Qurban dan Hukum syar’i nya

  1. binatang qurban baik kambing atau sapi yang baik sesuai syarat sah untuk qurban, semoga banyak yang dapat merasakan bahagia mendapatkan qurban

    Posted by Rifai | Agustus 12, 2016, 9:24 am

tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 475,330 hits

my facebook

terbanyak dibaca

%d blogger menyukai ini: