//
you're reading...
macem - macem

IlmuVolcanology van Java untuk Mbah Marijan in Memorial


Sebenarnya dalam budaya kraton Mataram itu ilmu pengetahuan dan teknologi sangat di kembangkan, namun tradisi mereka yang tertutup membuat saakan-akan ugeman atau aturan baku itu sesuatu yang harus diuruti, tanpa tahu dari mana kenapa dan untuk apa. Dalam tradisi jawa tempo doeloe sendiko dawuh adalah wajib bagi abdidalem terhadap ngerso dalem.

Demikian Juga dalam hal Ilmu Volcanology yang di kembangkan oleh trah mbah Marijan. Beliau tidak hanya ngawur dengan pemikirannya sendiri untuk menentukan apakah Merapi aan punya gawe besar, kecil atau ngamuk.. Namun dalam hal mencari ilmu pengetahuan secara jawa ini, seperti biasa untuk memperkuat mistisnya mereka banyak membuat aturan2 tata laku yang kadang aneh2. Padahal kurang mendasar, sebenarnya titik beratnya adalah ketaatan Murid terhadap Guru.. Jikalau Guru menganggap si Murid mempunyai kadar ketaatan dan keloyalan yang teruji denga tata laku yang aneh-aneh tadi maka di turunkan lah satu persatu Ilmu tadi yang tidak akan di jumpai di toko buku manapun.

Hal tentang ke arsitekturan di lingkungan Istana, perawatan dan pembuatan alat perang, pengairan dan Irigrasi,kesusasteraan dan lai-lain diturunkan secara turun temurun, Guru Murid.. Sehingga jaman dahulu pengetahuan sangat sulit berkembang di masyarakat. Ini memang sebagai perisai atau strategi atau pula budaya jawa mengikuti budaya india yang membagi manusia berdasarkan kasta-kasta tertentu sesuai dari bawaan lahir/ keurunan.

Kembali ke mbah Marijan yang memang sudah sepuh, yang biasanya rasanya lebih peka, namun siapa tahu karena kebanyakan kuku bima menjadi hatinya keras (katanya mengandung taurine yang berbahaya bagi hati dan ginjal..wwlwh22). Kok kurang cespleng prediksinya.. jelas beliau belum turun dari gunung berarti menurut Ilmu Volcanologi beliau kondisi merapi masih aman, sedang menurut Ilmu volcanology BMG sudah kritis 10 KM radius puncak harus kosong gak ada orang… Boleh lah tahun lalu mbah marijan benar, tetapi  ternyata bisa jadi waktu itu memang beliau tulus ikhlas dan juga beruntung Penjaga Utama Gunung masih memberi yuswa panjang, tapi kali ini jelas Ilmu beliau yang mungkin kurang di update maklum jarang online..sehingga salah total. Dan beliau akhirnya wafat. Bukan berarti Ilmu beliau salah.. tetapi kurag tepat.

Dalam budaya Ilmu Alam yang di padu dengan Ilmu Hati ke ikhlasan dan ketulusan hati memnjadikan bersih hati akan mudah masuk Ilmu2 Alam, bisikan dan wahyu dalam hati yang bening karena akan langsung masuk kedalam ruhnya manusia… Lha kalau hati kurang bening tercemar nafsu ingin di puji, dianggap kuat apalagi nafsu dipuja sesama manusia… bisakan lembut, halus, keeciiil kurang terasa akhirnya mengakibatkan kesimpulan yang keliru.

wallohu a’lam

 

Kalau diatas adalah grundelanku yang bukan bersekolah di ilmu sosiologi dan sebangsanya, berikut pendapat PAKAR:

Prof Heru: Juru Kunci Merapi Tak Penting, yang Penting Warga Terayomi
Nurvita Indarini – detikNews

<p>Your browser does not support iframes.</p>

Jakarta – Gunung Merapi itu meletus lagi. Korban jiwa berjatuhan. Salah satu yang menjadi korban tewas adalah Mbah Maridjan, juru kunci alias kuncen Gunung Merapi.

Menurut sosiolog UGM Prof Heru Nugroho, sepeninggal Mbah Maridjan, juru kunci Merapi tidak penting lagi. Karena yang lebih penting adalah membuat warga, khususnya di lereng Merapi, merasa terayomi, berpikir rasional dan aman dari aktivitas gunung tersebut.

Berikut ini wawancara detikcom dengan peraih gelar doktor dari Universitas Bielefeld, Jerman, ini, Rabu (27/10/2010):

Mbah Maridjan bertahan di rumahnya meski telah diminta turun akibat aktivitas Merapi. Kira-kira apa yang menyebabkan dia begitu keukeuh?

Sosok Mbah Maridjan ini loyal terhadap apa yang dipercayakan pada beliau oleh Sultan Hamengku Buwono IX. Mbah Maridjan sangat hormat kepada Sultan HB IX karena punya kharisma yang luar biasa. Karena kepercayaan yang diberikan, dan saya rasa Mbah Maridjan tidak terlalu percaya dengan pemerintah sekarang, jadi dia beranggapan tidak perlu mendengar perintah selain dari Sultan HB IX.

Dulu waktu disuruh turun Sultan HB X, kan Mbah Maridjan bilang, yang menyuruh itu kan Gubernur. Sebenarnya itu bentuk sindiran. Dia tidak memiliki trust kepada Sultan sekarang karena dirasa pengayoman kepada masyarakat berbeda jauh dengan yang dilakukan Sultan sebelumnya.

Ini pembangkangan spiritual meskipun dibayar dengan kematiannya. Sepertinya dia ingin menjadi simbol sebagai orang yang bergulat dan mencintai kepercayaan yang telah diberikan.

Apakah warga sekitar mengkultuskan Mbah Maridjan sehingga mereka turut menjadi korban awan panas Merapi karena mengikuti sikap Mbah Maridjan yang bertahan di rumahnya?

Dari sisi rasionalitas, pengetahuan, mungkin ini bentuk irrasionalitas. Tapi kenyataannya Mbah Maridjan memiliki pengikut yang percaya pada Mbah Maridjan. Ini korban sistem tradisional.

Mereka mengikuti Mbah Maridjan bukan tanpa alasan. Karena di mata mereka Mbah Maridjan itu punya integritas. Mungkin nanti kalau ada orang yang punya integritas seperti itu ya akan seperti Mbah Maridjan.

Dari sisi keilmuan kritis, Mbah Maridjan mengkultuskan sosok Sri Sultan HB IX dan dia terbukti dalam pekerjaan punya integritas. Sampai umur 83 tetap mengabdi. Ini pun nantinya akan menjadi contoh buat anak, cucu, orang di sekitarnya. Ini karena sistem kepercayaan.

Memang karakter masyarakat yang tinggal di tempat-tempat seperti lereng Merapi seperti itu?

Saya rasa kuncinya lebih kepada Sultan HB X. Kalau dia bisa menciptakan trust, pasti masyarakat di sana mau mendengarkan dan mau turun. Ini tidak lepas dari perilaku sehari-hari HB X yang dinilai mereka banyak melakukan manuver yang dianggap tidak layak sebagai wong Jowo.

Masyarakat merasa tidak mendapat pengayoman?

Jadi seharusnya pendekatan yang dilakukan itu menggunakan bahasa mereka, lalu masuk dalam sistem kepercayan itu. Jadi bisa mengkomunikasikan. Sosok seperti Mbah Maridjan itu bisa dijadikan alat untuk menyebarluaskan kebijakan pemerintah, tapi pemerintah sekarang tidak seperti itu, sehingga dirasa tidak memberi pengayoman. Demokrasi yang yang disandera elit.

Perlu ada pengganti Mbah Maridjan?

Itu wewenang Kerajaan Yogya. Sejauh pemerintah bisa memberikan penyuluhan dan mengayomi masyarakat, bisa memindahkan mereka (dari lereng Merapi) secara bijaksana, lalu ada jaminan hidup kalau pindah tentu masyarakat tidak akan masalah. Sebab sampai kapan pun Merapi akan muntah terus, dan kalau tersumbat pasti akan meledak. Ada siklus yang harus diikuti. Karena itu, masyarakat harus benar-benar mendapat pemahaman yang baik akan ini.

Mungkin juru kuncinya harus dilengkapi dengan teknologi pemantau kegunungapian?

Saya rasa tidak penting (ada tidaknya juru kunci). Yang penting pemerintah bisa menjelaskan dengan baik bahaya yang mengancam masyarakat, bisa memberikan penjelasan bila mereka dipindahkan dan bisa memberikan jaminan hidup juga. Pemerintah harus bisa menjelaskan dengan baik agar masyarakat mampu berpikir rasional.
(vit/ken)

About 3setiyanto

Lahir di lereng lawu, Dekat kebun Teh dan Kopi tapi barubelajar cara menikmati Teh dan Kopi

Diskusi

Belum ada komentar.

tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 475,381 hits

my facebook

terbanyak dibaca

%d blogger menyukai ini: