//
you're reading...
Agama dan BUdaya, macem - macem

Pendapat golongan yang menyebut Salafi tentang Baiat


Saya kopi paste artikel ini dari  blognya abusalma.wordpress.com

bukan berarti saya seratus persen telah faham dan menerima isi keseluruhan penjelasan ini, tetapi saya berusaha mengumpulkan referensi yang insyaalloh berguna untuk pemahaman agama ini secara syamil… semua orang bisa berdalil, berhujah dan berpendapat..walohua’lam

Sikap Ahluss Sunnah Wal Jama’ah Tentang Bai’at dan Imamah

Oleh : Abu Salma Mohamad Fachrurozi

Tidak bosan saya membahas prinsip yang satu ini, yaitu wajibnya kita kaum muslimin berbai’at dan taat kepada penguasa muslim dalam perkara yang bukan maksiat.  Karena perkara ini (yaitu Bai’at) terlalu banyak dari kalangan kaum muslimin yang memenjarakannya. Disatu sisi, sebagian mereka meremehkan atau menghilangkan syari’at yang mulia ini. Bai’at menurut mereka ketingalan jaman, kuno dan tidak relevan dengan jaman yang modern, jaman demokrasi. Mereka menolak syari’at ini karena penguasanya tidak sesuai selera mereka (baca dari kelompok mereka).  Mereka mengatakan dengan perkataan-perkataan busuk terhadap para ulama yang senantiasa mengumandangkan syari’at ini. Mereka menuduh para ulama adalah kaki tangan penguasa, berfatwa dengan fatwa yang berfihak kepada penguasa. Ya …mereka berkata seperti itu karena mereka haus akan kekuasaan dan kedudukan. Mereka hanya mau taat kepada amir jamaahnya belaka.

Di lain sisi, sebagian kaum muslimin menjerat muslimin yang lain dengan bai’at ini. Walaupun tidak ada kekuasaan padanya mereka mewajibkan bai’at kepada seluruh kaum mulimin. Mereka menggunakan dalil-dalil bai’at untuk mengokohkan kedudukannya. Memvonis sesat dan jahiliyah bagi siapa saja yang tidakmau berbai’at dan masuk ke dalam kelompoknya. Akibatnya, bai’at berfungsi sebagai belenggu orang-orang bodoh yang masuk / terlanjur masuk ke dalam kelompoknya. Akibat semua ini syari’at mulia ini semakin sulit dipahami oleh awamnya kaum muslimin.

Dua model kelompok itu sebenarnya sama saja , yaitu mereka mau taat hanya jika dan jika penguasanya adalah berasal dari  golongannya.  Sungguh sangat jauh dengan Ahlus  Sunnah yang tidak pernah mensyaratkan orang yang boleh ditaati  adalah yang berasalkan dari kelompoknya.  Tidak pernah seperti itu, Ahlus Sunnah  komitmen dengan  dalil, siapapun  yang berkuasa asal Muslim  boleh diba’at dan ditaati, tidak boleh  keluar (memberontak) padanya, dilaksanakan ibadah-ibadah seperti Shalat jum’at, hari raya, haji, jihad bersama penguasa.

Ini bukti bahwa  Ahli Sunnah adalah orang-orang  yang paling  komit dengan persatuan dan kesatuan kaum muslimin. Namun sungguh aneh tuduhan mereka kepada Ahlus Sunnah, mereka mengatkan  Ahlus Sunnah sumber pemecah belah umat.

Maka kita katakan: Biarlah anjing menggonggong,  dakwah tetap berlalu.

Berikut ini penjelasan yang sangat luas oleh Ulama Ahlussunnah, semoga kita dapat mengambil pelajaran, sunguh sangat ironi jika kita semua yang selama ini gembar-gembor mengajak kembali kepada Khilafah, Syari’at Islam dan semisalnya, namun ternyata kita mengingkari hal yang berikut ini. Semoga Allah selamatkan kita dari  orang-orang yang menghinakan dan melecehkan para ulama.

Sikap Ahluss Sunnah Wal Jama’ah Tentang Bai’at dan Imamah

Oleh : Syaikh Muhammad bin Ramzan Al-Hajiry   حفظه الله

 

Dakwah salafiyyah tidaklah terbatas perhatiannya hanya pada keyakinan yang shahih dalam Asma’ dan Sifat, juga kepada pengesaan Allah ta’ala saja dalam ibadah, karena ada sebagian orang yang sangat perhatian dengan masalah-masalah ini, namun mereka menganggap enteng dalam masalah bai’at terhadap seorang imam yang muslim yang mungkin untuk dibai’at. Akhirnya mereka akan memiliki sifat yang sama dengan orang-orang khawarij, karena orang-orang khawarij mereka tidak ada yang thawaf dan menyembelih untuk selain Allah ta’ala dan tidak pula mempunyai kesalahan dalam Asma’dan Sifat, namun yang menjadikan permasalahan Amirul Mu’minin Ali bin Abi Thalib memerangi mereka adalah akibat mereka keluar dari mendengar dan taat kepada penguasa.

Inilah poin yang ketiga : Tentang sikap Ahlus Sunnah dalam bai’at dan imamah. Dan yang dimaksud sikap kepada imam yaitu (sikap kepada) pemerintah atau penguasa muslim dan hak-haknya. Ahli Sunnah tidak mensyaratkan pada seorang imam dia harus ma’sum (terjaga dari dosa, pent.) sebagaimana dalam hadits ‘Adi bin Hatim yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Ashim dalam kitab Assunnah, beliau berkata : Ya Rasulallah, kami tidak menanyakan kepadamu tentang taat kepada seorang yang bertaqwa, namun taat kepada orang yang telah berbuat demikian dan demikian (mereka menyebutkan keburukan), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bersabda : “Bertaqwalah kepada Allah ta’ala, dengar dan taatlah !!”. Dan tidaklah ada yang mensyaratkan bahwa imam itu harus ma’shum kecuali orang-orang Rafidhah. Maka kelompok-kelompok masa kini yang menolak untuk memberi bai;at kepada penguasa dengan alasan bahwa seorang itu seorang yang fasik atau zalim, mereka telah sesuai dengan orang-orang Rafidhah. Oleh karena inilah para salaf selalu menyebut keyakinan dalam masalah imamah ini dalam buku-buku yang berkaitan dengan masalah akidah dengan ucapan mereka: “Kami berpendapat untuk mendengar dan taat dalam hal yang ma’ruf kepada penguasa, baik dia seorang yang baik ataupun seorang yang zalim,”. Apa yang dimaksud dengan fujur (zalim) ??

Tidak diragukan lagi bahwa fujur adalah kebalikan dari baik dan adil, dan para salaf tidak mensyaratkan seorang penguasa harus orang yang baik dan adil supaya ditaati dalam hal yang ma’ruf dan diharamkan untuk khuruj (memberontak/membelot, pent) darinya.

Oleh karena itu sikap terhadap masalah bai’at dan imamah merupakan sikap yang jelas bagi seorang pemuda dari kekacuan ini. Dan hal ini merupakan hal yang bisa digunakan untuk menimbang berbagai kelompok, individu ataupun jama’ah-jama’ah yang menisbatkan diri kepada ilmu dan dakwah. Masalah ini adalah masalah yang rumit yang membutuhkan perhatian dan harus bersih dari hawa nafsu.

Masalah ini tidak diketahui oleh para pemuda, siapa yang membicarakannya akan dicela kalau itu adalah basa-basi dan terlalu lunak, dan tertutupnya masalah ini tidak lain karena tersamar dari apa yang dikehendaki.

Maka akan anda temui sebagian mereka masuk dalam kelompok-kelompok yang mereka namakan “jihad” atau yang lainnya, kemudian kembali dan di lehernya telah ada lima atau enam bai’at terhadap orang yang membuat bagi mereka pemerintahan sendiri atau ia kembali ke masyarakatnya namun tidak lagi mengakui bai’atnya ata pemerintahannya !

Apa arti Bai’at ? Apa hukum-hukum bai’at ?

Saya menjawab : Telah berkata imam Adz Dzahabi رحمه الله dalam kitab Az Zahra’ fi Idhahil Imamatil Kubra (ق 1/ا): “Ahlus Sunnah, Mu’tazilah, Murji’ah, Khawarij, sepakat akan wajibnya imamah, dan wajib atas umat untuk tunduk kepada imam yang adil kecuali Najdaat dari Khawarij[1], mereka mengatakan Tidak wajib imamah, dan wajib atas mereka untuk menapaki suatu kebenaran diantara mereka, akan tetapi ini pendapat yang lemah. Dan golongan yang telah kami sebutkan bahwa tidak boleh dalam satu waktu kecuali satu imam, Kecuali Muhammad bin kiram dan Abu shabah As-Samaraqandi dan pengikutnya dimana mereka berpendapat akan bolehnya dua imam atau lebih dalam satu waktu, mereka beralasan dengan perkataan orang-orang anshar, “Dari kami ada amir dan kalian juga ada amir” Mereka juga beralasan akan keadaan Ali dan anaknya serta Muawiyah رضى الله عنهم [2].

Berkata Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Siyasah Syar’iyyah (hal:218) “Perlu diketahui bahwa pemerintahan diantara manusia termasuk diantara kewajiban agama yang besar bahkan agama ini tidak akan tegak kecuali dengannya, tidak akan sempurna kebaikan dan maslahat manusia kecuali dengan bersatu, karena saling membutuhkan satu sama lain, lalu ketika mereka bersatu harus ada pemimpin.”

Saya katakan: Yang telah menyelisihi Ahlu Sunnah Salafiyun dalam hal ini, adalah orang-orang Khawarij, Mu’tazilah, Murji’ah dan Syiah dimana wajib bagi umat untuk tunduk kepada Imam sekalipun tidak berlaku adil. Hal ini tentunya terkait dalam perkara ma’ruf. Adapun jika imam yang dhalim ini memerintah kemaksiatan dan kajahatan maka tidak ada ketaatan kepadanya dalam kemaksiatan dan kejahatan ini, namun tanpa melepas ketaatan dalam hal ma’ruf , dan terus menasehatinya jika memungkinkan, mendoakannya dan berusaha untuk memperbaiki tanpa membuat kekacauan atau menimbulkan fitnah.

Telah berkata Muhammad bin Yusuf bin Isa Athfiesy dalam Syarhu Nail wa Syifa’ul Alil fi Fiqh Ibadhi (14/311) telah berkata Syaikh Yusuf bin Ibrahim, “Sesungguhnya para ulama telah berbeda pendapat tentang keluar dari ketaatan para penguasa yang dzalim, menjadi tiga pendapat:

  1. Pendapat Asy’ariyah: Haramnya keluar dari ketaatan atas mereka
  2. Pendapat Khawarij: Wajib keluar dari ketaatan atas mereka bagi yang lemah dan yang kuat, bahkan sampai salah seprang dari mereka mengatakan: Abu Khalid keluarlah dan kamu akan kekal dan Allah ta’ala tidak memberi udzur bagi orang yang duduk.

Apakah kamu mengira seorang Khawarij di atas petunjuk. Sementara kamu tinggal bersama orang maksiat dan pendurhaka

  1. Pendapat kawan kami (yakni Ibadhiyah) : Boleh keduanya.

Dia juga mengatakan (14/343) Jika imam mengada ada dan memerangi, sementara kaum muslimin punya kekuatan, maka boleh membunuh dan menggantinya dengan yang lain, sebagaimana yang mereka lakukan kepada Utsman radhiallahu anhu dan jika tidak mampu mengalahkannya maka tidak boleh membunuhnya sampai mereka mengangkat seorang imam untuk berperang bersamanya sebagaimana yang dilakukan ahli Nahrawan terhadap Ali radhiallahu anhu,

Saya katakan: Ini adalah prinsip Ibadhi Khawarij yang telah mengakar pada sebagian pemuda di Haramain, sehingga anda bisa mendapati sebagian dari mereka ketika merasa memiliki kekuatan atau kesempatan, mereka mulai mempersiapkan untuk memerangi penguasa, mudah-mudahan Allah ta’ala menyelamatkan mereka dan memperbaiki langkah-langkahnya. Ini jelas olehmu wahai orang yang mencari petunjuk !! Jelas sekali perbedaan antara dakwah salafiyah dan dakwah Ibadiyyah, dan dengannya memungkinkan kamu untuk membongkar kedok para pengekor da’wah bid’iyah ini dengan menguji salah seorang dari mereka dengan beberapa pertanyaan berikut ini :

Apakah kamu menganggap sah imamahnya para pemimpin negeri-negeri Islam yang mereka menampakkan Islam dan menegakkan sebagian syiar-syiarnya, hanya mereka melakukan sebagian tindak kejahatan dan kedzaliman dan terkadang hal-hal yang menyelisihi As-sunnah ? Apakah kamu berpendapat akan wajibnya mentaati mereka dan haramnya khuruj (memberontak/membelot) atas mereka ??

Jika dia menjawab kepadamu dengan tanpa keraguan: Ya, demikianlah sunnahnya dan itu pula yang dikerjakan salafush shalih, maka ketahuilah bahwa dia itu seorang sunni salafy, rekatkan kedua tanganmu kepadanya, dan sangat jarang ditemui orang yang semisalnya.

Jika dia ragu-ragu dalam menjawab, memelintir dan berputar ke sana kemari, kemudian menjawab : “Terdapat perbedaan pendapat diantara para ulama tentang masalah ini atau keadaan para penguasa sekarang berbeda dengan keadaan para imam yang dzalim yang para salaf berfatwa akan haramnya menentang mereka, sekalipun kami tidak mengkafirkannya namun kami berpendapat tidak adanya wilayah (kesetiaan-pen) atas mereka karena sikap adil merupaka syarat sahnya wilayah.” Maka ketahuilah bahwa dia itu mu’tazili yang mengikuti hawa nafsu dan lebih condong kepada prinsip Khawarij.

Jika dia menjawabmu dengan keras dan kasar, “Mereka itu bukan muslimin karena tidak berhukum dengan hukum yang Allah ta’ala, mereka memberi loyalitas kepada orang-orang kafir, tidak ada bagi kami ketaatan kepadanya, bahkan wajib untuk menyusun kekuatan untuk memerangi dan mebersihkan mereka dengan kuat.” Maka ketauhilah bahwa mereka itu Khawarij, jauhkan kedua tanganmu darinya karena sesungguhnya dia prang yang suka menyulut api perang.

Ada pula orang-orang yang mengikuti prinsip Ibadhiyah dan Syi’ah dalam taqiyah, maka kamu dapati sekelompok orang yang memiliki kedudukan resmi di badan instansi dan Negara-negara Islam mereka menampakkan ketatan kepada para penguasa karena takut akan kedudukan mereka, namun dalam majlis-majlis khusus mereka mencela dan melaknat penguasa bahkan terkadang mengkafirkannya, meyakini bahwa kekuasaan mereka tidak sesuai syari’at, lalu dalam kegelapan malam mereka merencanakan untuk membersihkan penguasa dan merampas kekuasaan dari mereka. Kelompok ini adalah kebanyakan dari Ikhwanul Muslimin yang telah menyimpang atau orang-orang yang sudah melangkah kepada tahapan untuk menjadi seorang hizbi.

Berkata Imam Al Ajuri dalam kitab Asyari’ah (hal 40). :Siapapun yang menjadi penguasamu, baik itu orang arab atau lainnya, berkulit hitam atau putih atau ajam maka taatilah selagi tidak bermaksiat kepada Allah ta’ala, sekalipun mendzalimi kamu, sekalipun memukulmu dengan kedzaliman, menjatuhkan harga dirimu dan merampas hartamu, janganlah hal itu menyebabkan kamu mengeluarkan pedangmu untuk membunuhnya, jangan membangkang bersama seorang Khawarij untuk membunuhnya dan jangan memprovokasi orang lain untuk membangkang akan tetapi bersabarlah atasnya.”

Saya katakana : Bukan hal yang diragukan lagi bahwa kelompok-kelompok hizbiyah ini jauh dari nasehat salafiyah dari imam Al Ajuri ini, dimana dapat dikatakan bahwa sebagian individu dari kelompok-kelompok ini, ketika dia ikut andil dalam membunuh salah seorang penguasa kaum muslimin dalam beberapa tahun, ternyata yang menjadi pemicunya adalah karena penguasa ini memukulnya, menjatuhkan harga dirinya dan merampas hartanya. Seandainya saja mereka terdidik dalam didikan para ulama salafiyin, mereka akan mempelajari dari para ulama seperti apa yang dikatakan oleh Imam Al Ajuri ini, dan dengan rahmat Allah ta’ala dan karunia-Nya mereka tidak akan terjadi dari membangkang kepada penguasa, yang akan berakibat kerusakan yang besar yang tidak diridhoi Allah ta’ala. Akan tetapi para pemuda ini terdidik dari buku-buku Sayid Qutub dan Al Maududi dan yang semisalnya dari para hizbiyyin, maka jadilah mereka Khawarij masa kini.

Dan bau busuk qutbiyah maududiyah hizbiyah senantiasa mengundang para pemuda untuk membangkang kepada para penguasa, berbuat keributan dan penculikan baik dengan isyarat ataupun terang-terangan.

Berkata Al Ajuri (hal:37) “Telah saya sebutkan peringatan yang banyak terhadap prinsip-prinsip Khawarij bagi siapa prang yang dijaga oleh Allah Yang Maha Mulia dari manhaj mereka, tidak mengikuti pemikiran mereka dan sabar dengan kedzaliman penguasa dan kekasaran umara’ serta tidak melawan dengan pedangnya, selalu berdoa kepada Allah ta’ala agar melenyapkan kedzaliman, mempersatukan umat Islam dan mendoakan penguasa dengan kebaikan, berhaji bersama mereka, berperang bersama mereka menghadapi setiap musuh kaum muslimin, sholat jum’ah dan dua hari raya bersama mereka, jika mereka menuntut untuk taat, merekapun mentaaatinya jika memungkinkan dan jika tidak maka minta izin kepada mereka dan jika mereka memerintah kepada maksiat maka tidak ditaatinya. Apabila terjadi fitnah di antara mereka akan tetap tinggal di rumahnya dan menjaga lisan dan tangannya, tidak terpancing dengan apa yang terjadi pada mereka juga tidak membantunya untuk memfitnahnya, barang siapa yang memiliki sifat seperti ini maka di atas jalan yang lurus Insya Allah ta’ala.

Berkata Syaikhul Islam dalam kitab Minhajus Sunnah (3/390-392) ketika menjelaskan prinsip imamah menurut Ahlus Sunnah, hal itu ketika beliau membantah perkataan Ibnu Muthahir Rafidhi: “Semua yang membai’at Quraisy maka terikatlah imamahnya dan wajib atas semua manusia untuk mentaati jika tidak diketahui keadaannya sekalipun dalam puncak kefasikan, kekufurn dan nifaq.”

Maka jawabannya dari beberapa sisi…kemudian beliau menyebutkan empat alasan, dan yang menjadi dalil adalah perkataan beliau : “Dan yang paling benar menurut ahli hadits dan para fuqaha adalah pendapat pertama yaitu supaya mentaatinya dalam ketaatan kepada Allah ta’ala secara mutlak dan dilaksanakan hukum dan sumpahnya jika dilakukannya dengan adil secara mutlak, sampai seorang qadhi yang jahil dan dzalim dilaksanakan hukum dan pembagiannya dengan adil berdasar pendapat ini, sebagaimana hal ini merupakan pendapat kebanyakan fuqaha” Sampai beliau mengatakan: “Oleh karena inilah masyhur dari pendapat Ahli Sunnah, mereka tidak berpendapat akan bolehnya membangkang kepada penguasa dan mengangkat pedang atasnya, sekalipun ada kedzaliman pada mereka, sebagaimana hal ini banyak ditunjukkan oleh hadits-hadits yang shahih dari nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, karena kerusakan dalam peperangan dan fitnah lebih besar dari pada kerusakan yang terjadi karena kedzaliman mereka tanpa ada peperangan dan fitnah. Maka tidaklah menolak kepada dua kerusakan kecuali mengambil lebih ringan. Hampir-hampir tidak didapati satu kelompik yang membangkang kepada penguasa, kecuali dalam pembangkangannya itu ada kerusakan yang lebih besar dari kerusakan yang dihilangkan.

Kemudian beliau berkata: Dalam shahih Muslim dari ummu salamah radhiallahu anha bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bersabda : “Akan ada para umara yang kamu mengetahuinya dan kamu mengingkari, barang siapa mengetahuinya akan terlepas diri dan barang siapa mengingkari maka akan selamat, namun siapa yang ridha dan taat” Para sahabat bertanya : Tidakkah kita perangi mereka ? Beliau menjawab : Jangan, selagi mereka masih menegakkan shalat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. melarang mereka padahal beliau mengabarkan bahwa mereka mengerjakan perkara-perkara yang mungkar, hal ini menunjukkan tidak bolehnya mengingkari kemungkaran dengan pedang seperti pendapatnya orang-orang yang mengingkari penguasa dari kalangan Khawarij, Zaidiyah, Mu’tazilah dan kelompok dari para fuqaha serta yang lainnya.

Dalam shahihain dari Abdullah bin Ma’sud radhiallahu anhu berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Bersabda kepada kami: “Sesungguhnya kalian akan melihat sepeningalku kekacauan dan perkara-perkara yang kalian mengingkarinya.: Para sahabat bertanya : Apa yang engkau perintahkan kepada kami” Beliau menjawab :”Kalian penuhi hak yang menjadi kewajiban atas kalian dan mintalah kepada Allah ta’ala akan hal kalian sendiri,”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Mengabarkan bahwa para penguasa berbuat dzalim dan melakukan ha-hal yang munkar, namun demikian beliau memerintahkan kita untuk memenuhi hak-hak mereka dan memohon kepada Allah akan hak-hak kita, beliau tidak mengizinkan untuk menuntut hak dengan peperangan dan tidak memberikan keringanan untuk tidak menunaikan hak mereka.

Dari shahihain dari Ibnu Abbas radhiallahuanhuma dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda : “Barang siapa yang melihat amirnya berbuat sesuatu yang tidak disukainya maka bersabarlah, sesungguhnya barang siapa yang menyimpang dari jamaah satu jengkal kemudian dia mati, maka sesungguhnya dia mati jahiliyyah.” Dan lafadznya lafadz Imam Bukhari.

Telah berlalu dari sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ketika menyebutkan bahwa mereka adalah kaum yang mengambil petunjuk dengan selain petunjuknya dan mengambil selain sunnah-sunnahnya, maka Hudzaifah radhiallahu ‘anhu bertanya : Apa yang mesti saya kerjakan ya Rasulallah, ketika mendapati hal itu ? Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab : Mendengar dan taatlah kepada amir, sekalipun ia memukul punggungmu dan merampas hartamu maka dengar dan taatilah !! ini adalah perintah untuk taat dengan kedzaliman seorang amir.

Telah berlalu sabda beliau shallallahu ‘alaihi wasallam :”Barang siapa yang diperintahkan oleh seorang wali yang dia melihatnya melakukuan sesuatu maksiat kepada Allah ta’ala maka bencilah apa yang dilakukannya dari maksiat kepada Allah ta’ala dan jangan melepaskan ketaatan dari padanya.” Dan ini larangan untuk keluar dari penguasa sekalipun berbuat maksiat.

Dan telah berlalu haditsnya Ubadah radhiallahu ‘anhu : “Kami membai’at Rasulallah shallallahu ‘alaihi wasallam untuk mendengar dan taat dalam suka dan duka kami, dalam kesulitann dan kemudahan kami, dan atas apa yang merugikan kami serta supaya kami jangan mencopot kekuasaan orang yang menjadi haknya. “Beliau bersabda : “Kecuali jika kamu melihat padanya kufur yang jelas, bagimu ada petunjuk dari Allah ta’ala.” Dalam riwayat lain “Dan supaya kami mengatakan (menegakkan) kebenaran dimanapun kami berada, kami tidak takut karena Allah ta’ala terhadap pencelaannnya orang-orang yang mencela.

Dan ini adalah perintah untuk taat bersama adanya tekanan dari penguasa yang ini merupakan kedzaliman darinya, juga larangn untuk mengusik-usik kekuasaannya dan ini adalah larangan untuk keluar dari ketaatan terhadapnya. Karena hak kekuasaan itu adalah hak mereka para penguasa yang kita diperintahkan untuk mentaati mereka, dan merekalah yang memiliki kekuasaan untuk memerintah dengannya. Bukan yang dimaksudkan orang yang berhak untuk diberi kekuasaan namun tidak memiliki kekuasan, juga bukan orang yang berhak untuk menjadi wali yang adil, karena telah disebutkan bahwa mereka para penguasa itu menegakkan, yang menunjukkan larangan untuk melepaskan dari kekuasaannya sekalipun memberi tekanan, dan ini masalah yang sangat luas!.

Saya katakana: Dan dengan penjelasan yang gamblang dan rinci dari Syaikh Ahli Sunnah wal jama’ah tentang aqidah salafush shalih dalam masalah keimamahan seorang yang fasik atau dzalim ini, telah melepaskan (memberi jalan keluar) secara sempurna dari pernyataan orang-orang hizbiyin untuk memcocoki prinsip mereka yang rusak untuk keluar dari penguasa kaum muslimin dengan sebagian perkataan Syaikhul Islam yang tersamar oleh mereka. Hal itu ketika mereka mendudukkan sebagian perkataan Syaikhul Islam akan wajibnya memerangi golongan yang menghalangi salah satu syari’at sehingga mereka dapat keluar dari penguasa yang tidak mempraktekkan sebagian hukum-hukum syar’i seperti hukum qishas, (yang keluar baik) dengan lisan maupun dengan tangan mereka.

Hal ini merupakan kebodohan dan kedunguan mereka :

Pertama : Bodohnya mereka dari makna perkataan Syaikhul Islam akan wajibnya memerangi sekelompok yang menghalangi (syari’at). Kewajiban ini adalah tergantung pada orang yang memiliki kekuatan dan kekuasaan dari para penguasa dan umara’, tidak tergantung pada individu masing-masing atau dengan partai-partai mereka yang kacau.

Kedua: Kedunguan mereka dari apa yang telah kami nukilkan dari kitab Minhajus Sunnah. Kedunguan seperti ini dan dalam ucapan yang seperti ini dengan menampakkan perkatann yang lain yang sesuai dengan hawa nafsu mereka, maka ini merupakan salah satu tanda dari tanda-tanda pengikut hawa nafsu yang mereka hanya menyebutkan sesuatu yang membela kemauan mereka dan menyimpan sesuatu yang menghacurkan mereka seta menyembunyikannya.

Telah dinukilkan ijma’ dari sekelompok ulama akan wajibnya taat kepada penguasa yang menang, dengan apa yang ada padanya (dari kerusakan) selain dari yang kita sebutkan, diantara mereka adalah :

Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (7/13): “Para fuqaha telah sepakat akan wajibnya taat kepada penguasa yang menang dan wajib berjihad bersamanya, mentaatinya dan lebih baik dari pada keluar memusuhinya, dimana hal itu akan meredam mengalirnya darah dan menenangkan kericuhan.”

Berkata imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslim (12/222) “Para Ulama sepakat akan wajibnya taat kepada para penguasa dalam hal yang tidak bermaksiat.”

Berkata Ibnu Qudamah dalam kitab Al-Mughni (9/5) : “Dan kesimpulan dalam perkara ini bahwa barang siapa yang telah disepakati oleh kaum muslimin akan kekuasaan dan bai’at maka tetaplah keimamahannya dan wajib untuk mendukungnya dengan (berdasarkan) dalil apa yang telah kami sebutkan dari hadits dan ijma’. Artinya barang siapa yang tetap keimamahannya pada masa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam atau sesudahnya untuk memenjadi imam maka diterima. Karena sesungguhnya Abu Bakar ditetapkan kepemimpinannya dengan ijma’ para sahabat untuk membai’atnya dan Umar ditetapkan kepemimpinannya pada masa Abu Bakar dan para sahabat sepakat untuk mentaatinya. Dan jika ada seorang yang keluar dari penguasa dan bisa mengalahkannya dan menundukkan manusia dengan pedangnya sehingga mereka mau mengakuinya dan tunduk taat kepdanya serta mengikutinya maka jadilah dia imam yang haram untuk diperangi dan keluar dari ketaatan kepadanya. Karena sesungguhnya Abdul Malik bin Marwan membelot dari Ibnu Zubair dan berhasil membunuhnya serta menguasai negeri dan penduduknya sehingga mereka mau membai’atnya dalam suka atau tidak suka, maka akhirnya dia menjadi imam yang diharamkan untuk keluar darinya, hal itu karena akibat keluar dari ketaatan akan memecah belah persatuan umat, mangalirkan darah mereka dan hilang harta mereka. Maka barang siapa yang keluar dari ketaatan terhadap orang yang telah ditetapkankan kekuasaannya dengan salah satu dari sisi ini dengan pembangkangan maka wajib untuk diperangi.

Berkata Abul Hasan Al Asy’ari dalam kitab Risalah ila Ahli Tsaghr (296). “Dan mereka sepakat untuk mendengar dan mentaati para penguasa kaum muslimin, dan bahwasannya siapapun yang menguasai sesuatu dari urusan mereka karena ridha atau menang dan berlangsung ketaatannya dari seorang yang baik atau jahat, maka tidak boleh keluat dari mereka baik dia berbuat dzalim ataupun berbuat keadilan dan hendakknya melawan musuh bersamanya, haji ke baitullah bersamnya, membayar zakat kepada mereka ketika mereka memintanya dan hendaknya melakukan sholat jum’at dan hari raya di belakang mereka.”

Bekata Imam Thahawi dalam menjelaskan Ahlus Sunnah wal Jama’ah: “Kami tidak berpendapat untuk keluar dari para imam dan penguasa kami sekalipun mereka berbuat jahat, dan tidak menjadikan keburukan atas mereka, tidak melepaskan ketaatan atas mereka, dan kami berprinsip behwa mentaati mereka termasuk taat kepada Allah ta’ala yang wajib selagi tidak memerintahkan kepada maksiat dan kita mendoakan mereka dengan kebaikan dan ampunan.”

Berkata Ahmad bin Musrif Al Ihsa’i Al Maliki dalam Muqadimahnya ba’it sya’irnya dari Risalah Ibnu Abi Zaid al Qairawani:

Mentaati Ulil Amri adalah wajib dari para pemimpin,ahli ilmu dan umara kecuali menyuruh maksiat suatu hari, maka tiada ketaatan atas mereka.

Termasuk dari masalah-masalah yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. menyelisihi orang-orang jahiliyah adalah apa yang disebutkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab pada masalah yang ketiga dari risalah Masa’il Jahiliyah : Bahwa menyelisihi penguasa dan tidak tunduk kepadanya adalah merupakan kehinaan dan kerendahan, maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyelisihi mereka dan memerintahkan untuk bersabar akan kedzaliman penguasa , memerintah untuk taat dan mendengar kepada mereka serta menasehatinya, bahkan beliau keras dan menampakkan dalam ini serta mengulanginya.”

Berkata Syaikh Shalih Al Syaikh hafidhahullah dalam Syarh Masa’il Jahiliyah : Maka ini merupakan dasar pokok yang agung” Beliau berkata Bila Nabi menampakkannya dan mengulanginya serta keras dalam masalah itu, yang mana termasuk dari kekerasannya adalah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Dengar dan taatilah sekalipun memukul punggungmu dan merampas hartamu maka dengar dan taatlah.” Mengapa ? Karena merampas harta dan menyiksa, kerusakannya hanya kembali kepadmu dan kamu akan beremu dengan Rabbmu yang memberi qishash untukmu, namun jika kamu tidak taat maka kerusakannya akan kembali kepada manusia (secara umum) dan akhirnya terjadi perpecahan dan perselisihan dan tentunya tidak akan terjadi persatuan dalam agama.

Di Jazirah ini dahulu sebelum dakwah Syaikh (Muhammad bin Abdul Wahhab, pent ) manusia bercerai-berai, masing-masing berada pada posisinya. Di Wilayah timur Jazirah Arabia mereka mengikuti agama Utsmaniyah, sementara di wilayah barat mengikuti Asyraf (Alawiyin) dan di bagian tengah yaitu Najd tidak berada dalam kekuasaan, namun masing-masing daerah memiliki amir dan maising-masing amir ditaati oleh penduduknya. Dan karena itu banyak terjadi peperangan yang kamu tidak mengetahuinya, sampai dalam satu hari di suatu desa yang dekat dengan Riyadh terbunuh empat orang yang ketika itu dia yang pertama adalah seorang amir kemudian seseorang membuhunya dan berkuasa, kemudian dia dibunuh oleh orang ketiga dan berkuasa, kemudian dibunuh oleh orang yang keempat dan berkuasa, hanya dalam waktu satu hari yang semuanya adalah desa yang penduduknya tidak lebih dari seratus orang jika banyak.

Maka Allah ta’ala memberi kenikmatan kepada negeri ini dengan dakwah tauhid, sehingga bersatulah manusia dan agama serta dunia mereka. Dan bukanlah hal yang meragukan bahwa perpecahan dalam masalah dunia akan memberi dampak perpecahan dalam agama dan perpecahan dalam agama akan memberi pengaruh dalam perpecahan dunia. (kaset 1b Minhajus sunnah Riyadh)

Berkata Syaikh Abdus Salam bin Barjas dalam kitab Muamalah Hakim (6-12): Perhatian para salaf dalam masalah ini telah membawa bentuk yang bermacam-macam yang telah sampai kepada kita, dan paling jelas dan baik adalah apa yang telah dilakukan oleh Imam Ahmad Imam Ahli Sunnah rahimahullah dimana beliau merupakan teladan dalam bermuamalah dengan para penguasa.

Para penguasa pada masanya telah mengadopsi pemikiran yang buruk dan memaksa rakyatnya dengan kekuatan dan pedangnya serta telah mengalirkan darah banyak ulama karena masalah ini dan mewajibkan rakyatnya untuk mengatakan Al-Qur’an adalah makhluk, bahkan hal itu ditetapkan dalam majlis-majlis pendidikan anak-anak…dan seterusnya dari bencana dan musibah, Namun demikian imam Ahmad ridak terseret dengan hawa nafsunya dan tidak mengandalkan kekuatan perasannya dan tetap kokoh di atas As Sunnah karena hal itu lebih baik dan lebih mendapatkan petunjuk. Maka beliau memerintahkan untuk taat kepada penguasa dan menyatukan masyarakat di atas ketaatan ini, beliau berdiri kokoh ibarat sebuah gunung yang menjulang siap menghadapi orang-orang yang ingin menyelisihi manhaj nabawi dan jalan yang murni ini dari ikatan Al Kitab dan As Sunnah atau prinsip revolusi yang merusak.

Berkata Hambal rahimahullah ta’ala “Para fuqaha Baghdad berkumpul mendatangi Abu Abdillah (yakni Imam Ahmad) pada masa kekhilafahan Al Watsiq, mereka berkata kepadanya: Sesungguhnya permasalahan sudah menyebar dan sampai pada puncaknya (yakni muncul perkataan Al-qur’an adalah Makhluk) dan yang lainnya, kami tidak rela dangan kekuasaannya dan pemerintahnnya. Maka beliau mengajak bediskusi dalam masalah ini dan mengatakan kepada mereka : Wajib bagi kalian untuk mengingkari dengan hati kalian dan jangan melepaskan ketaatan darinya, jangan memecah belah persatuan umat Islam, jangan alirkan darah kalian bersama dengan darah kaum muslimin, lihatlah akan akibat kperkara kalian, bersabarlah sampai seorang yang baik bisa ditenangkan dari orang yang jahat. Bukanlah hal ini (melepaskan ketaatan) suatu kebenaran, ini menyelisihi As Sunnah.

Ini gambaran yang paling mengerikan yang dinukil oleh orang-orang yang menukilnya, yang menjelaskan praktek amal dari manhaj Ahli Sunnah dalam masalah ini, seperti apa yang dibawakan dalam kitab As Sunnah karya Imam Al Barbahari rahimahullah ta’ala dimana beliau berkata : Jika kamu melihat seorang yang mengajak untu melawan kepada penguasa maka ketahuilah dia adalah pengikut hawa nafsu. Dan jika kamu mendengar seorang mendoakan penguasa dengan kebaikan maka ketahuilah bahwa dia adalah pengikut As Sunnah insya Allah ta’ala.

Berkata Fudhail Ibnu Iyadh rahimahullah: “Seandainya saya memiliki doa (yang pasti dikabulkan) maka akan saya berikan untuk penguasa. Kita diperintahkan untuk mendoakan kebaikan kepadanya dan dilarang menjadikan keburukan sekalipun mereka berbuat jahat dan dzalim, karena kedzaliman dan kejahatan mereka kembali kepada mereka dan kaum muslimin sedangkan kebaikan mereka kembali kepada mereka dan kaum muslimin.

Dan yang paling penting untuk diketahui bahwa kaidah salaf dalam hal ini semakin menambah perhatian dengan masalah setiap kali bertambah kebutuhan umat kepadanya. Demi membendung pintu fitnah dan membungkam jalan keluar untuk menentang kepada penguasa yang merupakan asal pokok kerusakan dunia.

Dan kaidah telah kokoh ini dengan apa yang ditulis oleh para imam dakwah Najdiyah, ketika sebagian pemikiran yang telah menyimpang ini mulai menyusup kepada sekelompok orang yang kepadanya disandarkan sifat kebaikan dan keshalihan. Mereka telah banyak menetapkan masalah ini dan mengulang-ngulang penjelasannya akan dasar-dasar akan syubhat yang merambah ini. Mereka telah mencukupkan dengan satu kata saja dan dengan ketetapan ini dari satu orang saja dari mereka akan perkara berbahaya ini, karena sesungguhnya mereka mengerti bahwa hal ini terjadi akibat kebodohan akan masalah ini dari bencana dan keburukan yang menguasainya.

Syaikh Abdul Lathif bin Abdur Rahman bin Hasan Al Syaikh rahimahullah telah berkata : dalam perkataan yang kuat, dimana beliau beusaha untuk mengungkap syubhat yang merancukan masalah ini dan beliau membantah kepada orang yang membelanya dari kalangan para juhal (orang-orang bodoh) Mereka orang–orang yang terfitnah itu tidak sadar jika kebanyakan penguasa Islam dari semenjak Yazid bin Mu’awiyah (kecuali Umar bin Abdul Aziz dan orang –orang yang Allah ta’ala kehendaki dari bani Ummayah) telah timbul dari mereka kedurjanaan dan peristiwa-peristiwa yang besar, pembangkangan dan kerusakan daklam wilayah negeri Islam dan Imam-imamnya besama mereka sangat jelas dan masyhur, tidak pernah mereka melepaskan dari ketaatan dengan apa yang perintahkan Allah ta’ala dan Raul-Nya dari syari’at Islam dan kewajiban-kewajiban agama.

Saya berikan cintoh dengan Hajjaj bin Yusuf Ats Tsaqafi dia telah terkenal kepada umat dengan kedzaliman, kejahatan, berlebihan dalam mengalirkan darah serta melanggar hukum-hukum Allah ta’ala dan telah terbunuh orang-orang yang merupakan tokoh-tokoh umat seperti Sa’id bin Jubair . Dan dia juga telah mengepung Abdullah bin Zubair, padahal dia telah berlindung di Masjidil Haram yang mulia, dia menghalalkan kehormatan dan membunuh Ibnu Zubair padahal Ibnu Zubair telah dibai’at oleh seluruh penduduk Makkah, Madinah, Yamah dan sebagian besar dari penduduk Iraq. Sementara Hajjaj hanyalah wakil dari Marwam dan anaknya Abdul Malik, tidak ada seorangpun dari para khalifah yang menjadikan dia sebagai pengganti dan belum bibai’at oleh ahli ilmi hil aqd.

Namun demikian tidak ada seorangpun dari para ulama yang menghentikan ketaatan dan ketundukan kepadanya dari apa yang ditaati dan rukun Islam dan kewajiban-kewajibannya.

Dan Ibnu Umar serta para sahabat Rasululah shallallahu ‘alaihi wasallam yang mendapati hal ini, tidak membangkang dan tidak melarang untuk mentaatinya dengan apa yang ditegakkan dari Islam dan menyempurnakan Iman.

Demikianpula orang-orang yang ada di zamannya dari para tabi’in, seperti Sai’d bin Musayid, Hasan Al Bashri, Ibnu Sirin, Ibrahim At Tamimi dan yang semisalnya dari para tokoh umat ini.

Dan hal itu terus berkelanjutan diantara para ulama umat dari tokoh dan para imam, mereka memerintahkan untuk taat kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya dan berjihad di jalannya bersama dengan setiap imam yang baik maupun yang jahat , sebagaimana hal ini merupakan hal yang ma’lum tercatat dalam kitab-kitab ushuludin dan aqidah.

Demikian pula Bani Abbasiyah mereka menguasai negeri-negeri Islam dengan paksaan pedang dan tidak ada seorang pun dari para ulama dan ahli agama yang mendukung, mereka yang telah membunuh sejumlah besar dari Bani Umayyah, para amir dan wakil-wakilnya. Mereka membunuh Ibnu Hubairah gubernur Iraq, mereka membunuh Khalifah Marwan, sampai diriwayatkan bahwa seorang algojo dalam sehari membunuh kurang lebih delapan puluh orang dari Bani Umayyah dan diletakkan tikar di atas bangkai mereka, kemudian (merekaa orang-orang Bani Abbasiyah) duduk-duduk di atasnya dan dihidangkan makanan dan minuman padanya.

Namun demikian sejarah mencatan para ulama seperti Al ‘Auza’i, Imam Malik, Az Zuhri, Laits bin Sa’ad dan Atha’ bin Rabi’ah bersama dengan para penguasa itu bukanlah hal yang samar bagi orang yang mempunyai ilmu dan mau membaca.

Dari tabaqat kedua dari para ulama seperti imam Ahmad bin Hambal, Muhammad bin Ismail, Muhammad bin Idris, Ahmad bin Nuh dan Ishaq bin Rahuyah serta saudara-saudara mereka…telah terjadi pada masa mereka para penguasa bid’ah-bid’ah yang besar dan pengingkarannya terhadap sifat-sifat Allah, mreka mengajak kepada bid’ah ini dan mengujinya, dan telah terbunuh dari orang-orang yang terbunuh seperti Muhammad bin Nashr. Namun demikian tidak diketahui seorangpun dari mereka yang melepaskan ketaatan dan mengajak untuk menentang kepada mereka.

Dan perkataan para imam dakwah rahimahumullah dalam masalah ini banyak sekali, bias

anda lihat diantaranya dalam juz yang ke tujuh dari kitab Durrar Saniyah fil Ajwibatin Najdiyyah.

Semua ini menguatkan betapa pentingnya perhatian terhadap pokok aqidah ini dan memantapkannya ketika kebodohan telah berkuasa atau menyebarkan pemikiran yang menyimpang dari manhaj Ahli Sunnah ini.

Bukan hal yang diragukan lagi bahwa di zaman ini yang kita hidup padanya sekarang ini, telah terkumpul dua hal yaitu : Berkumpulnya kebodohan dalam hal ini dan menyebabkan pemikiran yang menyimpang. Maka kewajiban para ali ilmu dan para penuntut ilmu agar komitmen dengan ikatan yang telah diambil janji oleh Allah ta’ala atas mereka dalam firman-Nya :

لَتُبَيِّنُنَّهُ لِلنَّاسِ وَلا تَكْتُمُونَهُ

Hendaklah kamu menerangkan isi kitab itu kepada manusia dan janganlah menyembunyikannya(QS. Ali Imran : 187)

Maka hendaklah mereka menjelaskan dasar aqidah ini kepada manusia,dengan mengharap kepada Allah ta’ala dan mengikhlaskan amal perbuatan untuk-Nya dan jangan menghalangi mereka yang menjelaskan syubhat-syubhat yang menyebar ini yang telah mempengaruhi dan memprovokasi orang-orang yang bukan ahlinya.

Seperti perkataan sebagian mereka : “Siapa yang akan mengambil manfaat dengan menjelaskan permasalahan ini ?” (pernyataan tersebut) memberi isyarat bahwa yang mengambil manfaat hanya para penguasa saja. Maka ini adalah kebodohan yang berlebihan dan kesesatan yang nyata, dimana ini bersumber dari buruknya keyakinan tentang dalam kewajiban terhadap penguasa yang baik ataupun yang dzalim. Padahal manfaatt ini akan dirasakan oleh semua, sebagaimana tidak samar bagi anak-anak apalagi selain mereka (perbedaan) antara penguasa dan rakyat, bahkan rakyat akan merasakan manfaat lebih banyak dari penguasa.

Seperti sebagian perkataan mereka : Sesungguhnya berbicra masalah ini sekarang bukan waktunya!! Subhanallah, kalau begitu kapan waktunya ?! Apakah berbicara masalah ini jika kepala sudah melayang dan darah sudah mengalir ?! Ataukah ketika keonaran sudah merajalela dan telah hilang rasa aman?!

Sesungguhnya pembicaraan tentang masalah ini harus intensif dari para ulama dan penuntut ilmu khususnya pada saat-saat ini, karena telah terjadi kesalahan pemahaman pemikiran pada sekelompok orang dalam masalah ini, yang telah menyeret kendali sekelompok orang yang memiliki pemikiran yang rancu. Maka mereka telah membuat kerusakan yang parah dan telah membuat gangguan terhadap aqidah Ahli Sunnah wal Jamaah dalam masalah yang berbahaya ini dengan apa yang mereka lemparkan berupa syubhat-syubhat yang merusak sampai membalikan fitrah sebagian orang awam.

Dan jangan anda tertipu dengan adanya orang-orang yang mengingkari mereka-mereka ini, dengan mengatakan : Sesungguhnya permasalahan bai’at, mendengar dan taat tidak ada seorangpun yang akan meragukannya ! Maka sesungguhnya dia adalah salah satu dari dua orang : Mungkin dia seorang yang bersembunyi dari kedok aslinya yang khawatir akan terbongkar atau dia dari kalangan orang yang tidak tahu akan apa yang terjadi pada manusia.

Maka bertakwalah kepada Allah ta’ala wahai orang-orang yang menyebarkan berita bohong !! Dan hendaklah kalian berhenti dari menghalangi manusia dari jalan Allah ta’ala karena membela kepada kelompok mereka atau membuat keonaran dengan prinsip mereka yang rusak dengan syubhat-syubhat kosong seperti ini.

Sumber : Majalah An Nasihah

Berlanjut Insya Allah ta’ala pada tulisan Apa yang dimaksud Bai’at? dan Kapan ?


 

[1] Mereka adalah pengikut Najdah bin Amir Al Hanafi, dan dikatakan juga: Ashim, sebagaimana dalam Ilal wa Nihal hal 53.

 

[2] Nampaknya Adz Dzahabi mengambil pengdapat ini dari Ibnu Hazm di Al Fashl 4/72-73

Ibnu Hazm di Al Fashl 4/72-73

About 3setiyanto

Lahir di lereng lawu, Dekat kebun Teh dan Kopi tapi barubelajar cara menikmati Teh dan Kopi

Diskusi

Belum ada komentar.

tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 475,145 hits

my facebook

terbanyak dibaca

%d blogger menyukai ini: