//
you're reading...
macem - macem

POLISI JUGA DIPERAS….?????


Di berita yang panjang dibawah ini saya tidak mengulas tentang pembunuhanyang terjadi dan siapa yang salah.. tetapi mengungkapkan dan menggaris bawahi BAHWA POLISI YANG BERTUGAS YANG BIASA MEMERAS JUGA DIPERAS…seperti hukum rimba… lebih galak…karena pakai senjata.
lihat paragraf ini:
“…Dari hasil pemeriksaan, Eriek dipastikan tewas oleh senjatanya sendiri. Awalnya, Sunarto dan Arif mengamati Eriek yang sedang bertugas. Sunarto lalu meyakini jika Eriek baru saja “berdamai” dengan pengendara yang terkena tilang. Karenanya, dia langsung menghampiri Eriek dan mengaku sebagai anggota Bidpropam Polda Jatim.

Saat itu, sunarto memakai seragam dengan pangkat AKP. Setelahnya, Eriek digiring sekitar 100 meter dari posnya dan dipalak. Dia digertak untuk memberikan upeti jika tidak ingin dibawa ke Mapolda Jatim. “Menurut pengakuan tersangka, korban melawan dan menodongkan senjata. Karena tersangka berdua, mereka bisa merebut senjata itu dan menembak korban,” terang Agus.
…..

Nambah nagisnya kah…ternyata pengawas polisi juga main peras2an..gimana hukum bisa jalan..Semua damai..(damai=uang) yang bisa hidup damai yang banyak uang..jaman apa ini..gilaa..liberal..komersialisme…kapitalis..berikut berita komplitnya..
Selasa, 13 Desember 2011 , 07:43:00
Ditembak Pakai Senjata Sendiri
Penembakan Polisi Bangkalan

SURABAYA – Pelaku pembunuhan terhadap Briptu Eriek Setyo Widodo, anggota Unit Lantas Polsek Sukolilo, Bangkalan, dipastikan berjumlah dua orang. Mereka adalah Aiptu Sunarto, anggota Provost Polsek Pabean Cantian Surabaya dan putra keduanya, Arif Wahyu Budi Setiyawan.

Hal itu terungkap dalam rilis yang digelar jajaran Ditreskrimum Polda Jatim kemarin (12/12). Dalam rilis tersebut juga disebutkan, motif penembakan hingga saat ini adalah upaya pemalakan terhadap Briptu Eriek yang gagal. Kegagalan itu pun harus ditebus dengan nyawa polisi berusia 26 tahun itu.

Eriek ditemukan tewas di Gunung Gigir, Kecamatan Blega, Bangkalan. Dia ditemukan telanjang dan hanya mengenakan celana dalam. Penemuan itu tidak berselang lama setelah dia dijemput oleh orang tak dikenal di pos penjagaan kawasan Petapan, akses Suramadu.

Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Rachmat Mulyana mengatakan, kunci pengungkapan kasus tersebut ada pada delapan butir tasbih dan plat nomor mobil D 33 WA (bukan D 333 WA seperti disebutkan sebelumnya). Berawal dari plat nomor mobil, Sunarto dicecar pertanyaan oleh Bidpropam seputar mobil tersebut.

Ternyata, mobil tersebut merupakan mobil sewaan yang didapatkan di sebuah rental kawasan Wiyung. Bidpropam pun langsung mengontak Kasubdit I Pidum Ditreskrimum Polda Jatim AKBP Anshori. Satpidum pun langsung bergerak ke lokasi rental.

“Dari keterangan pemilik rental didapati info jika mobil tersebut disewa pada 1 Agustus dan 7 Desember oleh pelaku (Sunarto),” terang Rachmat. Petugas pun makin curiga dan meminta mobil tersebut dihadirkan. Karena saat itu mobil sedang disewa dan dibawa ke Nganjuk, Polisi pun langsung menjemput mobil tersebut di Nganjuk.

Setelah ditemukan, mobil tersebut digeledah dan didapati bercak darah kering di pintu mobil. “Kami meminta bantuan Labfor Polri Cabang surabaya untuk tes DNA,” terang Direskrimum Polda Jatim Kombespol Agus K. Sutisna. Selain itu, petugas juga menemukan delapan butir bola tasbih yang terdapat setitik bercak darah kering dan langsung diserahkan ke Labfor.

Hasilnya, darah tersebut cocok dengan DNA Eriek. Saat Sunarto dikonfrontir seputar Eriek dan bukti tasbih serta bercak darah, kabarnya pria 49 tahun itu sempat pingsan. Saat siuman, akhirnya dia mengaku jika dialah pembunuh Eriek. Tasbih itu memang milik Eriek setelah dikonfirmasikan kepada istrinya.

Penyidik pun langsung mencecar pertanyaan seputar senjata Eriek. Ternyata, senjata itu dipegang oleh Arif, Anaknya. Pemuda 23 tahun itu pun diburu polisi dan ditangkap Minggu (11/12) sore di kawasan Rungkut Kidul. Pemuda yang bekerja sebagai sopir di salah satu perusahaan jasa pengiriman barang itu lalu menunjukkan tempat dia menyembunyikan senpi di rumahnya di Asrama Polisi Bangkingan. Benar saja, di rumah itu ditemukan senjata api revolver milik Eriek dan lima butir peluru.

Berbagai barang bukti kasus tersebut kemarin dipamerkan di halaman markas Ditreskrimum Polda Jatim. Di antaranya, sebuah mobil Avanza hitam nopol L 1791 WE yang disewa Sunarto dan diganti platnya menhjadi D 33 WA dan nopol dinas 4523-X. Kemudian, helapan butir bola tasbih milik Eriek.

Berikutnya senpi milik Eriek beserta lima peluru plus proyektil yang bersarang di tubuh Eriek. Ada juga seragam dinas dengan pangkat AKP dan tanda baret biru laut khas provost. Terakhir, sejumlah surat perintah palsu bertanda tangan Kabidpropam Polda Jatim maupun Kasi Propam beberapa Polres.

Dari hasil pemeriksaan, Eriek dipastikan tewas oleh senjatanya sendiri. Awalnya, Sunarto dan Arif mengamati Eriek yang sedang bertugas. Sunarto lalu meyakini jika Eriek baru saja “berdamai” dengan pengendara yang terkena tilang. Karenanya, dia langsung menghampiri Eriek dan mengaku sebagai anggota Bidpropam Polda Jatim.

Saat itu, sunarto memakai seragam dengan pangkat AKP. Setelahnya, Eriek digiring sekitar 100 meter dari posnya dan dipalak. Dia digertak untuk memberikan upeti jika tidak ingin dibawa ke Mapolda Jatim. “Menurut pengakuan tersangka, korban melawan dan menodongkan senjata. Karena tersangka berdua, mereka bisa merebut senjata itu dan menembak korban,” terang Agus.

Pengakuan Sunarto terkesan janggal. Sebab, dalam hierarki polisi biasanya anggota dengan pangkat lebih rendah tidak akan berani melawan polisi dengan pangkat lebih tinggi. “Jangankan pangkat, mendengar kata “Propam Polda” saja, biasanya, polisi di daerah langsung gentar,” ungkap sumber Jawa Pos di Kepolisian.

Pengungkapan motif tersebut sekaligus mematahkan dugaan yang selama ini beredar. Sebelumnya, Eriek diduga dibunuh karena motif dendam asmara. Menurut kebiasaan di madura, jika ada mayat ditemukan hanya mengenakan celana dalam, biasanya itu korban pertarungan akibat masalah cinta.

Sementara itu, AKBP Anshori mengatakan, pihaknya akan memperdalam lagi kasus tersebut. Sebab, selama empat bulan terakhir keduanya mampu menyimpan rapat-rapat tindakan tersebut. “Keluarganya saja tidak ada yang tahu,” terang Anshori. Sunarto dan Arif dijerat pasal 340 subsider 338 KUHP. Artinya, dia dijerat pasal pembunuhan terencana. (byu)

About 3setiyanto

Lahir di lereng lawu, Dekat kebun Teh dan Kopi tapi barubelajar cara menikmati Teh dan Kopi

Diskusi

One thought on “POLISI JUGA DIPERAS….?????

  1. ternyata jeruk juga makan jeruk

    Posted by Bambang Hindarto | Februari 13, 2012, 12:24 am

tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 475,381 hits

my facebook

terbanyak dibaca

%d blogger menyukai ini: