//
Toleransi

   

http://www.telegraph.co.uk
Swiss Resmi Larang Pembangunan Menara Masjid
Masjid (ilustrasi)
TERKAIT :
Sepeda Dengan Konsep Pisau lipat – Sepeda kayuh hybrid listrik yang dinamai Voltitude
Walikota Kupang: Pembangunan Masjid Nur Musofir telah Penuhi Persyaratan
Polisi Swiss Tangkap Gerilyawan Tamil Sri Lanka
Ultra Kanan Eropa Berencana Gelar Konferensi Perangi Islamisasi
Film ‘Bali, Sacred & Secret’ Diputar di Bioskop Swiss
Swiss Resmi Larang Pembangunan Menara Masjid
Senin, 24 Oktober 2011 18:56 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, BERN – Mayoritas masyarat Swiss menyetujui larangan pembangunan menara Masjid. Demikian hasil referendum Swiss. Hasil referendum menyebutkan 57,5 persen masyarakat Swiss menyetujui larangan tersebut. Sementara hanya empat dari 26 kanton (sebutan negara bagian yang tergabung dalam republik federal Swiss) menolak larangan tersebut.

“Dewan federal (pemerintah) menghormati putusan ini. Karena itu, pembangunan menara Masjid baru tidak akan diizinkan,” papar jujur bicara dewan seperti dikutip aljazeera.com, Senin (24/10).

Pelaksanaan referendum Swiss berawal dari tekanan Partai Rakyat Swiss (SVP) kepada Dewan Federal untuk menyelesaikan masalah pembangunan menara Masjid. Dalam tekanan itu, mereka mengumpulkan dukungan berupa 100 ribu tanda tangan dalam waktu 18 bulan kepada warga negara Swiss yang memiliki hak suara.

Alan Fisher, koresponden Al Jazeera di Bern, ibukota Swiss, mengatakan kekhawatiran penyebaran Islam radikal merupakan alasan kuat masyarakat Swiss dalam mendukung pembangunan menara Masjid. Alasan itu mengalahkan fakta konkret bahwa komunitas Muslim Swiss cenderung moderat ketimbang komunitas Muslim lain di seluruh Eropa.

“Mereka (komunitas Muslim Swiss) berharap referendum memihak mereka. Tapi nyatanya, harapan itu sirna dan mereka terkejut melihat mayoritas masyarakat Swiss memilih setuju dengan larangan itu,” papar Fisher.

Ia mengungkap selepas hasil referendum, pemerintah Swiss segera menyakinkan komunitas Muslim Swiss untuk tidak merasa ditolak. Pemerintah berdalih larangan itu tidak diartikan sebagai bentuk penolakan terhadap komunitas Muslim.

Menteri Keadilan Swiss, Eveline Widmer-Schlumf menuturkan hasil referendum mencerminkan kekhawatiran yang besar terhadap Islam radikal. “Kekhawatiran ini perlu mendapat perhatian. Namun, Dewan Federal berpandangan bahwa larangan pembangunan menara Masjid tidak layak sebagai sarana melawan ekstrimisme,” paparnya.

Farhad Afshar, kepala kordinator Organisasi Muslim Swiss mengatakan hasil referendum merupakan hal yang menyakitkan bagi komunitas Muslim Swiss. “Yang menyakitkan bagi kami bukan larangan, namun simbol penolakan dari suara Muslim,” ungkapnya.

Anti-Islam
Bagi pendukung larangan pembangunan menara, hasil referendum merupakan kemenangan terhadap usaha menekan pertumbuhan ideologi dan sistem hukum yang tidak memiliki tempat dalam demokrasi Swiss.

“Pernikahan paksa dan lainnya bukan bagian dari budaya Swiss. Kami tidak ingin itu meluas,” ungkap Ulrich Schlueer, Wakil Presiden Komite Inisiatif Larangan Pembangunan Menara Masjid. Sebabnya, kata dia, tidak ada ruang untuk menara Masjid di Swiss.

Pernyataan Ulrich, yang juga aspirasi mayoritas Swiss, dinilai Presiden Federasi Organisasi Islam Swiss, Taner hatipoglu akan berdampak pada hubungan antara Muslim dan masyarakat Swiss. “Yang saya khawatirkan, jika suasana seperti ini, suara-suara anti Islam kian menguat dan rasa kebencian terhadap Islam semakin meningkat,” tegasnya.

Sekitar 400.000 Muslim tinggal di Swiss, mereka umumnya berasal dari bekas Yugoslavia dan Turki. Meskipun Islam adalah agama terbesar kedua setelah Kristen, hanya ada empat Masjid dengan menara di seluruh Swiss.

Redaktur: Djibril Muhammad
Reporter: Agung Sasongko

Tokoh Kristen Aceh: Pemberlakuan Syariat Islam tak Ganggu Non-Muslim

Selasa, 14 Juni 2011 17:58 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, BANDA ACEH – Para tokoh agama Kristen mengemukakan, pelaksanaan syariat Islam di Provinsi Aceh tidak mengganggu bagi umat nonmuslim, sehingga kerukunan antarumat beragama di daerah itu berjalan dengan baik dan damai.

“Umat Kristen tidak merasakan sesuatu yang berat, karena syariat Islam untuk umat Islam dan kami bisa menghargai apa yang diatur,” kata Ketua Majelis Permusyawaratan Gereja Banda Aceh Pdt Sandino, STh pada diskusi pengembangan wawasan multikultural antara pemuka agama pusat dan daerah di Banda Aceh, Selasa.

Ia menyatakan, meskipun umat kristen tergolong minoritas, tapi tidak terganggu dalam beribadah, karena umat di wilayah itu saling menjaga dan toleransi, sehingga kehidupan masyarakat selalu aman dan damai. “Kami selalu menghargai umat Islam di Aceh, seperti pada saat bulan puasa warga nonmuslim di daerah ini tidak berjualan makanan dan minum pada siang hari di tempat umum,” katanya.

Jadi, kerukunan umat beragama di Aceh sudah sangat baik, sehingga hal ini perlu terus dipertahankan dan dipelihara dalam kehidupan masyarakat, katanya.

Hal senada juga dikemukakan Pastor Sebastianus Eka BS. Ia menilai, pelaksanaan syariat Islam ditekankan untuk umat muslim, sehingga jemaat Katolik sama sekali tidak terganggu. “Kami sangat menghormati syariat Islam di Aceh, terkadang ada umat kristen pakai kerudung sebagai bentuk penghormatan kepada umat Islam,” katanya.

Selain itu, bila tidak mampu memakai kerudung juga disarankan agar berbusana yang sopan, sehingga tidak menyinggung perasaan warga muslim, katanya.

Kepada wanita juga dianjurkan untuk memakai pakaian dan memakai busana di bawah lutut. Apa yang dituju adalah kerukunan dan kedamaian.

Sementara itu, Wakil Ketua Dewan Rohaniwan Presedium Majelis Tinggi Agama Khonghucu Indonesia (Matakin) Xs Djaengrana Ongawijaya menyatakan, dirinya sangat kagum dengan kerukunan antarumat beragama di Aceh yang saling menghormati dalam menjalankan keyakinan.

Dikatakan, perbedaan yang ada agar dikelola secara baik, sehingga tidak menimbulkan konflik, dan ini sudah dilakukan masyarakat di Aceh, sehingga kerukunan antaragama di daerah ini sangat baik.

Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: Antara

Sengketa Lahan, Masjid di Medan di Bongkar

Rabu, 04 Mei 2011 10:59 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, MEDAN– Mesjid Al-Ikhlas di Jalan Timor Medan yang merupakan tempat ibadah bekas markas Detasemen Perhubungan Komando Daerah Militer I Bukit Barisan dibongkar pada Rabu dinihari oleh sekelompok orang.

“Tidak tahu siapa yang membongkar. Informasinya dari Kodim 0201/BS,” kata Ketua II Bidang Data dan Komunikasi Forum Umat Islam (FUI) Sumatera Utara Affan Lubis, Rabu. FUI Sumut merupakan salah satu dari sejumlah organisasi kemasyarakat (Ormas) Islam yang memperjuangkan pembongkaran mesjid tersebut.

Affan mengatakan, rentetan peristiwa pembongkaran Mesjid Al-Ikhlas itu diawali dengan kedatangan sejumlah pria tidak dikenal sekitar pukul 01.00 WIB. Pria-pria itu menangkapi sejumlah pengurus ormas yang menjaga dan tidur di Mesjid Al-Ikhlas dan mengangkatnya ke truk polisi yang disiagakan di depan mesjid tersebut.

Affan Lubis yang baru tiba dari membeli makanan untuk orang-orang yang menjaga mesjid itu ikut diangkat ke truk polisi tersebut dan dibawa ke Mapolresta Medan. “Mereka kuat-kuat. Masing-masing kami dipegang dua atau tiga orang, lalu diangkut dengan truk polisi,” katanya.

Menurut Affan, sedikitnya ada 18 orang yang dibawa ke Mapolresta Medan berikut sepeda motor milik sejumlah pengurus ormas Islam yang berada di mesjid itu. Pihak kepolisian juga menyita seluruh telepon genggam pengurus ormas Islam tersebut sehingga tidak dapat berkomunikasi dengan pihak mana pun, termasuk pers.

Sekitar pukul 04.00 WIB, mereka dilepaskan meski dipersulit untuk mendapatkan kunci sepeda motor masing-masing. Setelah dibebaskan, pihaknya ingin melihat kondisi Mesjid Al-Ikhlas. “Namun kami tidak bisa mendekat karena dijaga ketat,” katanya.

Belum ada keterangan resmi dari Kodam I Bukit Bariasn mengenai upaya pembongkaran Mesjid Al-Ikhlas tersebut.

Namun dalam pertemuan dengan sejumlah ormas Islam di Makodam I Bukit Barisan pada 17 Maret 2011, Asisten Logistik Kasdam Kolonel Arm Broto Guncahyo menjelaskan, Mesjid Al-Ikhlas yang dibangun sejak tahun 1975 merupakan milik Detasemen Hubungan Kodam (Denhubdam) yang markasnya telah berpindah ke kawasan Namurambe, Kabupaten Deli Serdang.

Disebabkan telah beralih ke kawasan Namurambe, bekas areal markas Denhubdam yang berada di Jalan Timor itu diruislag ke PT Gandareksa Mulya dengan opsi pengosongan lahan untuk menjadi lokasi pembangunan.

Proses ruislag itu telah mendapatkan persetujuan dari Kementerian Pertahanan, Mabes TNI, Mabes TNI-AD dan Kementerian Keuangan.

Disebabkan adanya opasi pengosongan lahan itu, pihaknya bermaksud membongkar Mesjid Al-Ikhlas yang merupakan milik Denhubdam dan berada di areal tersebut. Sebagai gantinya, PT Ganda reksa Mulya telah membangun musholla baru di Markas Denhubdam yang baru di kawasan Namurembe agar pembinaan mental prajurit tetap dapat dilakukan.

Redaktur: Stevy Maradona
Muslim Italia

TERKAIT :

Uskup Italia Dukung Muslim Bangun Masjid di Milan

Jumat, 27 Mei 2011 05:00 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, Kelompok Muslim terbesar di Italia telah mengirim surat kepada Konferensi Uskup Italia untuk mendukung organisasi mereka terkait proyek pembangunan Masjid di Milan, kota yang merupakan pusat industri bisnis konservatif. Rencana pembangunan masjid telah isu politis di Milan, dimana partai konservatif telah menguasai kota tersebut selama dua dekade.

Walikota Milan Letizia Moratti, mantan menteri pendidikan nasional dari partai berkuasa (Partai Rakyat Kebebasan) mengatakan dirinya menentang rencana pembangunan oleh komunitas imigram Muslim tersebut. Rencana pembangunan Masjid di ibukota finansial Italia itu, menurut dia, akan menjadikan Milan sebagai pusat aktivitas Muslim di seluruh Italia, yang kemungkinan bakal tidak terkendali.

Namun, Kepala Konferensi Uskup Italia, Angelo Bagnasco telah memberikan dukungannya terkait pembangunan masjid. Dalam suratnya kepada Bagnasco, Kamunitas Muslim mengatakan, “Kami sangat lega dan bersyukur atas pernyataan pejabat senior Konferensi Uskup Italia yang mendukung rencana pembangunan masjid untuk Muslim, hal itu telah menjadi isu politik yang panas.”

Berbicara kepada para wartawan pada Selasa (24/5) selama sidang umum Konferensi Uskup Italia (CEI) di Vatikan, Sekretaris Jenderal CEI Mariano Crociata menegaskan bahwa Gereja Katolik mendukung “hak kebebasan untuk beribadah dan tempat ibadah sebagai pelaksanaan hak-hak dasar.”

“Kita harus mempertimbangkan kebutuhan sosial masyarakat kita, sesuai dengan konstitusi Italia,” kata Crociata menegaskan.

Redaktur: Djibril Muhammad
Sumber: en.islamtoday.net

ISRAEL LARANG ADZAN DENGAN PENGERAS SUARA

Rabu, 18 Mei 2011 19:12 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,YERUSALEM–Knesset Israel dalam waktu dekat dijadwalkan membahas RUU yang melarang adzan di masjid-masjid menggunakan pengeras suara, dengan ancaman denda uang sampai hukuman penjara.

Anggota Knesset Israel, Anastasia Michaeli, menyatakan, ia telah mengajukan RUU kepada Knesset yang melarang masjid-masjid menggunakan pengeras suara dengan tujuan melarang adzan di masjid-masjid kaum muslimin.

Ia menambahkan, sanksi yang diusulkan bagi mereka yang melanggar adalah denda uang yang besar, bahkan sampai hukuman penjara. Ia mengklaim bahwa “ratusan ribu warga Israel terganggu setiap harinya mendengar suara adzan”!.

Menurut catatan, Israel melarang kumandang adzan di masjid Ibrahimi selama Februari lalu sebanyak 44 waktu dengan alasan yang tidak masuk akal.

Pada April lalu Israel telah meminta agar suara adzan di masjid-masjid Yerusalem dipelankan, dengan dalih mengganggu kaum pemukim pendatang Zionis Israel.

Nah Lho…Larangan Burka di Prancis Bikin Polisi Serba Salah

Senin, 11 April 2011 17:52 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS – Larangan mengenakan burka resmi diberlakukan di Prancis. Namun, aparat kepolisian negara itu — terutama yang bertugas di lapangan — mengaku gamang dengan aturan baru itu. “Hukum akan sangat sulit untuk diterapkan,” kata Patrice Ribeiro, Ketua Korp Polisi Synergie.

Menurutnya, aturan itu hanya berlaku bagi warga negara Prancis, atau mereka yang tinggal permanen di negeri itu. Namun, akan sulit membedakan mana yang permanen dan bukan. Di sisi lain, turis kaya dari Arab — umumnya datang dengan mengenakan burka — tak bisa dianggap remeh, karena mereka juga membawa devisa masuk ke negara itu.

Para pelanggar larangan burka akan dikenai denda 150 euro. Tetapi polisi mengakui bahwa mereka takut dituduh diskriminasi terhadap Muslim dengan aturan ini.  Belum lagi, katanya, jika mereka salah tangkap: ternyata turis Arab yang digelandang. “Ini akan menjadi problem ketika seorang polisi menangkap seorang Saudi berjilbab yang hendak pergi ke Louis Vuitton di Champs-Elysees. Dalam semua kasus, semua tindakan harus diukur dan berhati-hati,” tambahnya.

Synergie sudah menginstruksikan anggotanya untuk melihat larangan sebagai “prioritas rendah”, dan Ribeiro mengatakan langkah penertiban “pasti menjadi insiden”.

Mohamed Douhane,  petugas polisi yang juga seorang Muslim menyatakan aturan itu bak “provokasi yang diharapkan oleh minoritas.”

Dalam aturan larangan cadar, polisi Prancis merupakan ujung tombak pelaksana. Namun mereka  diperingatkan untuk tidak menangkap perempuan di dalam atau di sekitar mesjid, dan warga negara yang sudah secara sukarela membuka cadarnya setelah diperingatkan.

Instruksi ketat dari Menteri Dalam Negeri Claude Guent, yang terkandung dalam memo sembilan halaman dibuat khusus sebagai juklak bagi petugas.

Polisi juga mengeluhkan bahwa mereka harus membuang waktu untuk mengejar pelanggar burka. “Banyak hal-hal produktif yang bisa kita lakukan ketimbang membuang waktu berurusan dengan hal itu,” kata Denis Yakub dari serikat polisi Alliance.

Prancis adalah negara kedua di Eropa, setelah Belgia, yang memperkenalkan larangan penuh pada pakaian yang oleh menteri imigrasi Eric Besson disebut sebagai “peti mati berjalan”.

Redaktur: Siwi Tri Puji B
Sumber: Telegraph

Sudah Tiga Tahun, ‘Kota Muslim’ di Belgia Larang Jilbab

Sabtu, 27 Maret 2010 05:09 WIB

ANTWERPEN–Kalau kota Almere dan Den Haag di Belanda baru akan mengeluarkan larangan penggunaan jilbab karena partainya Geert Wilders menang pilkada di sana, kota Antwerpen di provinsi Flandria, Belgia, sudah tiga tahun ini melarang penggunaan jilbab. Warga setempat, seperti ditulis harian De Pers, dilarang mengenakan busana Muslim tersebut di instansi-instansi umum dan pemerintah.

Antwerpen adalah kota berpenduduk Muslim terbesar di provinsi Flandria. Berbeda dengan di Belanda, di sana ide pelarangan ini bukan datang dari partai kanan, tapi partai kiri: Partai Sosialis. Mereka yang pro pelarangan jilbab mengatakan ingin menjunjung kebebasan memilih. Muslima remaja ditekan oleh budaya dan orang tua untuk keluar rumah menggunakan jilbab. Mereka beranggapan seharusnya para remaja putri itulah yang memilih sendiri apa yang mereka ingin kenakan.

Selama tiga tahun ini apa yang berubah di Antwerpen? Beberapa anak perempuan akhirnya bersekolah di luar kota Antwerpen yang tidak ada larangan jilbab. Beberapa lagi dipaksa harus sekolah di rumah, tidak boleh keluar. Namun sebagian besar tetap pergi ke sekolah dengan jilbab lalu di dalam sekolah buka jilbab. Sepertinya Antwerpen tidak terlalu ribut mengatasi pelarangan ini, walau diskusi mengenai hal ini masih sensitif dibicarakan.

Redaktur: irf
Sumber: radio netherlands

Persatuan Dokter Belanda Serukan Larangan Sunat pada Anak Laki-laki

oleh Gerakan Membendung Sipilis (Sekularisme,Pluralisme,Liberalisme) pada 06 Juni 2010 jam 7:16

Sabtu, 29/05/2010Satu lagi pernyataan kontroversi dan sedikit sentimen agama terjadi.Organisasi medis terbesar di Belanda KNMG telah memberikan ‘nasehat’ kepada dokter-dokter Belanda agar mulai sekarang untuk tidak menganjurkan sunat. Seruan nyeleneh organisasi medis Belanda tersebut tidak urung ditanggapi secara negatif oleh umat muslim dan Yahudi di Belanda.Persatuan dokter-dokter Belanda KNMG sebenarnya ingin melarang sunat untuk anak laki-laki. Tetapi karena cemas tindakan medis ini akan dilakukan secara ilegal, maka mereka membatalkan larangan tersebut.Ada sekitar 46.000 dokter dan calon dokter yang menjadi anggota KNMG. Mereka menyatakan sunat tanpa alasan medik sebagai ‘perusakan integritas badan anak itu sendiri’. Selain itu mereka juga menekankan, adanya risiko-risiko yang tidak perlu.

Tetapi para dokter ini juga ingin mempertimbangkan faktor budaya dan agama, dari para orang tua yang meminta agar anaknya disunat. Karena itu para dokter, orang tua dan pemuka agama harus berdiskusi.

Rasit bal, Ketua Persatuan Komunikasi Masyarakat Muslim dan Pemerintah mengatakan, sangat terkejut akan keputusan yang diambil persatuan dokter Belanda tersebut:

“Memang kelihatannya semakin sulit di Belanda untuk menjalankan identitas agama seseorang di depan umum, dan orang dipersulit dengan cara tersebut. Ini juga salah satu contoh bagaimana orang beragama dipersulit dalam menjalankan ibadah mereka,” kata Rasil Bat.

Di Belanda setiap tahunnya ada sekitar 10.000 hingga 15.000 anak laki-laki yang disunat, terutama dari lingkungan umat muslim dan Yahudi. Dari jumlah itu ada sekitar 80 anak laki-laki yahudi, demikian kata Rabbi Raphael Evers. Jadi tidak ada desakan kelompok dalam mengambil keputusan untuk melakukan sunat. hampir semua adalah keputusan sang orang tua sendiri, kata Evers. Risiko medis dianggap tidak pada tempatnya, karena menurutnya anak yang disunat justru bisa lebih sehat.

Raphael Evers menyatakan: “Sudah lama memang, sebagain orang mengganggap sunat sebagai sesuatu yang berbahaya untuk kesehatan. Dan itu tidak terbukti sama sekali. Secara pribadi saya banyak mencari informasi sehubungan masalah psikis maupun jasmani, dan saya tidak pernah mendengarnya.”

Naiknya angka anak laki-laki yang disunat beberapa tahun terakhir di Belanda, hampir tidak pernah menjadi bahan diskusi. Berlainan dengan sunat anak perempuan yang biasanya dilakukan keluarga imigran keturunan Afrika. Sunat perempuan, yang biasanya pemotongan bibir kemaluan perempuan atau labila, dilarang dan dipandang sebagai pencacatan alat kelamin.

Tetapi sekarang para dokter juga mendiskusikan secara kritis sunat anak laki-laki. Dengan mendasarkan pada hak-hak anak, para dokter diminta untuk tidak menganjurkan sunat. Mereka harus menekankan bahayanya, demikian Gert van Dick, pakar etis persatuan dokter Belanda KNMG:

“Yang kami minta kepada para para dokter, bahwa mereka secara jelas menekankan risiko dari operasi tersebut, bahwa sebenarnya tidak perlu. Kami secara teratur menerima pasien yang mengalami komplikasi medis setelah sunat. Dengan cara ini kami harapkan ada perubahan budaya dari para orang tua, dan suatu saat tidak melakukannya lagi.”

Di seluruh dunia sekitar satu dari enam laki-laki di sunat. Dan mereka tidak hanya umat muslim atau Yahudi. Juga di Amerika Serikat sunat merupakan suatu hal yang biasa. Di Belanda dan di banyak negara Eropa lainnya, sedikit sekali laki-laki kulit putih yang disunat.

Dokter-dokter di Belanda yang bodoh atau 1,5 milyar umat Islam yang telah melakoni ibadah ini selama 15 abad yang kurang gaul? Faktanya di negara-negara mayoritas muslim bisa dibilang tidak pernah ada kasus besar terkait seorang anak yang di sunat.(www.eramuslim.com)

Suka · Komentari · Bagikan

   

Walah...Gara-gara Dukung Palestina, Facebook Tutup Akun Marcelo Junior

Marcelo

TERKAIT :

Walah…Gara-gara Dukung Palestina, Facebook Tutup Akun Marcelo Junior

Jumat, 20 Mei 2011 20:39 WIB

REPUBLIKA.CO.ID,MADRID–Situs jejaring sosial Facebook menutup halaman akun resmi milik pesepak bola dunia Marcelo Da Silva Junior bek kiri Real Madrid Spanyol. Pasalnya, beberapa hari lalu pemain asal Brazil ini menyatakan dukungannya kepada Palestina dan mengkritik kekerasan yang dilakukan Israel terhadap bocah-bocah Palestina.

Sebelumnya Macelo menulis dalam halaman akun resminya di Facebook bahwa dirinya simpati kepada Palestina dan anti kekerasan. Dirinya berharap kekerasan atas Palestina yang dilakukan penjajah zionis Israel dihentikan.

Marcelo juga berhadap akan diwujudkan perdamaian di seluruh dunia. Beberapa hari setelah itu pihak Facebook menutup secara mendadak halaman akun sang pemain tanpa menyampaikan penyebabnya yang jelas.

Facebook sebagai jejaring dunia maya terbesar dunia beberapa saat sebelumnya menutup halaman berbahasa Arab atas nama Intifada 3 pada 29 Maret lalu. Beberapa saat kemudian Facebook menjelaskan bahwa halaman itu menyerukan kepada tindakan kekerasan terhadap Israel dan menuntut pembebasan Palestina, hal ini dilarang dalam halaman Facebook, tegasnya.

Diskusi

2 thoughts on “Toleransi

  1. thanks

    Posted by 3setiyanto | Maret 21, 2013, 7:04 pm
  2. You are so interesting! I don’t suppose I have read through something like this before. So wonderful to discover another person with some genuine thoughts on this topic. Really.. many thanks for starting this up. This site is something that is needed on the web, someone with a bit of originality!

    Posted by Michael Kors Factory Outlet | Maret 21, 2013, 10:10 am

tinggalkan pesan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog Stats

  • 475,147 hits

my facebook

terbanyak dibaca

%d blogger menyukai ini: