//
you're reading...
macem - macem

17 ramadhan nuzulul qoran = HOAX


Image

BEGITU BANYAK HARI PERINGATAN ISLAM yang kurang berdasar di negeri ini, Hari raya izra’ mi’raj, Hari Lahirnya Nabi Saw, 1 muharam, dan Nuzulul qura’n contohnya

Dalam sejarah Islam Nabi Saw yang mulia hanya mengatakan hari raya kita yang baru setelah masuk Islam ada 2 idul Adha dan Idul Fitri..

قدمت عليكم ولكم يومان تلعبون فيهما إن الله عز و جل أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الفطر ويوم النحر

Saya mendatangi kalian dan kalian memiliki dua hari raya, yang kalian jadikan sebagai waktu untuk bermain. Padahal Allah telah menggantikan dua hari raya terbaik untuk kalian; idul fitri dan idul adha.” (HR. Ahmad, Abu Daud, dan Nasa’i).

Read more about ucapan natal by www.konsultasisyariah.com

About 3setiyanto

Lahir di lereng lawu, Dekat kebun Teh dan Kopi tapi barubelajar cara menikmati Teh dan Kopi

Diskusi

One thought on “17 ramadhan nuzulul qoran = HOAX

  1. Maksudnya pada malam Lailatul Qadr Allah SWT juga menurunkan Alquran, bukan berarti Alquran diturunkan pada bulan tersebut. Yang benar Alquran diturunkan secara bertahap, bukan cuma pada malam Lailatul Qadr, karena bunyi surat Al Qadr tsb tidak menyebutkan kata-kata pertama kali diturunkan. Jadi penafsirannya Alquran tidak hanya diturunkan pada malam Lailatul Qadr.

    Masalah hari raya dalam Islam memang cuma ada 2 (idul Adha & idul Fitri). Mari kita simak pengertian hari raya (bahasa Jawa:Rioyo/bahasa Indonesia: PERAYAAN). Disebut hari raya/rioyo/perayaan setiap negara/suku/bangsa berbeda-beda, bukan hanya di Islam saja. Budaya di Arab tidak sama dengan budaya di Indonesia (begitu juga di jaman nabi). Orang Indonesia (Melayu) sangat menghormati budaya nenek moyangnya, sopan santun, gemar bermusyawarah, gotong royong, senang berkumpul/silaturrahim, suka kesenian/wayang, suka selamatan, suka kirim/tukar makanan kepada saudaranya, dll.

    Pengertian hari raya dalam Islam seperti idul Adha & idul Fitri itu memang yang disyariatkan dalam Islam, sedang perayaan-perayaan di luar idul Adha & idul Fitri hanya bersifat pendukung/tradisi budaya lokal tanpa ada ibadah-ibadah utama seperti salat, & hanya sekedar saling berbagi sedekah makanan kepada sanak saudara/merasa gembira setelah melewati puasa. Contohnya tradisi kupatan yang dilakukan orang Jawa. Di Arab tidak ada janur/kupat. Makanan pokok mereka pun bukan nasi, tapi gandum, kurma/roti. Jadi nggak bisa disamakan.

    Tentang perayaan/peringatan Maulid Nabi, Perayaan Isra’ Mi’raj, Perayaan Nuzulul Qur’an memang tidak dicontohkan Rasulullah dan dihukumi bid’ah, tapi itu perbuatan yang baik. Yang dimaksud bid’ah adalah apa2 yang tidak dicontohkan oleh Rasulullah yang tidak ada dasar agamnya. Sedangkan Pada perayaan/peringatan Maulid Nabi, Perayaan Isra’ Mi’raj, Perayaan Nuzulul Qur’an , Perayaan Kupatan, dll. ada unsur sadaqoh, baca salawat, baca Alqur’an, menceritakan sejarah kelahiran Islam/Rasulullah, dan itui sangat baik untuk syiar/dakwah Islam. Tentang tata cara dakwah nabi Muhammad dan ulama sekarang jelas berbeda, karena jamannya, situasi masyarakatnya, budayanya disesuaikan dengan kondisi saat itu dan itu hanya soal teknis belaka, tidak perlu diributkan. Yang penting tujuannya sama: syiar/dakwah Islam.

    Salah besar kalau perayaan2 tersebut dianggap mengkultuskan nabi Muhammad SAW. Pada perayaan/peringatan Maulid Nabi, Perayaan Isra’ Mi’raj, Perayaan Nuzulul Qur’an diisi dengan ceramah agama (mengenang sejarah Islam/nabi Muhammad), membaca Alqur’an, baca Salawat, atau bisa juga diadakan lomba-lomba bernuansa Islam, dan ini sangat baik untuk menananamkan nilai-nilai agama (sejarah kelahiran nabi Muhammad, sejarah turunnya Alqur’an, sejarah perintah Isra’Mi’raj, dll.)

    Nabi saw memperbolehkan kita melakukan Bid’ah hasanah (yang baik) selama hal itu baik/ tidak menentang syariah, sebagaimana sabda beliau saw : “Barangsiapa membuat buat hal baru yg baik dalam islam, maka baginya pahalanya dan pahala orang yg mengikutinya dan tak berkurang sedikitpun dari pahalanya, dan barangsiapa membuat buat hal baru yg buruk dalam islam, maka baginya dosanya dan dosa orang yg mengikutinya dan tak dikurangkan sedikitpun dari dosanya” (Shahih Muslim hadits no.1017, demikian pula diriwayatkan pada Shahih Ibn Khuzaimah, Sunan Baihaqi Alkubra, Sunan Addarimiy, Shahih Ibn Hibban dan banyak lagi). Hadits ini menjelaskan makna Bid’ah hasanah dan Bid;ah dhalalah.

    Posted by zian | Agustus 21, 2013, 6:50 pm

tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 475,331 hits

my facebook

terbanyak dibaca

%d blogger menyukai ini: