//
BISNIS

Terendah dalam 3 Tahun ; Pertumbuhan Ekonomi 2009 Hanya 4,3 PersenTerendah dalam 3 Tahun ;
Jakarta, Selasa, dari harian Analisa.

Pemerintah memperkirakan realisasi pertumbuhan ekonomi 2009 ini hanya bisa mencapai 4,3% atau di bawah asumsi APBN 2009 yang sebesar 6%.

Ini adalah level pertumbuhan ekonomi terendah dalam 3 tahun terakhir. Hal ini dikatakan oleh Menteri Keuangan sekaligus Menko Perekonomian Sri Mulyani dalam bahan pada rapat kerja dengan DPD di Gedung DPD, Senayan, Jakarta, Selasa (16/6). Baca Lebih lanjut
*************************************************
17 June 2009
Krisis Global pengaruh dan cara mesikapinya
Kondisi Keuangan Makro Pengaruhi Keuangan Pribadi
February 14th, 2009 Leave a comment Go to comments
Mungkin banyak diantara yang kita cuek terhadap kondisi keuangan secara makro. Selain karena kurangnya informasi yang kita ketahui, kita sering beranggapan bahwa kondisi keuangan makro tidak berdampak langsung terhadap keuangan pribadi atau keluarga. Namun ternyata beberapa hal dari kondisi keuangan Makro ternyata memiliki hubungan yang erat dengan keuangan pribadi atau keluarga.
baca lanjutannya:
Asuransi BUMN Tambah Deposito, Swasta Mengurangi

SHUTTERSTOCK
/
Artikel Terkait:
Deposito dan Giro Bank Asing Menyusut
Bunga Deposito Mulai Turun, Bunga Kredit Tunggu Dulu
LPS Segera Bayar Dana Nasabah Bank IFI
Deposito di Swiss Anjlok
Tahun 2008, Imbal Hasil Jamsostek Lebih Tinggi dari Deposito

Senin, 15 Juni 2009 | 09:32 WIB
JAKARTA, KOMPAS.com – Meluruhnya suku bunga simpanan di bank membuat pengelola perusahaan asuransi swasta mengurangi penempatan dana di deposito. Sebaliknya, asuransi milik pemerintah justru pilih menumpuk dana mereka di deposito agar likuiditas mereka aman saat menghadapi risiko kenaikan klaim saat krisis.

Penempatan dana asuransi di deposito perbankan ini terekam dalam data Bank Indonesia. Jika pada Maret 2009 dana asuransi BUMN di deposito sebesar Rp 31,67 triliun, pada akhir April 2009, angka itu naik menjadi Rp 34,38 triliun. Dalam periode yang sama, nilai deposito asuransi swasta merosot dari Rp 16,26 triliun menjadi Rp 15,47 triliun.

Direktur Utama PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) Eko Budiwiyono menilai, tren tersebut mencerminkan kondisi likuiditas asuransi BUMN semakin baik. “Berarti pengumpulan premi berjalan cukup bagus,” kata Eko kepada KONTAN Ahad (14/6).

Menurutnya saat ini kondisi pasar modal belum menentu, sehingga sementara waktu pengelola asuransi BUMN menempatkan dana tersebut ke deposito. Porsi deposito Jasindo mencapai hampir 50 persen dari total investasi yang mencapai Rp 1 triliun.

Sebaliknya, Direktur Utama PT BNI Life Lilis Handayani bilang, “Penempatan dana di deposito itu untuk menjaga likuiditas saja, di kami porsinya hanya 15 persen,” tambahnya.

Lilis mengaku, BNI Life yang merupakan anak usaha PT Bank BNI Tbk memilih menempatkan 40 persen dana yang mereka kelola ke obligasi, terutama Surat Utang Negara. Per akhir Mei 2009, total aset BNI Life sebesar Rp 1,1 triliun, adapun total dana investasi mencapai Rp 900 miliar.

PT Asuransi Jiwa Manulife Indonesia juga menempatkan dana di deposito dalam porsi yang kecil dari total investasi. “Porsinya cuma 20 persen hingga 26 persen. Hanya untuk likuiditas porsinya tak perlu banyak karena tidak untuk investasi jangka panjang,” jelas Adi Purnomo Wijaya, Vice President Director & Chief Operating Officer Asuransi Jiwa Manulife. (Fransiska Firlana/Kontan)

 

Dow Jones Tetap Menguat Pekan Ini

SHUTTERSTOCK
/

Sabtu, 13 Juni 2009 | 05:05 WIB
NEW YORK, KOMPAS.com – Sejumlah nilai saham di bursa Wall Street, New York, tetap mengalami rally. Namun, masih belum diketahui pasti faktor pemicu dari kembali menguatnya nilai saham di bursa Wall Street.

Sejumlah indikator bursa saham Wall Street pekan ini sedikit menguat setelah mencatat kenaikan besar pada pekan sebelumnya. Indeks industrial Dow Jones berhasil menembus kekelaman prospek ekonomi ini dengan catatan positif transaksi pekan ini meskipun banyak pelaku pasar masih bertindak waspada terhadap kondisi ekonomi di masa mendatang.

Indeks industrial Dow Jones naik 28,34 atau 0,3 persen menjadi 8.799,26. Ini merupakan kenaikan tertinggi Dow Jones sejak 6 Januari.

Indeks S&P 500 meningkat 1,32 atau 0,1 persen menjadi 946,21 dan indeks gabungan Nasdaq turun 3,57 atau 0,2 persen menjadi 1.858,80.

Bursa Saham Global Anjlok

Sabtu, 25 Oktober 2008 | 07:37 WIB

TEMPO Interaktif, New York: Pasar saham global dari Seoul hingga Stockholm anjlok ke titik terendah sejak Agustus 2003 akibat kekhawatiran kondisi ekonomi yang memburuk akan mengurangi keuntungan para emitennya. Hal tersebut juga memicu harga minyak untuk turun ke level terendah sejak 16 bulan terakhir dan mata uang yen meroket naik ke rekor tertinggi sejak 1995 terhadap dolar AS.

Indeks Standard & Poor 500 di perdagangan lantai bursa Wall Street kehilangan 3,5 persen, penurunan terendah dibandingkan bursa Eropa dan Asia, pada perdagangan tadi malam, Jumat (24/10). Dow Jones bergerak negatif 3,59 persen ke level 8.378,95. Nasdaq turun 3,23 persen menjadi 1.552,03

FTSE 100 di lantai bursa London anjlok 5 persen, diikuti kejatuhan terbesar mata uang poun sterling sejak 1971 karena laporan dari pemerintah setempat yang menyatakan perekonomiannya turun untuk pertama kalinya dalam 16 tahun. Pertumbuhan ekonomi Korea Selatan mengalami penurunan tertinggi sejak 4 tahun, menyebabkan indeks Kospi rontok 11 persen.

“Saat ini terjadi ketakutan besar ekonomi dunia akan mengalami resesi. Kekhawatiran itu telah bergeser dari bank atau perusahaan mana yang akan jatuh menjadi negara mana yang akan jatuh, dengan Islandia dan beberapa negara kecil lainnya telah mendapat suntikan dana,” ujar Michael Binger, fund manager dari Trivent Asset Management, Minneapolis, AS.

Indeks dunia MSCI untuk negara berkembang bergerak negatif 4,3 persen menjadi 871,64. Indeks yang menjadi acuan emerging market telah mengalami penurunan 7,8 persen dalam 6 minggu berturut-turut atau terlama sejak 1998.

Lebih dari US$ 10.000 triliun telah hilang dari nilai pasar modal sepanjang bulan ini.

“Isu yang menggerakkan harga saham saat ini adalah margin calls (perdagangan margin), redemption (penarikan), dan penjualan. Saya tidak akan membeli (saham) sekarang,” ujar George Feiger, Chief Executive Officer Contango Capital Advisor, Berkeley, California, AS.

Sementara itu, harga minyak pada perdagangan New York Mercantile Exchange turun 5,4 persen menjadi US$ 64,15 per barel setelah OPEC (organisasi negara pengekspor minyak) memutuskan untuk menurunkan produksinya sebesar 1,5 juta barel per hari. Hal tersebut memicu saham sektor energi di S&P 500 turun 3,9 persen.

Mata uang yen mengalami penguatan 8,6 persen sepanjang minggu ini terhadap dolar AS. Terhadap euro yen menguat 13 persen. Namun euro melemah 5,1 persen terhadap dolar AS. Bloomberg/Sorta Tobing

Diskusi

Belum ada komentar.

tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 475,147 hits

my facebook

terbanyak dibaca

%d blogger menyukai ini: