//
you're reading...
Agama dan BUdaya, kesehatan, macem - macem

Binatang buas Haram? Landak Haram?Darah yang menempel dalam daging Haram?


Tafsir surat Al-Anam 145 yang bunyinya:

(QS 6:145) Katakanlah: Tiada kudapati dalam wahyu yang diwahyukan Allah kepadaku, sesuatu yang di haramkan bagi seseorang yang akan memakannya, kecuali bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi karena itu kotor atau perbuatan fasik (pelanggaran) yaitu sembelihan yang di sebut nama selain nama Allah. Tetapi bagi siap dalam keadaan terpaksa , bukan karena ingin atau pelanggaran (melampaui batas), maka sesungguhnya Tuhanmu Maha Pengampun lagi Penyayang.

Ibnu Katsir menjelaskan:

Dalam ayat ini Allah menyruh Nabi Saw menyampaikan kepada kaum musyrikin  yang mengharamkan berbagai makanan rezeki Allah kepada manusia.

Katakanlah: Bahwa wahyu yang diturunkan Allah tidak kutemukan yang diharamkan untuk dimakan oleh manusia kecuali bangkai yaitu binatang yang matinya bukan karena di sembelih yang ditentukan oleh tuntunan agama Islam dan darah yang mengalir.

Ikrimah berkata,”Andaikan iada ayat ini niscaya orang-orang akan mengambil darah-darah yang ada di urat-urat sebagaimana yang terjadi pada kaum Yahudi.”

Hammad meriwayatkan dari Imran bin Jarir berkata,”Saya telah berkata kepada Abu Mijlaz tentang darah yang mengenai kepala binatang  yang di sembelih, juga darah yang mengapung didalam panci. Jawabnya: Sebenarnya Tuhan Allah hanya melarang darah yang mengalir.”

Qatadah berkata,”Yang dihanyalah darah yang mengalir, adapun daging yang terkena darah tidak apa-apa.”

Aisyah r.a berpendapat, bahwa daging binatang buas tidak haram demikian juga darah yang mengapung dalam rebusan daging.

Amir bin Dienaar bertanya kepada Jabir bin Abdullah r.a. : Orang-orang mengatakan bahwa Rosulullah saw melarang daging himar peliharaan ketika perang Khaibar. Jawabnya:Itu keterangan Alhakam bin Amr dari Rosulullah saw. Tetapi itu ditolak oleh Albahr (Ibn Abbas) dan dibacakan kepadanya ayat 145 ini. (R. Bukhari, Abu Dawud/ Alhakim).

Ibn Abbas berkata, dahulu orang jahiliyah memakan apa yang disukainya dan meninggalkan makanan karena jijik, kemudian Allah mengutus Nabi Nya dan menurunkan kitabNya, menghalalkan yang dihalalkan Nya dan mengharamkan apa yang diharamkan-Nya, maka apa yang dihalalkan tetap halal dan yang diharamkan tetap haram, dan yang didiamkan berarti dimaafkan. Lalu ia membaca ayat 145 ini.

Ibn Abbas r.a. berkata, ketikakambing Saudah bin Zam’ah mati ia memberitahu kepada Rosulullah bahwa kambingnya telah mati, maka Rosulullah saw, bertanya,”mengapa tidak diambil kulitnya?”. “Bagaimana akan mengambil kulit bangkai kambing?” jawab Saudah.  Nabi Saw pun menjawab,”Sesungguhnya Allah hanya mengharamkan makan dan kalian tidak memakannya, hanya kalian ambil kulitnya untuk disamak kemudian dipergunakan untuk tempat air (qirbah).” Maka Saudah menyuruh pelayannya menguliti bangkai kambing itu lalu di samak dan dipergunakan untuk qirbah hingga robek. (R. Ahmad, Bukhari, Annasa’i).

Numailah Alfazari berkata,” ketika aku di majlis Ibn Umar, tiba-tiba ia ditanya tentang makan landak, maka dibacakan ayat 145 ini oleh Ibn Umar r.a. Tiba-tiba ada seorang tua berkata,”Aku telah mendengar Abu Hurairah berkata,”Pernah di ceritakan di majlis nabi Saw tentang landak, tiba-tiba Nabi saw bersabda:Khabittsun minal khabaa’itsi yang berarti haram, sebagaimana dalam ayat: Wa yuharrimualaihimul khabaa’its (dan mengharamkan atas semua yang jahat/keji).” maka Ibn Umar r.a. berkata,”Jika Nabi saw. telah bersabda, maka menurut apa sabda Nabi itu (yakni haram).” (R. Abu Dawud dari Said bin Mansyur)

Faman idh thurra ghaira baaghin walaa aadin: maka siapa yang terpaksa memakan sesuatu dari apa yang telah diharamkan itu, bukan semata-mat karena keinginan dan melampaui batas keperluan, atau tidak kemaksiatan maka Tuhanmu Maha Pengampun lagi Penyayang.

Dalam ayat ini Allah menyebut apa-apa yang biasa dimakan oleh bangsa Arab sebelum Islam dimasa jahiliyah, dan umum memakannya, adapun yang tidak biasa dimakan maka tidak disebut hukumnya, kecuali jika ada keterangan dari Rosulullah sebagai yang terjadi di atas dalam kejadian Ibn Umar r.a. Maka hendaknya sedemikian sikap seorang beriman kepada Allah dan Rosulullah saw.

About 3setiyanto

Lahir di lereng lawu, Dekat kebun Teh dan Kopi tapi barubelajar cara menikmati Teh dan Kopi

Diskusi

Belum ada komentar.

tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 475,330 hits

my facebook

terbanyak dibaca

%d blogger menyukai ini: