//
you're reading...
macem - macem

rukyatul hilal..muntoha jogjaastro



(OBSERVASI BULAN SABIT MUDA)

Oleh : MUTOHA AR. Anggota Badan Hisab Rukyat (BHR) Provinsi DIY Koordinator Lembaga Rukyat Hilal Indonesia (RHI) Ketua Jogja Astro Club (JAC) Anggota Lajnah Falakiyah PWNU DIY Member Islamic Crecent’s Observation Project (ICOP)

============================================================ Disampaikan Pada : Pelatihan Hisab dan Rukyat Panitia Ramadhan 1428 H Masjid Syuhada Yogyakarta – Senin, 24 Sep 2007
Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 1 ■ http://rukyatulhilal.org

RUKYATUL HILAL
(OBSERVASI BULAN SABIT MUDA) Oleh : Mutoha Arkanuddin *) ======================================================= Pendahuluan

PENGANTAR ILMU FALAK
Ilmu falak adalah ilmu salah satu cabanng sains yang mempelajari perhitungan gerak bendabenda langit. Benda-benda langit yang dimaksud adalah matahari, bulan, planet, komet, meteor, bintang, galaksi, nebula, quasar, nova, lubang hitam dsb. Falak berasal dari bahasa Sumeria ‘pilak’ -> Arab ‘falakiy’ yang artinya peredaran/orbit. Ilmu falak sering disebut juga Astronomi ( bahasa Yunani -> astro=bintang ; nomos=ilmu ). Ilmu Falak yang mempelajari kaidah-kaidah Ilmu Syariah dalam kaitannya dengan penentuan waktuwaktu ibadah dinamakan Falak Syar’i.

Ilmu Falak + Ilmu Syariah

Ilmu Falak Syar’i

Di Indonesia nama yang populer adalah Ilmu Falak saja atau Astronomi Islam atau yang papling populer adalah Ilmu Hisab Rukyat. Orang yang berkecimpung dalam Ilmu falak dinamakan Ahli Falak atau Astronom. Ilmu Falak mempelajari alam semesta dan benda-benda langit didasarkan pada metode serta perhitungan secara ilmiah. Perhitungan ini berdasarkan hasil pengamatan dan pengukuran dengan ketelitian yang tinggi serta menggunakan alat-alat observasi yang canggih seperti teleskop, satelit dan pengiriman pesawat angkasa serta pengolahan information menggunakan komputer sehingga pergerakan benda-benda langit bisa diperkirakan secara pasti baik untuk kondisi masa yang lalu maupun kondisi masa yang akan datang.

TOKOH-TOKOH ILMU FALAK ISLAM
Tokoh ilmu falak Islam yang termasyhur adalah Abu Abdullah Muhammad Ibn Musa AlKhawarizmi (770-840 M) atau yang dikenal dengan sebutan Al Khawarizmi. Ilmuwan yang berjasa besar dalam memajukan ilmu pengetahuan ini lahir di Khawarizm (Kheva), kota di selatan sungai Oxus (kini Uzbekistan) pada tahun 770 M. Kedua orang tuanya kemudian pindah ke sebuah tempat di selatan kota Baghdad (Irak), ketika ia masih kecil. Al-Khawarizmi hidup di masa kekhalifahan bani Abbasiyah, yakni Al Makmun, yang memerintah pada 813-833 M. Selain Al Khawarizmi, ilmuwan muslim yang cukup terkenal memajukan Ilmu Falak diantaranya Abdurrahman Ibnu Abu Al- Hussin Al Sufi (Ibnu Sufi), Abu Yousouf Yaqub Ibnu Ishaq al-Kindi (Al Kindi), Abu Abdallah Mohammad Ibnu Jabir Ibn Sinan al-Raqqi al-Harrani al-Sabi al-Battani (Al-Battani), Abu Abdallah Mohammad Ibnu As-Syarif Al-Idrisi (Al-Idrisi), Mohammad Taragay ibnu Shah Rukh (Ulugh Beg) dsb.

Khawarizmi

Ibnu Sufi

Al Kindi

Al Battani

Al Idrisi

Ulugh Beg

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 2 ■ http://rukyatulhilal.org

Di Indonesia juga muncul ilmuwan-iluwan Falak yang sudah banyak memberikan sumbangannya terhadap kemajuan Ilmu falak di Indonesia diantaranya : Ahmad Dahlan, K.H Nama kecilnya Muhammad Darwis (ada literatur yang menulis Darwisy), dilahirkan di Kampung Kauman Yogyakarta pada tahun 1868 Masehi bertepatan dengan tahun 1285 Hijriyah dan meninggal dunia pada tanggal 23 Februari 1923 M/ 7 Rajab 1342 H, jenazahnya dimakamkan di Karangkajen Yogyakarta. Dalam bidang ilmu Falak ia merupakan salah satu pembaharu, yang meluruskan Arah Kiblat Masjid Agung Yogyakarta pada tahun 1897 M/1315 H. Pada saat itu masjid Agung dan masjid-masjid lainnya, letaknya ke barat lurus, tidak tepat menuju arah kiblat yang 24 derajat arah Barat Laut. Sebagai ulama yang menimba ilmu bertahun-tahun di Mekah, Dahlan mengemban amanat membenarkan setiap kekeliruan, mencerdaskan setiap kebodohan. Dengan berbekal pengetahuan ilmu Falak atau ilmu Hisab yang dipelajari melalui K.H. Dahlan (Semarang), Kyai Termas (Jawa Timur), Kyai Shaleh Darat (Semarang), Syekh Muhammad Jamil Jambek, dan Syekh Ahmad Khatib Minangkabau, Dahlan menghitung kepersisan arah kiblat pada setiap masjid yang melenceng. Setelah “tragedi kiblat” di Masjid Agung, ia joke mendirikan organisasi Muhammadiyah. Melalui organisasi Muhammadiyah ia mendobrak kekakuan tradisi yang memasung pemikiran Islam. Di awal kiprahnya, ia kerap mendapat rintangan, bahkan dicap hendak mendirikan agama baru. Namun keteguhan sikapnya menyebabkan ia dicatat sebagai pelopor pembetulan arah kiblat dari semua surau dan masjid di Indonesia. Tak cuma itu reputasi yang ditorehkannya. Berdasarkan pengetahuan ilmu Falak dan Hisab yang dimilikinya, Dahlan melalui Muhammadiyah, mendasarkan awal puasa dan Syawal dengan Hisab (perhitungan). Ahmad Badawi, K.H Ahli Falak yang menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah periode 19621965 M/1382-1385 H dan 1965-1968 M/1385-1388 H. Ia lahir pada tanggal 5 Februari 1902 M/ 1320 H di Kampung Kauman Yogyakarta dan meninggal dunia pada hari Jum’at 25 Apr 1969 M/8 Safar 1389 H pukul 09.25 WIB di PKU Yogyakarta, putra K.H. Ahmad Faqih dan Hj. Habibah (adik K.H. Ahmad Dahlan). Semasa kecil, ia pertama-tama belajar di Madrasah Ibtidaiyah Diniyyah Islamiyyah yang didirikan dan diasuh langsung oleh K.H. Ahmad Dahlan. Setelah itu ia melanjutkan belajar di berbagai pesantren di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Karena ketekunan dan rajin belajar, K.H. Ahmad Badawi terkenal sebagai ahli fikih, ahli hadis, dan ahli falak. Semua karyanya ditulis dengan tangan dalam huruf arab maupun latin dengan rapi. Karyanya yang berkaitan dengan ilmu falak adalah Djadwal Waktu Sholat se-lama2nja, Tjara Menghitoeng Hisab Haqiqi Tahoen 1361 H, Hisab Haqiqi, dan Gerhana Bulan. Negara Islam yang pernah dikunjungi diantaranya : Pakistan, Irak, Kuwait, Teheran, Saudi Arabia, Beirut, dan Jordan. Saadoe’ddin Djambek (Bukittinggi, 24 Maret 1911 M/ 1330 H-Jakarta, 22 Nov 1977 M/11 Zulhijjah 1397 H). Seorang guru serta ahli hisab dan rukyat, putra ulama besar Syekh Muhammad Djamil Djambek (1860-1947 M/1277-1367 H) dari Minangkabau. Ia memperoleh pendidikan grave pertama di HIS (Hollands Inlandsche School) hingga tamat pada tahun 1924 M/1343 H. Kemudian ia melanjutkan studinya ke sekolah pendidikan guru, HIK (Hollands Inlandsche Kweekschool). Setelah tamat dari HIK pada tahun 1927 M/1346 H, ia meneruskannya lagi ke Hogere Kweekschool (HKS), sekolah pendidikan guru atas, di Bandung, Jawa barat, dan memperoleh ijazah pada tahun 1930 M/1349 H. Selama empat tahun (1930-1934 M/1349-1353 H) ia mengabdikan diri sebagai guru Gouvernements Schakelschool di Perbaungan, Palembang. Setelah menjalani tugasnya sebagai guru di palembang, ia berusaha melanjutkan pendidikannya, ia mengajukan permohonan untuk dipindahtugaskan ke Jakarta agar dapat melanjutkan

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 3 ■ http://rukyatulhilal.org

pendidikan yang lebih tinggi. Di Jakarta ia bekerja sebagai guru Gouvernement HIS nomor 1 selama setahun. Pada tahun 1935 M/1354 H ia memperoleh kesempatan untuk melanjutkan pendidikan ke Indische Hoofdakte (program diploma pendidikan) di Bandung sampai memperoleh ijazah pada tahun 1937 M/1356 H. Pada tahun yang sama, ia juga memperoleh ijazah bahasa Jerman dan bahasa Perancis. Setelah mengikuti pendidikan di Bandung, ia kembali menjalankan tugas sebagai guru Gouvernement HIS di Simpang Tiga (Sumatra Timur). Sebagai seorang guru, ia tidak pernah berhenti mengembangkan karier di bidang pendidikan. Kariernya terus meningkat, dari guru sekolah dasar sampai menjadi dosen di Perguruan Tinggi dan terakhir menjadi pegawai tinggi di Departemen Pendidikan dan Kebudayaan di Jakarta. Ia mulai tertarik mempelajari ilmu hisab pada tahun 1929 M/1348 H. Ia belajar ilmu hisab dari Syekh Taher Jalaluddin, yang mengajar di Al-Jami’ah Islamiah Padang tahun 1939 M/1358 H. Pertemuannya dengan Syekh Taher Jalaluddin membekas dalam dirinya dan menjadi awal pembentukan keahliannya di bidang hitung-menghitung penanggalan. Untuk memperdalam pengetahuannya, ia kemudian mengikuti kursus Legere Akte Ilmu Pasti di Yogyakarta pada tahun 1941-1942 M/1360-1361 H serta mengikuti kuliah ilmu pasti alam dan astronomi pada FIPIA (Fakultas Ilmu Pasti dan Ilmu Alam) di Bandung pada tahun 1954-1955 M/1374-1375 H. Keahliannya di bidang ilmu pasti dan ilmu falak dikembangkannya melalui tugas yang dilaksanakannya di beberapa tempat. Pada tahun 1955-1956 M/1375-1376 H menjadi lektor kepala dalam mata kuliah ilmu pasti pada PTPG (Perguruan Tinggi Pendidikan Guru) di batusangkar, Sumatra Barat. Kemudian ia memberi kuliah ilmu falak sebagai dosen tidak tetap di Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta (1959-1961 M/1379-1381 H). Sebagai ahli ilmu falak, ia banyak menulis tentang ilmu hisab. Di antara karyanya adalah : (1) Waktu dan Djadwal Penjelasan Populer Mengenai Perjalanan Bumi, Bulan dan Matahari (diterbitkan oleh Penerbit Tintamas tahun 1952 M/1372 H), (2) Almanak Djamiliyah (diterbitkan oleh Penerbit Tintamas tahun 1953 M/1373 H), (3) Perbandingan Tarich (diterbitkan oleh penerbit Tintamas pada tahun 1968 M/1388 H), (4) Pedoman Waktu Sholat Sepanjang Masa (diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang pada tahun 1974 M/1394 H), (5) Sholat dan Puasa di daerah Kutub (diterbitkan oleh Penerbit Bulan Bintang pada tahun 1974 M/1394 H) dan (6) Hisab Awal bulan Qamariyah (diterbitkan oleh Penerbit Tintamas pada tahun 1976 M/1397 H). Karya yang terakhir ini merupakan pergumulan pemikirannya yang akhirnya merupakan ciri khas pemikirannya dalam hisab awal bulan qamariyah. Wardan Diponingrat, K.R.T Ahli falak, nama kecilnya adalah Muhammad Wardan, dilahirkan pada tanggal 19 Mei 1911 M bertepatan dengan tanggal 20 Jumadal Ula 1329 H di Kauman, Yogyakarta dan meninggal dunia pada tanggal 3 Februari 1991 M/ 19 Rajab 1411 H. Ayahnya, yaitu kyai Muhammad Sangidu seorang penghulu keraton Yogyakarta dengan gelar Kanjeng Penghulu Kyai Muhammad Kamaludiningrat sejak 1913 M/1332 H sampai 1940 M/1359 H. Pendidikan dasarnya diperoleh di Sekolah Keputran (sekolah khusus untuk para keluarga keraton) dan Standard Schoel Moehammadijah di Suronatan (lulus tahun 1924 M/1343 H). Kemudian melanjutkan ke Madrasah Muallimin sampai lulus pada tahun 1930 M/1349 H. Satu tahun sesudah itu Muhammad Wardan sebenarnya berkeinginan belajar ke tanah Arab, tapi karena kendala biaya tidak dapat memenuhi cita-citanya tersebut, akhirnya ia melanjutkan ke Pondok Jamsaren Solo. Selain nyantri ia juga mengikuti kursus Bahasa Belanda di Sekolah Nederland Verbond dan les privat bahasa Inggris. Setelah mendapatkan berbagai ilmu, Muhammad Wardan berusaha mengamalkan dan mengajarkannya. Pada tahun 1934 M/1353 H sampai 1936 M/1355 H, dia menjadi guru Madrasah Al-Falah Yogyakarta, kemudian pada tahun 1936-1945 M/1355-1365 H menjadi guru di Sekolah Muballighin Muhammadiyah Yogyakarta. Memasuki masa perjuangan fisik, aktivitas Muhammad Wardan di bidang pendidikan terhenti dan ia melibatkan diri di dalam Angkatan Perang Sabil (APS) dan ia dipercaya sebagai anggota bidang markas ulama. Setelah perjuangan fisik mereda dan Indonesia dapat mencapai kemerdekaan secara penuh, pada tahun 1948-1962 M/1368-1381 H ia mengabdikan diri sebagai guru di Madrasah Menengah Tinggi Yogyakarta dan pada tahun 1951-1952 M/1371-1372 H juga mengajar di Sekolah Guru Hakim Agama (SGHA) Negeri Yogyakarta. Selanjutnya pada tahun 1954-1956 M/1374-1376 H ia ditugaskan oleh Departemen Agama RI untuk menjadi guru di Pendidikan Guru Agama (PGA) Negeri Yogyakarta dan guru di Sekolah Persiapan PTAIN Yogyakarta. Sejak 1973 M/1393 H sampai wafatnya ia diangkat

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 4 ■ http://rukyatulhilal.org

sebagai anggota dewan kurator IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Karena kepiawaiannya di bidang ilmu Falak, sejak tahun 1973 hingga wafatnya dipercaya sebagai anggota Badan Hisab Rukyat Departemen Agama RI. Muhammad Wardan merupakan salah seorang tokoh penggagas teori wujudul hilal yang hingga kini masih digunakan oleh persyarikatan Muhammadiyah. Adapun karya-karyanya di bidang ilmu falak, yaitu Umdatul Hasib, Persoalan Hisab dan Ru’jat Dalam Menentukan Permulaan Bulan, Hisab dan Falak, dan Hisab Urfi dan Hakiki. Bidran Hadie, H.M Ahli falak, dilahirkan di Kauman Yogyakarta pada tahun 1925 M/1344 H, meninggal dunia pada tanggal 28 Nopember 1994 M/ 25 Jumadal Akhir 1415 H, dan dimakamkan satu komplek dengan K.H. Ahmad Dahlan di Pemakaman Karang Kajen Yogyakarta. Pendidikannya dimulai di SR, kemudian melanjutkan ke Madrasah Mu’allimin Yogyakarta. Setelah itu ia melanjutkan kuliah di Universitas Islam Indonesia(UII) namun tidak sampai tamat. Ia termasuk tokoh yang membidani lahirnya Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Bahkan menurut information sejarah ia termasuk pendiri Lembaga Astronomi Himpunan Mahasiswa Islam (LAHMI). Bidran Hadie merupakan ahli falak yang berpenampilan sederhana namun keilmuannya dalam bidang falak tidak diragukan. Berkat keilmuannya dalam bidang falak ia diberi amanat menjadi anggota bagian Hisab Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan anggota Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama RI mewakili Muhammadiyah. Abdur Rachim, H Ahli falak, dilahirkan di Panarukan pada tanggal 3 Februari 1935 M/ 1354 H. Tamat Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta pada bulan Apr 1969 M/ Safar 1389 H, sebagai sarjana teladan dan mendapatkan lencana “Widya Wisuda”, dan pada tahun 1982 M/1403 H, mengikuti Studi Purna Sarjana (SPS) dapat menyelesaikannya sebagai peserta teladan. karirnya sebagai pendidik dimulai sejak sebagai mahasiswa tingkat doktoral, dipercaya sebagai asisten H. Saadoe’ddin Djambek dalam mata kuliyah ilmu falak mulai tahun 1965 M/1385 H, pada tahun 1972 M/1392 H diangkat sebagai dosen tetap dalam mata kuliah tafsir, sesuai dengan jurusannya. Pada tahun yang sama diangkat sebagai ketua Lembaga Hisab dan Ru’yah, dan pada tahun itu juga diangkat sebagai Ketua Jurusan Tafsir Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Tahun 1976 M/1396 H diangkat sebagai Wakil Dekan Bidang Akademis Fakultas Syari’ah IAIN, dan tahun 1981 M/1402 H diserahi tugas sebagai Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Kalijaga Yogayakarta. Disamping itu beliau juga sebagai dosen, yang ikut membina mahasiswa di Fakultas UII, dalam mata kuliah Ilmu Falak dan Ahkamul Qadla. Tugas ini dilakukan sejak tahun 1972 M/1392 H, dan sejak tahun 1974 M/1394 H dipercaya sebagai anggota penyusun Al-Qur’an dan Tafsir. Karirnya memperdalam Ilmu Falak menjadikan beliau diserahi tugas untuk melanjutkan tugas gurunya H. Saadoe’ddin Djambek (setelah meninggal) sebagai Wakil Ketua Badan Hisab Ru’yah Departemen Agama Pusat tahun 1978 M/1399 H, pada tahun itu juga mewakili Pemerintah Indonesia menghadiri Konferensi Islam di Istambul. Selanjutnya pada tahun 1981 M/1402 H sebagai delegasi Indonesia menghadiri Konferensi Islam di Tunis. Kemudian atas kepercayaan Menteri Agama, beliau diutus lagi menghadiri Konferensi Islam Internasional di Aljazair pada tahun 1982 M/1403 H. Guru-guru beliau yang memberi warna bagi kariernya ialah : Prof. Dr.T.M. Hasbi Ash Shiddieqy, Prof. Dr. H. Muhtar Yahya, H. Saadoe’ddin Djambek, Sa’di Thalib dan Saleh Haedarah. Sedangkan karya-karya ilmiahnya yang berkaitan dengan ilmu Falak yang telah diterbitkan, antara lain : Mengapa Bilangan Ramadlan 1389 H ditetapkan 30 Hari ? (1969 M/1389 H), Menghitung Permulaan Tahun Hidjrah (1970 M/1390 H), Ufuq Mar’i sebagai Lingkaran Pemisah antara Terbit dan Terbenamnya Benda-benda Langit (1970 M/1390 H), Ilmu Falak (1983 M/1404 H), dan Kalender Internasional Basit Wahid, H Salah seorang tokoh Falak, lahir di Yogyakarta pada tanggal 12 Desember 1925 M/1344 H. Pendidikannnya dimulai di Sekolah Dasar Muhammadiyah, kemudian melanjutkan di SLTP Muhammadiyah dan Muallimin. Setelah lulus dari Muallimin, ia melanjutkan ke Universitas Gadjah Mada Fakultas Tehnik Jurusan Kimia. Menurut penuturannya, keahliannya dalam bidang ilmu Falak diperoleh dari guru-gurunya, yaitu : K.H. Syamsun Jombang, K.H. Siraadj Dahlan (Putra Pendiri Muhammadiyah), dan K.H. Muhammad Wardan Diponingrat.

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 5 ■ http://rukyatulhilal.org

Menurutnya pula untuk menambah wawasannya dalam bidang falak ia pernah mengunjungi Jerman, Nederland, Australia, dan Malaysia. Sebagai seorang ahli falak, ia pernah diberi amanat menjadi Ketua Bagian Hisab Majelis Tarjih Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan wakil Muhammadiyah di Badan Hisab dan Rukyat Departemen Agama Pusat. Basit Wahid termasuk ahli falak yang produktif dalam menuangkan gagasan-gagasannya tentang hisab-rukyat melalui berbagai media massa, diantaranya : Serba-serbi Kalender 1995, Kalender Hijriyah Tiada Mitos di dalamnya, Rukyat dengan Alat Canggih, Memahami Hisab sebagai Alternatif Rukyat, Astronomi dan Astrologi, Waktu-waktu Sholat dan Puasa di Pelbagai tempat di Permukaan Bumi, dan Penentuan Awal Bulan Hijriyah. Berbeda dengan Ilmu Falak (ASTRONOMI) maka Ilmu Nujum (ASTROLOGI) adalah ilmu tradisi yang mempelajari tentang hubungan kejadian-kejadian di bumi dengan posisi dan pergerakan benda-benda langit seperti matahari, bulan, world maupun bintang. Ilmu nujum sudah berkembang sejak sekitar 4000 tahun yang lalu dimulai dari Mesopotania sebuah negeri di Timur Tengah lalu berkembang ke Eropa, Amerika serta Asia. Pakar astrologi dinamakan astrolog. Astrolog yang cukup tersohor adalah Nostradamus dari Perancis yang terkenal dengan bukunya yang berjudul ‘Centuries’ berisi tentang ‘Ramalan Nostradamus’ — walau sejauh ini tidak banyak terbukti –. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka astrologi joke turut berkembang. Pada awalnya astrologi dan astronomi merupakan satu kesatuan ilmu, namun pada abad 17 astrologi mulai dipisahkan dari astronomi dikarenakan metode yang digunakan para astrolog tidak mengikuti kaidah-kaidah ilmiah, bahkan di Barat astrologi tidak hanya mendapat perlawanan dari para ilmuwan tapi juga Gereja karena dianggap melanggar ajaran agama.

ILMU FALAK (ASTRONOMI) DAN ILMU NUJUM (ASTROLOGI)

Horoskop digunakan Astrrolog untuk meramal nasib

Tabel Zodiac milik Astrolog yang salah besar

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 6 ■ http://rukyatulhilal.org

KOMUNITAS FALAK DI INDONESIA
Berkembangnya ilmu falak di Indonesia yang berhubungan dengan pengaturan masalah penentuan waktu-waktu ibadah membuat pemerintah merasa perlu membentuk sebuah lembaga khusus yang menangani masalah ini. Organisasi resmi pemerintah yang menangani masalah falak ini dipercayakan kepada Badan Hisab Rukyat (BHR) yang dibentuk baik dari tingkat Pusat (Jakarta), Wilayah (Provinsi) maupun Daerah (Kabupaten). Selain itu juga banyak terdapat komunitas-komunitas falak yang dikelola oleh organisasi masyarakat, yayasan, sekolah maupun para amatir misalnya : – Muhammadiyah ditangani oleh Majlis Tarjih dan Tajdid – Pusat Studi Falak Muhammadiyah kerjasama Universitas Muhammadiyah dan PP Muhamamdiyah (Majlis Tarjih dan Tajdid) – Pusat Studi Astronomi (PSA) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta – Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama – Forum kajian falak “Zenith” ITB Bandung – HIMASTRON Himpunan Mahasiswa Astronomi ITB Bandung – Rukyat Hilal Indonesia (RHI) komunitas ahli falak amatir Yogyakarta – Jogja Astro Club (JAC) Komunitas astronom amatir dari Yogyakarta – CASA Club Astronomi Santri Assalam PP. Assalam Surakarta – Himpunan Astronomi Amatir Jakarta (HAAJ) – Lembaga Hisab Rukyat Independen (LHRI) Semarang – Yayasan Al Falakiyah Surabaya – Forum Kajian Falak di Pesantren-pesantren, dsb. Sementara organisasi / komunitas falak bertaraf internasional juga bermunculan diantaranya yang cukup populer adalah Islamic Crescent Observation Project (ICOP) berpusat di Amman Jordania dan beranggotakan para ahli falak amatir maupun profesional dari seluruh dunia.

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 7 ■ http://rukyatulhilal.org

PENGERTIAN HISAB
HISAB berasal dari bahasa Arab “hasaba” artinya menghitung, mengira dan membilang. Jadi hisab adalah kiraan, hitungan dan bilangan. Kata ini banyak disebut dalam al-Quran diantaranya mengandung makna perhitungan perbuatan manusia. Dalam disiplin ilmu falak (astronomi), kata hisab mengandung arti sebagai ilmu hitung posisi benda-benda langit. Posisi benda langit yang dimaksud di sini adalah lebih khusus kepada posisi matahari dan bulan dilihat dari pengamat di bumi atau yang dikenal dengan istilah sistem “Geosentris”. Hitungan posisi benda-benda langit ini, khususnya mengenai posisi matahari dan bulan pada bola langit seperti yang terlihat dari bumi amatlah penting dalam kaitannya dengan permasalahan syariat Islam khususnya masalah ibadah. Melalui hasil pengamatan/observasi, manusia akhirnya mengetahui bahwa peredaran benda-benda langit tersebut adalah sangat teratur. Dengan information empirik tersebut maka para ahli falak berusaha membuat rumus-rumus perhitungan untuk menentukan posisi benda langit tersebut baik pada masa yang telah lalu maupun pada masa yang akan datang. Seiring dengan berkembangnya sains maka Ilmu falak sebagai salah satu cabang sains joke berkembang baik dalam rumusrumus atau yang sering disebut dengan algoritma maupun peralatan hitung itu sendiri sehingga menghasilkan information yang lebih teliti. Hisab menggunakan posisi matahari dan bulan ini misalnya untuk menentukan : – Penentuan Awal Waktu Shalat posisi matahari – Penentuan Arah kiblat posisi matahari, bulan atau bintang – Penentuan Awal Bulan Komariyah posisi bulan juga matahari – Saat Gerhana Matahari dan Bulan posisi matahari dan bulan

MACAM-MACAM HISAB FALAK
Hisab Falak meliputi beberapa perhitungan astronomis khusus menyangkut posisi bulan dan matahari untuk mengetahui kapan dan di permukaan bumi mana peristiwa astronomis itu terjadi. Hisab yang berkembang awalnya hanya hisab terhadap awal bulan Hijriyah. Namun seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan, hisab berkembang dan menghasilkan beberapa jenis hisab yang tentunya masih juga berkaitan dengan ibadah yaitu: • • • • • • • • • Hisab Awal Bulan Komariyah Hisab Waktu Shalat dan Imsakiyah Hisab Arah Kiblat Hisab Gerhana Matahari dan Bulan Hisab Konversi Penanggalan Hijriyah <-> Masehi Hisab Posisi Harian (Ephemeris) Matahari dan Bulan Hisab Visibilitas Hilal di Seluruh Dunia Hisab Fase-fase Bulan Hisab Arah Kiblat Menggunakan Bayangan Matahari dsb.

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 8 ■ http://rukyatulhilal.org

KRITERIA AWAL BULAN KOMARIYAH DI INDONESIA
Hisab penentuan awal bulan merupakan salah satu contoh hisab falak. Di Indonesia hisab awal bulan komariyah menjadi sangat signifikan dibandingkan dengan hisab falak yang lain. Hisab penentuan waktu shalat, arah kiblat dan gerhana hampir tidak pernah dipermasalahkan. Namun hisab untuk penentuan awal bulan khususnya yang berkaitan dengan penentuan awal Ramadhan, 1 Syawal dan 10 Dzulhijjah yang berkaitan dengan pelaksanaan Wukuf di Arafah dan Idul Adha sering menimbulkan masalah. Sebagian umat Islam berpendapat bahwa untuk menentukan awal bulan, adalah harus dengan benar-benar melakukan pengamatan hilal secara langsung. Sebagian yang lain berpendapat bahwa penentuan awal bulan cukup dengan melakukan hisab (perhitungan matematis /astronomis), tanpa harus benar-benar mengamati hilal. Keduanya mengklaim memiliki dasar yang kuat. Berikut adalah beberapa kriteria yang digunakan sebagai dasar penetapan awal bulan komariyah di Indonesia menurut berbagai versi. Sejauh yang kami ketahui setidaknya ada 4 kriteria yang menjadi dasar penyusunan Kalender Komariyah / Hijriyah di Indonesia khususnya untuk penentuan awal Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah, kriteria tersebut masing-masing : 1. Kriteria Rukyatul Hilal (bil Fi’li) Hadits Rasulullah SAW menyatakan “Berpuasalah kamu karena melihat hilal dan berbukalah kamu karena melihat hilal. Jika terhalang maka genapkanlah (istikmal)”. Berdasarkan syariat tersebut Nahdhatul Ulama (NU) sebagai ormas Islam berhaluan ahlussunnah wal jamaah berketetapan mencontoh sunah Rasulullah dan para sahabatnya dan mengikut ijtihad para ulama empat mazhab (Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hambali) dalam hal penentuan awal bulan Komariyah wajib menggunakan rukyatul hilal bil fi’li, yaitu dengan merukyat hilal secara langsung. Bila tertutup awan atau menurut Hisab hilal masih di bawah ufuk, mereka tetap merukyat untuk kemudian mengambil keputusan dengan menggenapkan (istikmal) bulan berjalan menjadi 30 hari. Sementara hisab juga tetap digunakan, namun hanya sebagai alat bantu dan bukan penentu awal bulan Komariyah. Namun berdasarkan information rukyat Departemen Agama RI selama 30 tahun lebih banyak terdapat laporan kenampakan hilal yang masih tidak memenuhi syarat visibilitas serta kajian ilmiah.

Kriteria Danjon menjadi syarat visibilitas/kenampakan hilal saat rukyat. Syarat ini sering tidak diperhatikan oleh para perukyat sehingga sering terjadi “Laporan Palsu”

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 9 ■ http://rukyatulhilal.org

2. Kriteria Wujudul Hilal Menurut Kriteria Wujudul Hilal yang sering disebut juga dengan konsep “ijtimak qoblal ghurub” yaitu terjadinya konjungsi (ijtimak) sebelum tenggelamnya matahari, menggunakan prinsip sederhana dalam penentuan awal bulan Hijriyah yang menyatakan bahwa : Jika pada hari terjadinya konjungsi (ijtimak) telah memenuhi 2 (dua) kondisi, yaitu: (1) Konjungsi (ijtimak) telah terjadi sebelum Matahari tenggelam, (2) Bulan tenggelam setelah Matahari, Maka keesokan harinya dinyatakan sebagai awal bulan Hijriyah. Berdasarkan konsep inilah Muhammadiyah dapat menyusun kalender Hijriyah termasuk penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha untuk tahun-tahun yang akan datang. Ini sesuai dengan konsep Muhammadiyah yang memegang prinsip mempertautkan antara dimensi ideal-wahyu dan peradaban manusia dalam kehidupan nyata termasuk dalam penentuan awal bulan Hijriyah. Hal ini juga merupakan hasil keputusan Musyawarah Tarjih Muhammadiyah tahun 1932 di Makassar yang menyatakan As-Saumu wa al-Fithru bir ru’yah wa laa male ilaa bil Hisab (berpuasa dan Idul Fitri itu dengan rukyat dan tidak berhalangan dengan hisab) yang secara implisit Muhammadiyah juga mengakui Rukyat sebagai awal penentu awal bulan Hijriyah. Muhammadiyah mulai tahun 1969 tidak lagi melakukan Rukyat dan memilih menggunakan Hisab Wujudul Hilal, itu dikarenakan rukyatul hilal atau melihat hilal secara langsung adalah pekerjaan yang sangat sulit dan dikarenakan Islam adalah agama yang tidak berpandangan sempit, maka hisab dapat digunakan sebagai penentu awal bulan Hijriyah. Kesimpulannya, Hisab Wujudul Hilal yang dikemukakan oleh Muhammadiyah bukan untuk menentukan atau memperkirakan hilal mungkin dilihat atau tidak, akan tetapi dijadikan dasar penetapan awal bulan Hijriyah sekaligus jadi bukti bahwa bulan baru sudah masuk atau belum. Pasca 2002 Persatuan Islam (Persis) mengikuti langkah Muhammadiyah menggunakan Kriteria Wujudul Hilal.

3. Imkanur Rukyat MABIMS Penanggalan Hijriyah Standard Empat Negara Asean, yang ditetapkan berdasarkan Musyawarah Menteri-menteri Agama Brunei Darussalam, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS) merumuskan kriteria yang disebut “imkanur rukyah” dan dipakai secara resmi untuk penentuan awal bulan Hijriyah pada Kalender Resmi Pemerintah yang menyatakan : “Hilal dianggap terlihat dan keesokannya ditetapkan sebagai awal bulan Hijriyah berikutnya apabila memenuhi salah satu syarat-syarat berikut: (1) Ketika matahari
Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 10 ■ http://rukyatulhilal.org

terbenam, ketinggian bulan di atas horison tidak kurang daripada 2 dan jarak lengkung bulan-matahari (sudut elongasi) tidak kurang daripada 3. Atau (2) Ketika bulan terbenam, umur bulan tidak kurang daripada 8 jam selepas ijtimak/konjungsi berlaku. Kriteria yang diharapkan sebagai pemersatu terhadap perbedaan kriteria yang ada nampaknya belum memenuhi harapan sebab beberapa ormas memang menerima, namun ormas yang lain menolak dengan alasan prinsip.

4. Rukyat Global ( Matla al Badar ) Kriteria ini dipakai oleh sebagian muslim di Indonesia lewat organisasi-organisasi tertentu yang mengambil jalan pintas merujuk kepada negara Arab Saudi atau menggunakan pedoman terlihatnya hilal di negara lain dalam penentuan awal bulan Hijriyah termasuk penentuan awal Ramadhan, Idul Fitri dan Idul Adha. Penganut kriteria ini berdasarkan pada hadist yang menyatakan, jika satu penduduk negeri melihat bulan, hendaklah mereka semua berpuasa meski yang lain mungkin belum melihatnya.

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 11 ■ http://rukyatulhilal.org

Menyikapi Perbedaan Kriteria Metode penentuan kriteria penentuan awal Bulan Kalender Hijriyah yang berbeda seringkali menyebabkan perbedaan penentuan awal bulan, yang berakibat adanya perbedaan hari melaksanakan ibadah seperti puasa Ramadhan atau Hari Raya Idul Fitri. Di Indonesia, perbedaan tersebut pernah terjadi beberapa kali. Pada tahun 1992 (1412 H), ada yang berhari raya Jum’at (3 April) mengikuti Arab Saudi, yang yang Sabtu (4 April) sesuai hasil rukyat NU, dan ada pula yang Minggu (5 April) mendasarkan pada Imkanur Rukyat. Penetapan awal Syawal juga pernah mengalami perbedaan pendapat pada tahun 1993 dan 1994. Demikian juga pada tahun 2006 yang lalu dan akan disusul pada perayaan Lebaran 1 Syawal yang akan datang. Namun demikian, Pemerintah Indonesia mengkampanyekan bahwa perbedaan tersebut hendaknya tidak dijadikan persoalan, tergantung pada keyakinan dan kemantapan masingmasing, serta mengedepankan toleransi terhadap suatu perbedaan.

PENGERTIAN RUKYAT HILAL
RUKYAT berasal dari bahasa Arab ” ra’a – yara – rukyat ” yang artinya ” melihat “. HILAL juga berasal dari bahasa Arab “al-hilal – ahillah” yaitu bulan sabit (crescent) yang pertama terlihat setelah terjadinya ” ijtimak “. Ijtimak adalah bulan baru (new moon) disebut juga bulan mati. Ijtimak terjadi saat posisi bulan dan matahari berada pada jarak pale dekat. Secara astronomis, saat ijtimak terjadi maka bujur ekliptik bulan sama dengan bujur ekliptik matahari dengan arah penglihatan dari pusat bumi (geosentris). Pada waktu tertentu peristiwa ijtimak juga ditandai dengan terjadinya gerhana matahari yaitu saat lintang ekliptik bulan berimpit atau mendekati lintang ekliptik matahari. Periode dari peristiwa ijtimak ke ijtimak berikutnya disebut “bulan sinodis” yang lamanya rata-rata sebesar 29 hari 12 jam 44 menit 2,8 detik.

HILAL

AWAN

Hilal yang terlihat di langit Barat beberapa saat setelah matahari terbenam.

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 12 ■ http://rukyatulhilal.org

Maka yang disebut Rukyatul Hilal adalah kegiatan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang untuk melakukan pengamatan secara visible baik menggunakan mata langsung maupun dengan alat bantu optik terhadap munculnya hilal. Penggunaaan alat bantu visible seperti teleskop, binokuler, kamera sejauh ini juga masih menjadi bahan perdebatan antara yang pro dan kontra. Dalam Islam, terlihatnya hilal di sebuah negeri dijadikan pertanda pergantian bulan kalender Hijriyah di negeri tersebut. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT: “ Dia singsingkan pagi dan jadikan malam untuk beristirahat, dan (menjadikan) matahari dan bulan untuk perhitungan. Itulah ketentuan Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui”. (QS 6-al An’am:96) ” Mereka bertanya kepada engkau tentang hilal (bulan sabit). Katakanlah hilal itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (ibadat) haji” ( QS. Al Baqarah: 189 ) Hilal juga dijadikan pertanda mulainya ibadah puasa Ramadhan yang sudah dipakai sejak jaman nabi waktu itu, sebagaimana hadits yang menyatakan : “Berpuasalah engkau karena melihat hilal dan berbukalah engkau karena melihat hilal. Bila hilal tetutup atasmu, maka sempurnakanlah bilangan Syaban tiga puluh hari” -(HR. Bukhari dan Muslim) Jika merujuk pada Hadis Nabi tentang puasa, hilal dapat diterjemahkan sebagai sabit bulan yang pertama kali terlihat dengan mata setelah ijtimak terjadi. Secara astronomi, ijtimak atau konjungsi terjadi jika Matahari dan Bulan berada pada bujur ekliptika yang sama.

Salah satu kegiatan Rukyatul Hilal di Indonesia

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 13 ■ http://rukyatulhilal.org

PERALATAN HISAB RUKYAT

Peralatan rukyat disiapkan sebelum matahari terbenam Hisab dan Rukyatul hilal tidak bisa dipisahkan dari Ilmu Falak (Astronomi) oleh sebab itu kebanyakan peralatan hisab dan rukyat juga merupakan peralatan Ilmu falak/Astronomi. Perkembangan teknologi kalkulasi senantiasa berkembang dari masa ke masa. Dari sejarah awal perhitungan secara primer menggunakan kaidah aljabar dan alat-alat tradisional berkembang menjadi perhitungan secara complicated mengunakan komputer dengan berbagai jenis module aplikasinya. Perkembangan ini tentunya membawa perubahan yang cukup besar dalam perkembangan ilmu hisab falak juga. Rumus-rumus dan perhitungan yang sangat sederhana pada awal perkembangan Ilmu falak seperti terdapat dalam beberapa kitab falak yang berkembang ‘dan masih dipakai hingga kini’ di Indonesia jelas akan menghasilkan information yang kurang presisi akibatnya tentu akan berbeda dengan dengan fenomena falak yang sesungguhnya sedang terjadi. Namun setelah perhitungan dilakukan dengan alat-alat yang lebih canggih serta rumus-rumus algoritma yang telah disempurnakan maka information hasil hisab falak akan jauh lebih teliti bahkan dapat dikatakan mendekati “pasti” tentunya dengan pembuktian hasil observasi secara epirik di lapangan. Termasuk kegiatan rukyat hilal idealnya rukyatul hilal atau melihat hilal dilakukan dengan mata telanjang (naked eye) sesuai dengan pernah dilakukan oleh Rasulullah dan para sahabatsahabatnya. Asal kita tahu teknik dan ilmunya maka rukyat dengan mata telanjang menjadi jauh lebih efektif dibandingkan menggunakan peralatan bantu optik. Sebab yang pale penting adalah kualitas sumber daya manusianya bukan pada alatnya ‘THE MAN BEHIND THE GUN”.

ALAT BANTU HISAB
Alat hitung merupakan instrumen hisab falak yang mutlak diperlukan membantu melakukan perhitungan misalnya (1) hisab awal bulan sebagai bahan persiapan rukyatul hilal, (2) menyusun jadwal shalat, (3) menghitung arah kiblat, (4) menghitung saat terjadinya gerhana dsb. Beberapa information yang harus dipersiapkan sebelum melakukan rukyat misalnya : waktu ijtimak, saat matahari terbenam, ketinggian dan posisi hilal, saat terbenamnya hilal dsb. Data tersebut nantinya akan digunakan untuk orientasi posisi hilal di lokasi rukyat. Ketelitian

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 14 ■ http://rukyatulhilal.org

terhadap hasil perhitungan sangat dipengaruhi juga oleh alat hitung yang digunakan. Alat ini berkembang terus seiring dengan berkembangnya teknologi. Beberapa jenis alat hitung itu misalnya:

Rubuk Mujayyab

Rubuk mujayyab atau dalam istilah lain adalah “kuadrant” adalah benda berbentuk seperempat lingkaran yang memiliki garis-garis dan terdapat benang serta bandul. Alat ini merupakan alat bantu hitung falak dan pengukuran-pengukuran benda langit. Menurut sejarah, pencipta alat yang termasuk “serba guna” ini adalah seorang ahli falak dari Syiria pada abah ke-14 yaitu Ibnu Syatir. Dengan rubuk perhitungan rumus-rumus trigonometri menjadi mudah.

Sinus, cosinus, tangen dan cotangen dapat dilesesaikan secara cepat menggunakan rubuk ini. Sebagai alat peninggalan peradaban falak Islam masa lalu, rubuk ternyata mampu menyelesaikan hitungan-hitungan trigonometri yang cukup teliti untuk masa itu. Rubuk juga dapat digunakan untuk menentukan irtifa / ketinggian benda langit, tinggi gedung/menara, kedalaman jurang, lebar sungai dll. Walaupun sekarang telah alat ini telah digantikan oleh daftar logaritma, kalkulator atau bahkan oleh komputer namun beberapa pesantren di Indonesia masih banyak yang menggunakan peralatan rubuk sebagai alat bantu hisab.

Daftar Logaritma

Daftar logaritma adalah sebuah buku kecil yang di dalamya berisi tabel angka-angka yang merupakan hasil operasi fungsi trigonometri meliputi; log, ln, sinus, cosinus, tangen dan cotangen serta beberapa fungsi matematis lain. Menggunakan daftar logaritma perhitungan trigonometri yang banyak terdapat dalam buku-buku falak akan menjadi lebih teliti dibandingkan menggunakan rubuk.

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 15 ■ http://rukyatulhilal.org

Salah satu halaman di Daftar Logaritma

Kalkulator

Kalkulator merupakan alat bantu hitung yang pale praktis untuk menyelesaikan rumusrumus hisab. Kalkulator yang memiliki fasilitas penyimpanan memori banyak untuk menyimpan hasil perhitungan sangat diutamakan. Akan lebih praktis lagi seandainya kalkulator juga dilengkapi dengan fasilitas pembuatan module untuk rumus-rumus yang ada. Beberapa kalkulator yang customary untuk melakukan hisab antara lain; KARCHE 4600SX, KARCE 4650P, CASIO FX3600SP, CASIO fx4500P dsb.

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 16 ■ http://rukyatulhilal.org

Aneka jenis kalkulator

Komputer

Komputer adalah seperangkan alat elektronik yang berfungsi mengolah information elektronik. Komputer pale sederhana terdiri atas komponen pemoroses (CPU), keyboard dan rodent serta layar monitor. Komputer merupakan alat bantu hisab yang canggih karena dapat mengeleminir tingkat kesalahan hingga mendekati nol. Menggunakan module bahasa komputer seperti BASIC, PASCAL, Delphi dsb memungkinkan kita menyusun program/software terhadap aplikasi falak bahkan kecuali dapat menghitung secara akurat, komputer dapat menampilkannya dalam bentuk gambar simulasi serta dapat dicetak dalam bentuk daftar melalui printer. Perkembangan teknologi membuat perhitungan falak yang semula sulit menjadi mudah. Maka berkembangkan module atau software-software khusus untuk keperluan falak. Termasuk dalam jenis komputer adalah Personal Computer (PC), Laptop/Notebook, Tablet PC, PDA maupun Palm OS dsb bahkan kini telpon genggam/seluler sudah dapat berfungsi seperti halnya sebuah komputer.

PC LAPTOP

PDA

TABLET PC

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 17 ■ http://rukyatulhilal.org

SOFTWARE APLIKASI FALAK (SAF) UNTUK PENENTUAN AWAL BULAN
Software Aplikasi Falak (SAF) adalah module komputer (software) yang didisain khusus oleh programernya untuk perhitungan (hisab) terhadap rumus-rumus/algoritma yang terdapat dalam ilmu falak-syar’i. Perhitungan tersebut meliputi: • Hisab Awal Bulan Komariyah / Hijriyah. • Hisab Waktu Shalat dan Imsakiyah • Hisab Arah Kiblat • Hisab Gerhana Matahari dan Bulan • Hisab Konversi Penanggalan Hijriyah – Masehi • Hisab Posisi Harian Matahari dan Bulan • Hisab Visibilitas Hilal dari sebuah tempat • Hisab Fase-fase Bulan • Hisab Saat Peneraan Arah Kiblat berdasarkan bayangan dan posisi matahari dsb. Munculnya epoch komputerisasi membuat para perukyat tidak lagi kesulitan menghitung rumus-rumus falak. Dengan menggunakan komputer PC atau laptop yang sudah diinstalasi module ini kita dapat mengetahui posisi hilal dengan cepat. Sebelumnya, mengetahui posisi hilal merupakan masalah falak yang sangat rumit saat perhitungan hanya menggunakan kalkulator dari rumus-rumus yang ada dalam Kitab-kitab Falak. Sekarang, cukup dengan menginstalasi (install) Software Aplikasi Falak (SAF) ke dalam komputer maka datadata hasil hisab dapat segera diketahui secara lengkap dengan tingkat ketelitian yang tinggi bahkan boleh dikatakan mendekati pasti (qat’i). Tidak hanya itu, Software Aplikasi Falak (SAF) juga dapat digunakan untuk menyusun Jadwal Shalat dan Penentuan Arah Kiblat untuk seluruh lokasi di permukaan bumi. Kini dengan cukup memasukkan information submit berupa lokasi geografis maka komputer akan memberikan informasi lengkap mengenai visibilitas hilal, waktu shalat dan arah kiblat lokasi setempat. Program ini juga dilengkapi dengan Sistem Konversi Kalender dari kalender Gregorian/Masehi ke kalender Hijriyah dan sebaliknya. Dengan demikian, modernisasi sangat membantu dalam permasalahan hisab falak. Hisab falak yang sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh “ahli falak” yaitu orang-orang yang betul-betul mendalami secara khusus ilmu falak berupa pengetahuan gerak benda-benda langit serta hitungan matematis, maka kini siapapun dapat belajar falak secara mudah dan cepat menggunakan Software Aplikasi Falak yang banyak beredar di internet, kedai module maupun rental-rental software. Tidak hanya komputer PC atau laptop saja yang dapat digunakan untuk menjalankan module aplikasi falak tersebut. Kini Software Aplikasi Falak juga dapat diinstalasi ke dalam telpon genggam atau ponsel yang dilengkapi fasilitas Sistem Operasi juga komputer genggam yang sering disebut PDA (Personal Digital Assistance). Beberapa diantaranya bahkan sudah dilengkapi dengan fitur GPS (Global Positioning System) yang dapat mengetahui posisi geografis around satelit serta dapat menunjukkan arah kiblat secara presisi. Beberapa Software Aplikasi Falak (SAF) yang dapat digunakan untuk melakukan perhitungan awal bulan tersebut misalnya:

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 18 ■ http://rukyatulhilal.org

1. Starrynight Pro Plus Versi 6 Software ini memiliki keunggulan diantaranya : (1) memiliki tingkat ketelitian yang tinggi hingga ribuan tahun yang lalu sampai ribuan tahun yang akan datang sesuai karena menggunakan Teori Formulasi Chapront ELP-2000/82 yang hanya menghasilkan kesalahan 10 arcsecon untuk logitude dan 4 arcsecond untuk embodiment ( 1 arssecon = 1/3600 ), (2) dapat menampilkan posisi bulan/hilal secara realistik dari semua lokasi dan ketinggian di permukaan bumi (3) menampilkan information efemeris bulan/hilal secara sangat lengkap (4) mudah dioperasikan. Program ini mampu menghitung mundur secara presisi posisi benda langit 100.000 tahun SM sampai masa yang akan datang tahun 100.000 Masehi. Keunggulan lain module ini adalah pada visualisasi tampilannya yang sangat realistis hampirhampir mendekati kondisi sesungguhnya. Data posisi hanya tinggal klik menggunakan rodent tanpa perlu banyak berpikir.

Software Starrynight Pro Plus 6 untuk melihat posisi hilal.

2. Accurate Times Versi 5 Mohammad Odeh
Merupakan module terintegrasi untuk menghitung dan menentukan waktu pada aplikasi ibadah sehari-hari. Program yang disusun oleh Mohammad Ode dari Jordanian Astronomical Society (JAS) memiliki kemampuan menghitung : 1. Waktu Shalat ( Fajar, Suruq, Zuhur, Ashar, Magrib dan Isya) 2. Fase Bulan (Geosectri dan Toposentrik) 3. Waktu Matahari (Terbit, Transit, Tenggelam, Twilight) 4. Waktu bulan (Terbit, Transit, Tenggelam) 5. Data Visibilitas Hilal “old & new moon” 6. Peta Visibilitas Hilal Dunia “old & new moon” 7. Ephemeris bulan dan matahari 8. Arah kiblat dari suatu lokasi 9. Waktu menentukan arah kiblat dengan bayangan mahari 10. Konversi Kalender Masehi – Hijriyah dan sebaliknya 11. Menyuarakan adzan saat waktu shalat tiba 12. Alarm menjelang waktu shalat Menurut pembuatnya module ini memiliki tingkat akurasi yang tinggi dan hanya berselisih beberapa detik dari information almanak astronomi.

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 19 ■ http://rukyatulhilal.org

Tampilan Program Accurate Times 3. Mooncalc Versi 6.0 Monzur Ahmed Hampir mirip dengan Accurate Times namun module ini dirancang menggunakan underneath DOS sehingga memungkinkan dijalankan dari komputer berbasis prosesor sekelas DX, namun dapat juga dijalankan dari Windows. Menu module ini menampilkan opsi diantaranya ; 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Tabel information ephemeris bulan Posisi bulan pada peta langit Simulasi Langit (Planetarium) Close adult wajah bulan lengkap dengan nama tempat/lokasi Peta visibilitas hilal secara tellurian Grafik liberasi bulan Penjejak peristiwa gerhana matahari dan bulan Penambahan dan revise lokasi pengamat Pengubahan seting program, lokasi, kriteria rukyat dsb

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 20 ■ http://rukyatulhilal.org

4. Win Hisab Versi 2.0 BHR Depag RI Program hasil kreasi Badan Hisab dan Rukyat (BHR) Departemen Agama RI ini direlease mulai tahun 1996 bersama dengan jasa pembuat module IQsoft. Walaupun sangat sederhana module ini cukup untuk mengetahui posisi hilal dan waktu shalat. Kini sedang dipersiapkan juga Win Hisab versi 2007 yang lebih akurat, lengkap dan dapat menampilkan visibilitas hilal di wilayah Indonesia.

5. Hisab Falak Versi 1.1. Ir. Aminuddin E.K.S Hisab Falak dirancang dan dibangun oleh Ir. Aminuddin E.Ka.S dari Gresik seorang pemerhati masalah hisab falak di Indonesia. Di bawah bendera Amana Co. beliau sengaja merancang module yang tidak hanya dapat menghitung jadwal shalat namun juga penentuan arah kiblat, konversi kalender hijriyah, hisab awal bulan dan section submit untuk mengganti lokasi. Program ini cukup bagus untuk dimiliki.

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 21 ■ http://rukyatulhilal.org

5. Mawaaqit Versi 2001 DR Ing Khafid Pada awalnya module ini dibuat pertama kali dengan bahasa Borland (Turbo) Pascal Versi 7.0 oleh Kelompok Studi al-Farghani orsat ICMI Belanda yang dikoordinir Dr. Ing. Fahmi Amhar dan Dr. Ing. Khafid, kini telah direvisi beberapa kali. Program ini berisi menu-menu perintah untuk menghitung: waktu salat, arah kiblat, awal bulan kamariah, dan peta garis batas tanggal secara komprehensif bahkan dilengkapi dengan bacaan Al Qur’an Murottal 30 juz.

Koleksi Aneka Software Aplikasi Falak (SAF)
Berikut beberapa koleksi module astronomi yang dapat juga digunakan untuk melakukan hisab falak. Beberapa module berikut sudah enggunakan algoritma yang masuk dalam kategori High Accuracy Algorhitm. 1. Adastra Freestar Coeli Software 2. Astronomy Lab 2 Version 2.0.2 Eric Bergman-Terrel 3. Distance Sun Version 4.0 Mike Smithwick 4. Hallo Northern Sky V 2.2. Han Kleijen 5. Home Planet for Windows John Walker 6. Lunar Calendar & Eclipse Finder 5.67 Hermetic System 8. Lunar & SolarEclipse 2.0E (DOS) Christian Nuesch 9. LunarPhase 2.61 Gary Nugent 10. MyStars! Version 2.7 http://relativedata.com 11. NUIT Rene Maider Geneve 12. Planetarium Gold 2.1 JC Research 13. StarCalc 5.7.1 Alexander E Zavalishin 14. Prayer Times 4.0 Al-Athan Adel A. Al-Rumain Saudi 15. Sky View Cave 3.0.4 Kerry Shetline 16. StarCat Ver 0.96 Jim Campbell 17. StarFinder Version 0.2 http://www.geocities.com/FreeStarFinder 18. Stellarium Version 0.8.4 Coeli Software http://stellarium.org 19. Virtual Moon Atlas Version 1.5 Christian Legrand & Patrick Chevalley
Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 22 ■ http://rukyatulhilal.org

20. WinStars Version 1.0.3 Frank Richard http://winstars.free.nr 21. SkyMap Pro Version 9 C Marriott http://skymap.com 22. Astronomica 1.5 Piotr Czerski dsb. Semua module tersebut dapat dengan mudah kita dapatkan baik melalui internet maupun pusat-pusat penjualan dan persewaan CD software. Selain software-software yang telah disebutkan di atas, kini cukup banyak tokoh-tokoh falak di Indonesia yang terus melakukan pengembangan terhadap Software Aplikasi Falak (SAF) agar mudah digunakan oleh para pemula sekalipun. Akhirnya sebagus apapun software-software yang telah dibuat oleh manusia tanpa dukungan dan kemampuan user yang menjalankan module tersebut hanya akan siasia. Maka sebaiknya memang perlu juga diadakan pelatihan-pelatihan tentang penggunaan komputer sebagai alat bantu hisab dan rukyat.

ALAT BANTU RUKYAT HILAL
Untuk melakukan kegiatan rukyatul hilal, maka sebelumnya seorang perukyat harus mengusai beberapa hal yang berhubungan dengan ‘hilal’ itu sendiri. Diantaranya yang pale penting adalah ponguasaan ilmu falak khususnya mengenai perubahan fase serta gerak bulan dan matahari. Penguasaan terhadap alat bantu rukyat juga merupakan hal penting yang harus dimiliki oleh seorang perukyat. Kontroversi boleh tidaknya menggunakan alat bantu dalam melakukan rukyatul hilal memang masih terdengar, namun menurut beberapa ulama hal itu sah-sah saja menggunakan alat bantu selama tidak menyimpang dari hakikat rukyatul hilal itu sendiri yaitu menyaksikan langsung lahirnya hilal. Penggunaan peralatan optik maupun peralatan pencari lokasi sebatas digunakan untuk membantu mempermudah pelaksanaan rukyatul hilal tidak menyalahi ketentuan yang ada termasuk barangkali penggunaan teknologi penginderaan jarah jauh menggunakan infra merah, radar maupun satelit palacak. Beberapa peralatan/instrument yang mungkin dapat dimanfaatkan untuk membantu pelaksanaan rukyat yang nantinya juga termasuk object yang akan dilaporkan dalam lembar laporan pelaksanaan rukyat. Beberapa instrumen rukyatul hilal yang perlu dipersiapkan sering untuk digunakan nanti saat kegiatan rukyat misalnya :

█ Data Hisab Awal Bulan dan Data Pelaporan
Data hisab awal dipergunakan diantaranya untuk memahami posisi hilal, bentuk hilal serta saat pale tepat melakukan rukyatul hilal. Dengan adanya information hisab hilal maka orientasi posisi hilal menjadi lebih mudah. Data secara lengkap mengenai hisab awal bulan biasanya memuat infomasi misalnya: ————————————————————————————————————–LOKASI PERHITUNGAN : YOGYAKARTA f= -7 48′ (LS). l= 110 21′ (BT).

Markaz = 90 scale (dpl.) – Waktu Terbenam Matahari – Tinggi Matahari saat terbenamnya – Tinggi Hilal saat Matahari terbenam – Beda Tinggi Matahari – Bulan – ‘Umur Hilal’ sejak Ijtimak – Azimuth Matahari saat terbenamnya – Azimuth Bulan saat terbenam Matahari – Beda Azimuth Matahari – Bulan – Sudut Matahari – Bulan / Elongasi – Waktu Terbenam Hilal – Azimuth Bulan saat terbenamnya : 17:33:48 WIB : – 1 07′ 13,26”. ⎯→ di bawah ufuk mar’i. : + 10 30′ 06,89”. ⎯→ di atas ufuk mar’i. : 11 37′ 20,14”. : + 29j 32m 24,25d. : 262 26′ 20,00” : 254 53′ 31,02” ( 254 53′ 31” ). : + 7 32′ 48,98” (Hilal di Sebelah Selatan Matahari). : 13 50′ 12,04”. : 18:19:47,06 WIB ( 18:19:47 WIB ). : 253 36′ 50” .

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 23 ■ http://rukyatulhilal.org

– Lama Hilal di atas ufuk – Luas Cahaya Hilal (iluminasi) – Kemiringan Hilal – Lebar Nurul Hilal (ushbu’ / jari )

: + 0j 45m 59,40d. : 0,15% : Hilal miring ke utara. : 0,2748 ushbu’.

————————————————————————————————————–Kecuali menggunakan hisab manual, information hisab tersebut dapat diperoleh juga menggunakan Software Aplikasi Falak (SAF) seperti disebutkan di atas. Sedangkan information pelaporan terdapat pada lampiran.

█ Alat Ukur Panjang
Alat ukur panjang (meteran) sangat diperlukan saat melakukan kegiatan rukyatul hilal terutama saat pemasangan gawang rukyat. Pembuatan garis-garis orientasi arah hilal dibuat dengan membuat garis lintas arah mata angin menggunakan arah matahari terbenam. Meteran juga diperlukan saat pengukuran arah kiblat terutama untuk membuat shaff atau meluruskan pondasi bangunan masjid yang akan dibangun. Meteran yang baik digunakan adalah meteran hurl dengan panjang 50 scale dan terbuat dari bahan kain dan bukan logam.

█ Alat Ukur Waktu
Untuk mengukur waktu saat rukyatul hilal sebaiknya digunakan jam portabel digital dengan tampilan layar yang cukup besar. Sekarang indication jam ini banyak dijual di pasaran dengan harga yang sangat murah. Lebih diutamakan jam yang memiliki lampu sehingga terlihat terang saat matahari sudah tenggelam. Beberapa jenis ponsel kini dilengkapi dengan jam yang dapat diseting tampilannya. Yang pale penting adalah mengkalibrasi/singkronisasi jam sesuai waktu internet atau jam RRI atau TVRI atau menghubungi 105. Dengan cukup mencocokkan jam dan menitnya saja agar sesuai dengan hasil hisab. Kecuali jam sebagai alat ukur waktu maka stopwatch juga perlu disiapkan.

█ Alat Penjejak Lokasi Geografis dan Aspek Cuaca
Menentukan posisi geografis setiap lokasi pengamatan hilal adalah sangat penting karena perbedaan lokasi pengamatan / matla akan sangat berpengaruh terhadap hasil hisab hilal di sutu tempat. Adapun posisi geografis sutau daerah ditentukan besaran berupa Longitude (Bujur), Latitude (Lintang) dan Altitude (Tinggi). Selain besaran tersebut juga biasanya diukur di tempat berupa kelembaban udara, tekanan udara, suhu udara, kondisi awan, arah angin dan aspek-aspek lain yang berhubungan dengan cuaca. Tips berikut merupakan cara menyiapkan information geografis dan aspek cuaca lokasi rukyatul hilal.

Penentuan Posisi Geografis lokasi rukyat dapat dilakukan dengan beberapa cara : – Meminta information ke Bagian Pemetaan Wilayah Pemerintah Daerah setempat.
Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 24 ■ http://rukyatulhilal.org

• •

– Menggunakan peta wilayah propinsi/kabupaten yang dilengkapi penggaris bujur-lintang. – Menggunakan Software Atlas seperti Atlas Encarta, Atlas Britanica dan World Map. – Mencari information lewat internet misalnya http://map.google.com http://www.earthtools.org – Mengunakan perangkan/alat yang disebut GPS (Global Positioning System) yang dapat menampilkan information geografis sebuah titik lokasi di permukaan bumi around satelit secara akurat. Alat yang sekilas mirip ponsel ini dapat melakukan kontak dengan lebih dari 10 satelit di angkasa untuk mendapatkan information mengenai bujur dan lintang geografis lokasi, ketinggian dari muka laut, tekanan udara serta arah kompas yang benar. Pengukuran Ketinggian dari permukaan laut dan tekanan udara lokasi rukyat. – Menggunakan Altimeter yaitu alat pengukur ketinggian tempat dari permukaan laut (ada yang digital/analog). – Menggunakan Barometer yaitu alat pengukur tekanan udara. – Beberapa merek GPS juga dirancang dapat mengukur ketinggian dan tekanan udara. – Perkiraan langsung jika lokasi di daerah pantai misalnya 2 m di bibir pantai atau 10 m jika lewat menara. Pengukuran Suhu Udara dan Kelembaban Udara dapat dilakukan dengan menggunakan termometer kelembaban udara. Pengukuran arah angin dapat dilakukan dengan cara perkiraan secara primer dengan melepas benda ringan maupun metode asap atau secara teliti menggunakan anemometer mangkok maupun pengukur kecepatan angin yang lain. Pengamatan kondisi perawanan terutama di langit Barat tempat tenggelamnya matahari merupakan hal yang pale penting saat pelaksanaan rukyatul hilal, sebab tanpa kondisi langit yang cerah pengamatan hilal akan mengalami kesulitan bahkan mustahil dilakukan.

Oleh sebab itulah maka perukyat juga dituntut memiliki pengetahuan meteorologi atau ilmu cuaca. Foto satelit kondisi awan realtime di atas langit Indonesia kini dapat diperoleh di beberapa situs cuaca diantaranya hasil foto : – Satelit Jepang (http://weather.is.kochi-u.ac.jp/SE/00Latest.jpg)
Satelit Australia (http://www.bom.gov.au/gms/IDE00035.latest.shtml).

Foto Realtime Satelit Jepang

Foto Realtime Satelit Australia

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 25 ■ http://rukyatulhilal.org

█ Alat Ukur Sudut ( Azimuth dan Ketinggian/Altitude/Irtifa’ )

Rubuk Mujayyab Alat ini termasuk kuno peninggalan alhi-ahli Falak Islam jaman dulu. Bentuknya sangat sederhana yaitu berupa bangun 1/4 lingkaran yang pada pusatnya terdapat tali yang terhubung ke beban/bandul, namun kalo kita pelajari kegunaan alat ini ternyata ia dapat melakukan 1001 macam pengukuran dalam astronomis. Saat rukyatul hilal rubuk digunakan untuk mengukur sudut ketinggian hilal (irtifa’). Sering disebut dengan istilah kuadrant. Tongkat Istiwa Menggunakan sebatang tongkat yang ditancapkan secara tegak akan menghasilakan bayangan arah ketinggian matahari saat itu. Saat matahari tenggelam bayangan ini akan mamanjang sehingga dapat dijadikan sebagi acuan/patokan arah tenggelamnya matahari dengan menancapkan satu tongkat lagi pada lokasi lain. Titik tempat tenggelamnya matahari merupakan acuan menentukan posisi hilal yang baru akan terlihat 10-20 menit setelah matahari tenggelam.

• •

Jam Istiwa atau Jam Surya atau Jam Matahari (Sundial) karena cara kerja alat ini adalah menggunakan bayangan matahari yang membentuk sudut tertentu. Busur derajat setengah lingkaran dan busur derajat lingkaran penuh untuk membantu membuat garis orientasi arah hilal. Busur ini berdiameter lebih kurang 1 m agar diperoleh hasil ukur yang lebih teliti. Waterpass untuk menstabilkan peralatan agar betul-betul datar posisinya. Kompas digunakan untuk menunjukkan arah Barat khususnya pada kondisi titik terbenamnya matahari tidak teridentifikasi. Dengan bantuan kompas sudut azimuth matahari dan hilal dapat diidentifikasi, ini akan mempermudah orientasi pencarian lokasi hilal. Terdapat bermacam jenis kompas misalnya kompas bidik pramuka, kompas suntoo, kompas DQL-1, kompas prismatik, kompas marine, kompas geologi dsb. Bingkai/Gawang Lokasi Berbentuk segi empat dengan tiang di bawahnya digunakan untuk orientasi pandangan lokasi hilal. Caranya dengan menempatkan alat di depan pengamat saat matahari terbenam dan pengamat akan melihat terus ke arah bingkai rukyat yang bisa diatur turun mengikuti gerakan hilal sampai terlihatnya hilal. Diperlukan kemampuan khusus mengoperasikan alat ini mengikuti arah gerakan hilal.

• •

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 26 ■ http://rukyatulhilal.org

Theodolit Peralatan ini termasuk complicated karena dapat mengukur sudut azimuth dan ketinggian/altitude (irtifa’) secara lebih teliti dibanding kompas dan rubuk. Theodolit yang complicated dilengkapi pengukur sudut secara digital dan teropong pengintai yang cukup kuat. Theodolit biasanya digunakan oleh para ahli teknik sipil untuk pengukuran tanah dan bangunan.

█ Alat Bantu Optik

Kacamata Digunakan oleh perukyat terutama orang yang sudah tua yang memiliki kesulitan penglihatan jarah jauh (rabun jauh) karena hilal memang berada pada jarak yang jauh. Sering digunakan adalah kacamata minus. Karena salah satu syarat seorang perukyat adalah penglihatannya masih baik menghindari salah lihat. • Binokuler Disebut juga ‘keiger’/keker. Cara penggunaannya dengan ditempelkan langsung pada kedua mata, maka kita dapat melihat obyek yang berada pada jarak jauh. Kekuatan binokuler dinyatakan dengan pembesaran dan hole lensa obyektifnya. Misalnya binokuler 10×50 artinya alat ini dapat membesarkan obyek hingga 10x dan hole lensa obyektifnya 50 mm. Penggunaaan alat ini cukup efektif untuk membantu mengamati hilal. Teleskop Rukyat Teleskop rukyat tidak berbeda dengan teleskop astronomi pada umumnya yang juga disebut TEROPONG BINTANG namun dudukannya dirancang dapat bergerak 2 sumbu yaitu naik-turun (altitude) dan horisontal (azimuth) sehingga disebut dudukan alt-azimuth. Berbeda dengan jenis sumbu yang sering dipakai dalam astronomi yaitu menggunakan 3 sumbu yang disebut dudukan equatorial (EQ mount). Kekuatan teleskop dinyatakan dengan hole lensa obyektif untuk refraktor dan hole cermin obyektif untuk reflektor serta jarak fokur obyektif. Teleskop dengan spesifikasi 12″/3000 artinya diamter lensa/cermin adalah 8″ (sekitar 30 cm) dan jarak fokusnya 3000 mm. Kekuatan teleskop juga dinyatakan dengan pembesaran maksimumnya misalnya 500x dsb. Berdasarkan pengalaman lapangan teleskop tidak selalu efektif digunakan untuk rukyatul hilal. Hal ini mengingat ukuran hilal sudah cukup besar sekitar 30 arcminute atau 0,5 derajat busur sehingga dengan pembesaran 50x saja bulatan bulan sudah menutup medan pandang teleskop. Sebab yang diperlukan sebenarnya adalah bukan pembesaran obyek melainkan penguatan cahaya hilal yang sangat lemah dikuatkan oleh teleskop sehingga dapat terlihat oleh pengamat. Oleh sebab itu sangat cocok digunakan untuk rukyat adalah teleskop yang memiliki hole lensa/cermin cukup besar agar dapat mengumpulkan cahaya lebih banyak serta memiliki medan pandang sekitar 1saja. Hal yang harus dipertimbangkan dalam penggunaan teleskop untuk rukyat adalah teknik “slewing” yaitu mengarahkan teleskop ke obyek hilal yang tidak terlihat. Ini adalah pekerjaan yang sangat sulit sebab mengarahkan teleskop ke arah bulan purnama yang pernah penulis coba

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 27 ■ http://rukyatulhilal.org

saja sudah cukup merepotkan karena pada medan pandang yang sangat sempit gerakan sedikit saja sudah melenceng jauh dari obyeknya.

Berbagai indication teleskop Teleskop Meade LX200 GPS 16″ merupakan contoh alat bantu rukyat yang memenuhi standar. Selain bentuknya yang ringkas juga teleskop ini dilengkapi teknologi GOTO dan Global Positioning System (GPS) yang terhubung langsung around satelit, selain itu ia juga memiliki cermin obyektif dengan hole 16″ atau sekitar 40 cm dengan fokus 4000 mm.

Teleskop GOTO Teleskop ini juga sebenarnya teleskop astronomis biasa. yang membedakan adalah pada sistem dudukannya yang dilengkapi dengan engine penggerak yang diatur komputer sehingga teleskop dapat secara otomatis mengarah ke obyek benda langit yang diinginkan. Dengan bantuan “hand controller” kita bisa memilih obyek benda langit misalnya “moon” lalu tekan GOTO maka secara otomatis teleskop akan mengarah ke bulan dan mengikuti gerakan bulan walau saat itu tidak kelihatan. Teleskop GOTO biasanya juga dilengkapi dengan teknologi GPS (Global Positioning System) yang mampu berkomunikasi dengan beberapa satelit untuk mengkofirmasi information geografis posisi/lokasi pengamatan secara presisi tanpa perlu kita memasukkan data. Teleskop inilah seharusnya yang perlu dimiliki oleh instansi-instansi terutama BHR Wilayah maupun Pusat sebab harganya yang cukup mahal. beberapa merek teleskop GOTO yang terkenal diantaranya : Meade, Celestron, Vixen, Konus, Orion, Televue dsb. Belakangan teknologi Charge-Coupled Device (CCD) menjadi alternatif pemindahan citra hasil penglihatan teleskop ke perangkat digital sehingga bisa disimpan dalam bentul video maupun image. caranya adalah dengan memasang kamera CCD langsung ke okuler (eyepice) yang disebut teknik afocal. Atau menggantikan okuler langsung dengan kamera CCD, sehingga pengamat cukup menyaksikannya dari layar TV atau komputer atau bahkan disiarkan secara langsung lewat stasiun TV nasional atau video streaming lewat internet sehingga masyarakat dapat turut menyaksikan. Hight End Technologi Penggunaan teknologi maju terkini nampaknya dapat menjadi alternatif alat bantu rukyatul hilal sejauh tidak menyimpang dari syariat yang digariskan. Kelemahan alat bantu optik adalah ia tidak dapat menembus saat hilal tertutup awan atau terlalu rendah di atas ufuk. Sehingga pemanfaatan pesawat terbang, teleskop radio, infra merah, radar, laser, penginderaan satelit maupun penempatan radio sensor di bulan dapat menjadi alternatif alat bantu rukyat hilal. Lunar Laser Ranging (LLR) sebenarnya sudah digunakan sejak manusia pertama kali mendarat di bulan. Dengan LLR sinar laser dikirim ke permukaan bulan. Di permukaan bulan sudah terpasang serangkaian cermin yang memantulkan kembali sinar laser ini ke bumi dan diterima kembali oleh receiver. Sehingga dengan peralatan ini kecuali dapat dijejak posisi bulan secara presisi walaupun saat ijtimak maka juga dapat dihitung secara presisi jarak bumi-bulan.

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 28 ■ http://rukyatulhilal.org

Reflektor / Cermin Terpasang di Permukaan Bulan saat Misi Apollo

Laser diarahkan dari bumi dan dipantulkan kembali oleh cermin di bulan

Pemandu posisi bulan menggunakan Lunar Laser Ranging (LLR) Manusia dengan kemampuan akal yang telah diberikan oleh Allah SWT berusaha setiap saat menciptakan alat-alat bantu bagi kemudahannya. Kini kembali kepada kita apakah kita akan memanfaatkan teknologi tersebut ataukah kita tetap bersikukuh dengan pendirian kita dan menikmati perbedaan-perbedaan yang terjadi.

█ Inovasi & Kreasi Alat bantu Rukyatul Hilal
Berikut ini beberapa alat hasil kreasi para perukyat baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Kebanyakan peralatan ini merupakan modifikasi dari peralatan yang sudah ada dengan harga lebih terjangkau:

Webcam Telescope

Ini merupakan peralatan bantu penglihatan memanfaatkan teknologi webcam yang terpasang pada PC atau laptop dan dipasang pada sistem lensa kamera tele . Kemapuan alat ini dapat melihat dengan medan pandangan sekitar 45 arcminute atau sekitar 0,75 derajat dan cukup menbantu melihat hilal. Kemampuan lain alat ini adalah dapat merekam kenampakan hilal dalam format video maupun citra gambar foto sehingga dapat dijadikan bukti saat pelaporan. Sampai saat ini masih diadakan penyempurnaan terutama untuk sistem dudukan (mounting) agar dapat secara otomatis mengikuti gerakan bulan.

Hilal Tracker adalah penyederhanaan dari gawang rukyat. Dengan alat seukuran kertas folio ini kita dapat mencari orientasi posisi hilal saat sunset. Kemudahan alat ini adalah mudah dibawa dan digunakan. Perukyat hanya cukup merentangkannya di depan mata dan mengarahkannya di tempat matahari terbenam.

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 29 ■ http://rukyatulhilal.org

Lampiran

== HISAB AWAL BULAN KOMARIYAH == (SUPLEMEN)
Terdapat banyak metode hisab (sistem hisab) untuk menentukan posisi bulan, matahari dan benda langit lain dalam ilmu Falak. Sistem hisab ini dibedakan berdasarkan metode yang digunakan berkaitan dengan tingkat ketelitian atau hasil perhitungan yang dihasilkan. ■ Hisab Urfi (urf = kebiasaan atau tradisi) adalah hisab yang melandasi perhitungannya dengan kaidah-kaidah sederhana. Termasuk di alam kategori hisab urfi ialah metode perhitungan penanggalan Jawa-Islam yang disusun oleh Sultan Agung pada tahun 1633 M atau 1043 H. Dasarnya ialah periode rerata bulan mengelilingi bumi dalam daur 8 tahunan (windu). Dalam daur 8 tahun tersebut ditetapkan 3 tahun kabisat (355 hari, untuk tahun-tahun ke: 2, 4, dan 7) dan 5 tahun basithah (354 hari, untuk tahun-tahun ke: 1, 3, 5, 6, dan 8). Jumlah bulan dalam satu tahun ialah 12 bulan, dengan umur 30 hari untuk bulan-bulan ganjil dan 29 hari untuk bulan-bulan genap, kecuali dalam tahun kabisat umur bulan ke-12 ditetapkan 30 hari. Nama-nama ke 12 bulan tersebut berturut-turut ialah … Suro, Sapar, Mulud, Bakdomulud, Jumadilawal, Jumadilakhir, Rejeb, Ruwah, Poso, Sawal, Dulkaidah, Besar… Adapun dalam daur 8 tahunan tersebut tahun-tahun ditandai berturut-turut dengan nama Alip, Ehe, Jimawal, Ze, Dal, Be, Wawu, Jimakir. Untuk tahun 1747-1867, tgl 1 Suro tahun Alip jatuh pada hari Rebo Wage (Aboge). Untuk tahun 1867-1987, tgl 1 Suro tahun Alip jatuh pada hari. Selasa Pon (Asopon). Untuk tahun 1987-2107, tgl. 1 Suro tahun Alip jatuh pada hari Senin Pahing (Aninhing). ■ Hisab Istilahi Pada sistem hisab ini perhitungan bulan Hijriyah ditentukan berdasarkan umur rata-rata bulan sehingga dalam setahun Hijriyah umur dibuat bervariasi 29 dan 30 hari. Bulan bernomor ganjil yaitu mulai Muharram berjumlah 30 hari dan bulan bernomor genap yaitu mulai Shafar berumur 29 hari. Tetapi khusus bulan Zulhijjah (bulan 12) pada tahun kabisat Hijriyah berumur 30 hari. Tahun kabisat Hijriyah memiliki siklus 30 tahun dimana didalamnya terdapat 11 tahun yang disebut tahun kabisat (panjang) memiliki 355 hari, dan 19 tahun yang disebut basithah (pendek) memiliki 354 hari. Tahun kabisat ini terdapat pada tahun ke 2, 5, 7, 10, 13, 16, 18, 21, 24, 26 dan ke 29 dari keseluruhan siklus kabisat selama 30 tahun. Dengan demikian kalau dirata-rata maka periode umur bulan (bulan sinodis / lunasi) menurut Hisab Urfi adalah (11 x 355 hari) + (19 x 354 hari) : (12 x 30 tahun) = 29 hari 12 jam 44 menit ( menurut hitungan astronomis: 29 hari 12 jam 44 menit 2,88 detik ). Walau terlihat sudah cukup teliti namun yang jadi masalah adalah aturan 29 dan 30 serta aturan kabisat tidak menujukkan posisi bulan yang sebenarnya dan hanya pendekatan. Oleh sebab itulah maka hisab ini tidak bisa dijadikan acuan untuk penentuan awal bulan yang berkaitan dengan ibadah misalnya Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah. Adapun nama-nama ke 12 bulan tersebut berturut-turut ialah Muharram, Shafar, Rabiul Awal, Rabiul Akhir, Jumadil Ula, Jumadis Tsaniyah, Rajab, Sya’ban, Ramadhan, Syawal, Dzul Qa’idah dan Dzul Hijjah. ■ Hisab Taqribi ( taqrobu = pendekatan, aproksimasi ) adalah sistem hisab yang sudah menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematik namun masih menggunakan rumusrumus sederhana sehingga hasilnya kurang teliti. Sistem hisab ini merupakan warisan para ilmuwan falak Islam masa lalu dan hingga sekarang masih menjadi acuan hisab di banyak pesantren di Indonesia. Hasil hisab taqribi akan sangat mudah dikenali saat penentuan ijtimak dan tinggi hilal menjelang 1 Ramadhan, Syawwal dan Zulhijjah yaitu terlihatnya selisih yang cukup besar terhadap hitungan astronomis modern. Beberapa kitab falak yang berkembang di Indonesia yang masuk dalam kategori Hisab Taqribi misalnya; Sullam al Nayyirain, Ittifaq Dzatil Bainy, Fat al Rauf al Manan, Al Qawaid al Falakiyah dsb. ■ Hisab Haqiqi ( haqiqah = realitas atau yang sebenarnya ) menggunakan kaidah-kaidah astronomis dan matematik menggunakan rumus-rumus terbaru dilengkapi dengan data-data astronomis terbaru sehingga memiliki tingkat ketelitian yang tinggi. Sedikit kelemahan dari sistem hisab ini adalah penggunaan kalkulator yang mengakibatkan hasil hisab kurang
Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 30 ■ http://rukyatulhilal.org

sempurna atau teliti karena banyak bilangan yang terpotong akibat number kalkulator yang terbatas. Beberapa sistem hisab haqiqi yang berkembang di Indonesia diantaranya: Hisab Hakiki, Tadzkirah al Ikhwan, Badi’ah al Mitsal dan Menara Kudus, Al Manahij al Hamidiyah, Al Khushah al Wafiyah, dsb. ■ Hisab Haqiqi Tahqiqi ( tahqiq = pasti ) sebenarnya merupakan pengembangan dari sistem hisab haqiqi yang diklaim oleh penyusunnya memiliki tingkat akurasi yang sangat-sangat tinggi sehingga mencapai derajat “pasti”. Klaim seperti ini sebenarnya tidak berdasar karena tingkat “pasti” itu tentunya harus bisa dibuktikan secara ilmiah menggunakan kaidah-kaidah ilmiah juga. Namun sejauh mana hasil hisab tersebut telah dapat dibuktikan secara ilmiah sehingga mendapat julukan “pasti” ini yang menjadi pertanyaan. Sedangkan perhitungan astronomis complicated saja hingga kini masih menggunakan angka ralat (delta T) dalam setiap rumusnya. Namun demikian hal ini merupakan kemajuan bagi perkembangan sistem hisab di Indonesia. Sebab sistem hisab ini ternyata sudah melakukan perhitungan menggunakan komputer serta beberapa diantaranya sudah dibuat dalam bentuk software/program komputer yang siap pakai. Beberapa diantara sistem hisab tersebut misalnya : Al Falakiyah, Nurul Anwar, ■ Hisab Kontemporer / Modern Sistem hisab ini yang menggunakan alat bantu komputer yang canggih menggunakan rumusrumus yang dikenal dengan istilah algoritma. Beberapa diantaranya terkenal terkenal karena memiliki tingkat keterlitian yang tinggi sehingga dikelompokkan dalam High Accuracy Algorithm diantara : Jean Meeus, VSOP87, ELP2000 Chapront-Touse, dsb. Dengan tingkat ketelitian yang tinggi dan sangat akurat seperti Jean Meeus, New Comb, EW Brown, Almanac Nautica, Astronomical Almanac, Mawaqit, Ascript, Astro Info, Starrynight dan banyak software-software falak yang lain. Para pakar falak dan astronomi selalu berusaha menyempurnakan rumus-rumus untuk menghitung posisi benda-benda langit hingga pada tingkat ketelitian yang ‘pasti /qat’i ‘’. Hal ini tentunya hanya bisa dibuktikan dan diuji saat terjadinya peristiwa-peristiwa astronomis seperti terbit matahari, terbenam matahari, terbit bulan, terbenam bulan, gerhana matahari, gerhana

bulan, kenampakan world dan komet, posisi bintang dan peristiwa astronomis yang lain.
Menanggapi pluralitas metode hisab yang berkembang di Indonesia, pemerintah melalui Badan Hisab Rukyat (BHR) menampung semua hasil sistem hisab, dikumpulkan dan dilakukan perbandingan antara masing-masing sistem hisab tersebut. Sebagai contoh hisab awal bulan seperti tersebut di bawah ini.
REKAP HASIL PERHITUNGAN IJTIMA’ DAN TINGGI HILAL AWAL RAMADHAN 2006 M / 1427 H MENURUT BERBAGAI MACAM SISTEM*) BULAN Ramadhan 1427 H. SISTEM Sullam al Nayyirain Fath al Rauf al Manan Al Qawa’id al Falakiyah Hisab Hakiki Badi’ah al Mitsal Al Khulashah al Wafiyah Al Manahij al Hamidiyah Nurul Anwar Menara Kudus New Comb Jeen Meeus E.W. Brouwn Almanak Nautika Ephemeris Hisab Rukyat Al Falakiyah Mawaqit Ascript Astro Info Starry Night Pro 5 IJTIMA’ HARI Jum’at Jum’at Jum’at Jum’at Jum’at Jum’at Jum’at Jum’at Jum’at Jum’at Jum’at Jum’at Jum’at Jum’at Jum’at Jum’at Jum’at Jum’at Jum’at TGL. 22 Sep 2006 22 Sep 2006 22 Sep 2006 22 Sep 2006 22 Sep 2006 22 Sep 2006 22 Sep 2006 22 Sep 2006 22 Sep 2006 22 Sep 2006 22 Sep 2006 22 Sep 2006 22 Sep 2006 22 Sep 2006 22 Sep 2006 22 Sep 2006 22 Sep 2006 22 Sep 2006 22 Sep 2006 JAM 17:28 17:54 18:11 18:46 18:38:46 18:43 18:43 18:38 18:45:47 18:39:46 18:41:17 18:44:59 18:47 18:45:30 18:46:08 18:45:19 18:46 18:46 18:46 TINGGI HILAL 0 16′ 0 03′ – 0 44′ -1 20′ -1 14′ 17″ -1 39 -1 18 -1 35 -1 37′ 55″ -1 22′ 04″ -0 23′ 18″ -1 47′ 47″ -1 32′ 22″ -1 22′ 55″ -1 20′ 41″ -1 13′ 48″ -2 09′ -1 26′ -1 22′

NO. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19

*)

Keputusan Temu Kerja Evaluasi Hisab Rukyat Tahun 2006, Tgl. 1 s.d 3 Juni 2006 di Hotel Ria Diani Cibogo Bogor.

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 31 ■ http://rukyatulhilal.org

DATA HISAB AWAL BULAN

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 32 ■ http://rukyatulhilal.org

(EFEMERIS HISAB-RUKYAT DEPAG)
1. 2. 3. 4. Matahari terbenam jam = 17:33:06,21 WIB ( 17:33:06 WIB ). Tinggi Hilal saat Matahari terbenam : + 00 32′ 39”. Umur Hilal (sejak Ijtimak) = 17j 33m 06,21d – 12j 01m 23,41d = + 5j 31m 42,80d. Azimuth Matahari saat terbenamnya ( Az☼ ) : tg Az☼ = = = Az☼ = = 5. – impiety f : tg t☼ + cos f x tg d☼ : impiety t☼ – impiety -8 01′ 23,70” : tg 91 53′ 23,55” + cos -8 01′ 23,70” x tg -6 57′ 32,49” : impiety 91 53′ 23,55” 0,125535191 – 7 09′ 18,74”. ⎯⎯→ 262 50′ 41,26” ( 262 50′ 41” ). (di selatan titik Barat).

Azimuth Bulan saat terbenam Matahari ( Az ) : tg Az = = = Az = = – impiety f : tg t + cos f x tg d : impiety t – impiety -8 01′ 23,70” : tg 90 54′ 17,70” + cos -8 01′ 23,70” x tg -11 12′ 50,44” : impiety 90 54′ 17,70” 0,198547925 – 11 13′ 47,68”. ⎯⎯→ 258 46′ 12,32” ( 258 46′ 12” ). (di selatan titik Barat).

6.

Beda Azimuth Matahari – Bulan ( DAZ / DAz ) :

DAz = 262 50′ 41,26” – 258 46′ 12,32”
= 7. + 4 04′ 28,94”. ⎯⎯→ Hilal di Sebelah Selatan Matahari.

Jarak Sudut Matahari – Bulan / Elongasi Mar’i ( ARCL / aL ) : cos aL = = = impiety h☼ x impiety h’ + cos h☼ x cos h’ x cos ? DAz ? impiety -0 53′ 18,13” x impiety 0 32′ 39,45” + cos -0 53′ 18,13” x cos 0 32′ 39,45” x cos 4 04′ 28,94”

0,997160067 04 19′ aL = 08,80” Menurut kriteria ‘limit Danjon’ ( elongasi 7 ), maka Hilal tidak visibel. 8. Luas Cahaya Hilal ( Iluminasi ) : – FI – FI jam 10:00:00 ET = 0,00135 jam 11:00:00 ET = 0,00154

– FI

jam 10:34:12 ET = 0,001458299 ( 0,15% ) Menurut kriteria astronomis ( iluminasi 1% ), maka Hilal tidak visibel. 9. Kemiringan Hilal ( MR ) : tg MR = = = MR =

? DAz : h’ ? 4 04′ 28,94” : 0 32′ 39,45” 7,486235195 82 23′ 29,60”

⎯⎯→ MR

:> 15.

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 33 ■ http://rukyatulhilal.org

Karena ‘kemiringan’ > 15 dan ‘beda azimuth’ positif, maka : ‘Hilal miring ke utara’. 10. Lebar Nurul Hilal ( dalam satuan ushbu’ / jari ) : NR = = =

( θ ? DAz2 + h’ 2 ? ) : 15
( 4 04′ 28,94” ) + ( 0 32′ 39,45” ) : 15 0,2741 ushbu’.

SUMBER INSPIRASI Cecep Nurwendaya (Planetarium Jakarta)
http://ilmufalak.org http://rukyatulhilal.com http://id.wikipedia.org/Hisab Rukyat dll.

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 34 ■ http://rukyatulhilal.org

BERITA ACARA
PELAKSANAAN RUKYATUL HILAL Pada hari ini ………………. tanggal ……………………………… M / …………………………………………. H telah dilaksanakan Kegiatan Rukyatul Hilal penentuan Awal Bulan ………………………………… tahun ………………… Hijriyah oleh Tim / Perorangan *) yang beranggotakan …………….. orang, mulai pukul ……………….. WIB / WITA / WIT *) sampai pukul ……………… WIB / WITA / WIT *). Nama Lokasi Posisi Geografis : : ………………………………………………………………………………………………….

□ Bujur / Longitude □ Lintang / Latitude □ Tinggu / Altitude

: …………………………….. ( BT / BB ) : …………………………….. ( U / S ) : …………………………….. scale DPL

Data Astronomis :

□ Matahari Terbenam □ Azimut Matahari Saat Terbenam □ Tinggi Hilal Saat Matahari Terbenam □ Azimut Hilal Saat Matahari Terbenam □ Hilal Terbenam Pada Pukul
Aspek Cuaca di Lokasi :

: …………………………………….. WIB / WITA / WIT *) : …………… ……… ‘ ……… “ : …………… ……… ‘ ……… “ dari ufuk Mar’i : …………… ……… ‘ ……… “ : ……………………………………. WIB / WITA / WIT *)

□ Temperatur Udara □ Kecepatan Angin
Kondisi Langit Barat

: …………… C : …………… km/jam :

□ Kelembaban Udara : ………….. % □ Kecerahan Langit : ………….. %

□Sangat Cerah □Cerah □Berawan □Mendung Total
Laporan Pengamatan : *)

HILAL TERLIHAT / HILAL TIDAK TERLIHAT

Hilal Terlihat Menggunakan : Langsung Hilal Terlihat Mulai Pukul : ……………………….. sampai pukul ………………………… Posisi Hilal Terlihat :

□Mata

□Binokuler

□Teleskop
thd Matahari

□Kiri-Atas □Atas □Kanan-Atas

Bentuk Hilal Terlihat ( Pilih dengan tanda silang X ) :

Catatan : …………………………………………………………………………………………………………………… …………………………………………………………………………………………………………………………………. ………………………….., ………………… Ketua Tim Rukyat / Perukyat,

*) Coret tidak perlu

Rukyatul Hilal Indonesia (RHI) ■ 35 ■ http://rukyatulhilal.org

Muhammad Thoha

About 3setiyanto

Lahir di lereng lawu, Dekat kebun Teh dan Kopi tapi barubelajar cara menikmati Teh dan Kopi

Diskusi

2 thoughts on “rukyatul hilal..muntoha jogjaastro

  1. rotasibulanblogspot.com

    Posted by H bakri syam | Februari 4, 2014, 6:50 pm
  2. pengamatan hilal itu khusus untuk puasa ramadan, untuk bulan yang lainnya dalam kalender hijriah cukup dilakukan hisab saja. tetapi titik nol perjalanan bulan mengelilingi bumi menurut ilmu agama bukan pada cunjungsi.demi jelasnya baca rotasi bulan.blogspot.com.bakrisyam

    Posted by bakri syam | Desember 3, 2013, 12:23 pm

tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 475,480 hits

my facebook

terbanyak dibaca

%d blogger menyukai ini: