//
you're reading...
macem - macem

Melawan musuh syar’i sendirian dan kalah atau teraniaya adalah mulia bukan konyol


1. Dari jalur Aslam bin Yazid At Tujaibi, katanya:

”Kami berada di Romawi. Pasukan Romawi dengan jumlah besar menyerang kami. Pasukan muslim dengan jumlah sebanding menghadapi mereka. Pasukan dari Mesir dipimpin oleh Uqbah bin Amir. Sedangkan pasukan induk dipimpin oleh Fudhalah bin Ubaid. Tiba-tiba seorang prajurit muslim berlari melesat menuju barikade Romawi. Melihat kejadian itu, orang-orang berteriak: ”Dia menjerumuskan dirinya ke dalam kebinasaan” (Al Baqarah 195). Abu Ayyub Al Anshari membantah teriakan orang-orang tersebut. Ia berkata: ”Wahai kaum muslimin, kalian salah mentakwilkan ayat tersebut. Sebenarnya ayat itu diturunkan kepada kami golongan Anshar. Saat itu Allah memenangkan islam, lalu jumlah kaum muslimin juga sudah banyak. Tanpa sepengetahuan rasulullah, kami secara sembunyi-sembunyi berkata: ”Harta kita terbengkalai, sedangkan Allah telah memenangkan kita, alangkah baiknya jika kita kembali mengurusi ekonomi kita”. Maka Allah menurunkan ayat ini kepada rasulullah, Dan berinfaklah di jalan Allah dan jangan kalian menjerumuskan diri ke dalam kebinasaan (Al Baqarah 195).” (Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Hibban, Al Hakim)

Jadi, kata kebinasaan di atas maknanya adalah mengurusi ekonomi dan meninggalkan jihad fii sabilillah.

2. Dalam kitab Al Mushanif:
“Salah satu batalyon dari beberapa batalyon kafir telah tiba. Seorang laki-laki dari kalangan Anshar menyongsong kedatangan mereka. Ia berjibaku menerobos batalyon kafir tersebut dan mengobrak-abrik barisan mereka. Ia lalu keluar dari barisan kafir yang sudah ia obrak-abrik tersebut dan mengulangi aksinya sampai dua atau tiga kali. Kejadian ini disampaikan kepada Abu Hurairah. Menanggapi hal ini, Abu Hurairah membaca ayat, Dan diantara manusia ada yang mengorbankan dirinya untuk mencari keridhaan Allah (Al Baqarah 207).” (Riwayat Ibnu Abi Syaibah)

Abu Hurairah dari hadist di atas tidak menyebut perbuatan orang yang menerobos barisan musuh sendirian sebagai bunuh diri. Malahan beliau meridhai aksi tersebut.

3. Dalam pertempuran Yamamah, Bara bin Malik meminta sahabat-sahabatnya untuk melemparkan dirinya melintasi tembok pertahanan pasukan musuh dengan mengenakan perisai. Setelah berada dalam benteng musuh, ia berperang habis-habisan dan berhasil membunuh 10 orang kafir. Dia sendiri mengalami 80 luka. Menyikapi aksi jibaku tersebut, tak seorang pun yang mengingkari atau menyalahkannya. (Ringkasan dari Sunan Bayhaqi, Tafsir Al Qurtubi 2/364)

Dari ringkasan kisah di atas, tak ada seorangpun sahabat yang mengingkari aksi yang dilakukan oleh Bara bin Malik. Mereka diam tak mencela, sedangkan diketahui bahwa diamnya sahabat merupakan ijma (kesepakatan).

4. Operasi yang dilakukan oleh Salamah bin Al-’Akwa dan Al-Ahram Al-Asadi, dan Abu Qatadah terhadap Uyainah bin Hishn dan pasukannya. Dalam ketika itu Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam memuji mereka, dengan sabdanya: “Pasukan infantry terbaik hari ini adalah Salamah” (Bukhari-Muslim).

Ibnu Nuhas berkata : Dalam hadits ini telah teguh tentang bolehnya seorang diri berjibaku ke arah pasukan tempur dengan bilangan yang besar, sekalipun dia memiliki keyakinan kuat bahwa dirinya akan terbunuh. Tidak mengapa dilakukan jika dia ikhlas melakukannya demi memperoleh kesyahidan sebagaimana dilakukan oleh Salamah bin Al-’Akwa, dan Al-Akhram Al-Asaddi. Nabi s.a.w tidak mencela, sahabat r.a tidak pula menyalahkan operasi tersebut. Bahkan di dalam hadits tersebut menunjukkan bahwa operasi seperti itu adalah disukai, juga merupakan keutamaan. Rasulullah s.a.w memuji Abu Qatadah dan Salamah sebagaimana disebutkan terdahulu. Dimana masing-masing dari mereka telah menjalankan operasi Jibaku terhadap musuh seorang diri (Masyari’ul Asywaq 1/540)

5. Kisah Ghulam, seorang pemuda yang hidup di antara masa kenabian Nabi Isa dan Muhammad. Ia seorang pemuda beriman yang mana seorang raja memerintahkan pasukannya untuk membunuhnya namun tidak pernah berhasil walaupun sudah dilakukan berkali-kali. Akhirnya Ghulam berkata kepada sang raja; “Kau tak akan bisa membunuhku kecuali kau menuruti perintahku.” Raja bertanya; “Apa itu?” Ghulam menjawab; “Kumpulkan orang banyak di lapangan luas, saliblah aku di kayu, ambillah satu anak panah dan ucapkan AKU BERIMAN KEPADA TUHANNYA GHULAM, bidiklah aku dengan panah itu. Niscaya kamu bisa membunuhku.”

Sang raja menuruti instruksi Ghulam dan melepaskan anak panah kearah pemuda itu dengan mengucapkan aku beriman kepada tuhannya Ghulam. Panah ditembakkan dan akhirnya pemuda itupun meninggal. Melihat kejadian itu, masyarakat yang berada di situ ramai-ramai mengucapkan; “Kami beriman kepada Tuhannya Ghulam.” (Ringkasan kisah dari riwayat Bukhari-Muslim)
Dari hadist di atas, Ghulam memberitahu sang raja cara untuk untuk membunuhnya. Ia telah merelakan nyawanya demi tercapainya kemaslahatan agama. Kematiannya justru membuat banyak orang menjadi beriman kepada Allah.

6. Umar bin Khattab (ra) memberi izin kepada Abdullah ibnu Ummi Maktum yang buta kedua matanya untuk ikut berjihad. Di peperangan, ia mengayunkan pedangnya kesana kemari untuk membunuh musuh-musuhnya. Di sore hari, kemenangan diperoleh kaum muslimin dan sahabat menemukan jasad seorang muslim yang buta kedua matanya. (Dalam kitab Shifatu As Shafwah 1/222)

7. Seorang lelaki mendengar sebuah hadits dari Abu Musa: ”Jannah (syurga) itu berada di bawah naungan pedang.” Lalu lelaki itu memecahkan sarung pedangnya, lantas menerjang musuh seorang diri, berperang sampai ia terbunuh. (Imam Al-Bayhaqi, 9/44)

8. Kisah Anas bin Nadhar dalam salah satu pertempuran Uhud, katanya: “Aku sudah terlalu rindu dengan wangi jannah (surga),” kemudian ia berjibaku menerjang kaum Musyrikin sampai terbunuh. (Bukhari-Muslim)

Kaum muslimin yang dirahmati Allah, dalil-dalil di atas adalah hanya segelintir yang bisa saya kemukakan. Bisa kita lihat dengan jelas bahwa aksi orang-orang muslim yang disebutkan di atas berjibaku menuju barisan musuh seorang diri dan ia mereka tahu mereka memiliki resiko tinggi untuk terbunuh.

Sekilas apa yang mereka perbuat itu terlihat seperti tindakan yang terkesan agak konyol dan cari mati, namun pada kenyataannya para sahabat baik itu Abu Hurairah atau Abu Ayyub Al Anshari pada hadist no. 1 dan 2 sama sekali tidak mencela perbuatan orang itu. Justru mereka mendoakan mereka. Bahkan pada hadist no. 4, Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam sendiri memuji Salamah yang melakukan tindakan serupa. Pada hadist no. 6, Umar bin Khattab pun memberi izin kepada Ibnu Ummi Maktum yang buta matanya agar ikut berperang. Padahal kita sadar bahwa orang buta lebih tidak bisa mempertahankan dirinya dari serangan musuh karena ia tak bisa melihat dari mana arah serangan itu datang.

Fatwa ulama tentang amaliyat istishadiyah

1. Ibnu Taimiyah berkata:

”Imam yang empat membolehkan seorang muslim mencebur di barisan kuffar meskipun dia menduga kuat bahwa mereka akan membunuhnya bila dalam hal itu terdapat maslahat bagi kaum muslimin.” (Majmu Fatawa, 28/540)

2. Muhammad Ibnu Hassan Asy Sya’abani berkata:

”Seandainya seorang muslim menyerang sendirian terhadap seribu tentara, bila ia mengharapkan untuk membabat mereka atau memberikan pukulan pada mereka, maka tidak apa-apa, karena dengan perbuatannya itu dia bermaksud untuk menghajar musuh, sedang hal itu telah diakukan oleh banyak sahabat di hadapan Nabi Shalallahu alaihi wasallampada perang Uhud, dan Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam tidak mengingkari hal itu atas mereka dan bahkan beliau memberi kabar gembira kesyahidan terhadap sebagian mereka saat meminta izin dalam hal itu.” (As Sair Al Kabir)

3. Ibnu Nuhas berkata tentang hadist Salamah:

Dalam hadits ini telah teguh tentang bolehnya seorang diri berjibaku ke arah pasukan tempur dengan bilangan yang besar, sekalipun dia memiliki keyakinan kuat bahwa dirinya akan terbunuh.” (Masyari’ul Asywaq 1/540)

4. DR. Nawaf Hail Takruri berkata:

“Aksi-aksi bom syahid ini terbukti telah banyak yang menewaskan orang-orang Yahudi dan lebih efektif menyusupkan rasa takut ke dalam hati mereka” (Al Amaliyat Al IStishadiyyah fi Al Mizan Al Fiqhiy hal. 37)

5. Muhammad Nashiruddin Al Albani berkata setelah menjelaskan hadist Abu Ayyub Al Anshari:

“Dan ini adalah kisah populer yang menjadi bukti yang sekarang dikenal sebagai operasi bunuh diri dimana beberapa pemuda Islam pergi lakukan terhadap musuh-musuh Allah, akan tetapi aksi ini diperbolehkan hanya pada kondisi tertentu dan mereka melakukan aksi ini untuk Allah dan kemenangan agama Allah, bukan untuk riya, reputasi, atau keberanian, atau depresi akan kehidupan (http://salafiharoki.wordpress.com/2008/01/22/fatwa-syaikh-al-bani-mengenai-bomb-syahid/)

“Itu bukanlah bom bunuh diri, bunuh diri adalah dimana ketika seorang muslim membunuh dirinya untuk menyelamatkan diri dari kesusahan hidupnya atau sesuatu yang sama seperti itu, sejauh yang kamu tanyakan itu (bom syahid), itu adalah jihad untuk Allah. (http://www.fatwa-online.com/audio/other/oth010/0040828_2.rm)

About 3setiyanto

Lahir di lereng lawu, Dekat kebun Teh dan Kopi tapi barubelajar cara menikmati Teh dan Kopi

Diskusi

Belum ada komentar.

tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 475,331 hits

my facebook

terbanyak dibaca

%d blogger menyukai ini: